Selasa, 12 April 2016

Jangan Buru-Buru Membuang Benda tak Terpakai Disekitarmu

Jangan terlalu terburu-buru membuang benda-benda tidak terpakai disekitarmu. Siapa tau dapat memperindah ruangmu biar tidak sepi, atau kesepian. Hahaha. Pada dasarnya barang-barang bekas masih dapat dimanfaatkan. Sia-sia kan kalau hanya dibuang begitu saja. Mubazir. Pasti kan disekitarmu banyak barang tak terpakai, entah kardus kue, kardus sepatu, cangkang telur, sak semen, aneka botol bekas, dan masih banyak lagi. Eman kalau orang jawa bilang.
Kali ini aku akan sharing barang bekas apa saja yang berhasil aku manfaatkan. Hehehe
1. Bunga
Kamu habis dikasih bouquet bunga dari pacar? Mantan? Calon pacar? Ketika sudah kering jangan buru-buru dibuang, sayang masih bisa dimanfaatin lho. Nanti bisa buat memperindah koleksi barang bekasmu.
2. Cangkang telur
Duh bunda habis goreng telur bebek atau telur ayam? Jangan buru-buru dibuang yaa bunda siapa tau bisa jadi pundi-pundi duwit, lumayan bisa buat nambah jajan anak.

3. Bungkus bekas semen
Habis bangun rumah jangan keburu dikasih kepemulung, masih bisa dipakai lho bunda.

4. Kaleng cat
Wah banyak kaleng cat bekas yaa? Habis ganti suasana rumah dengan cat warna baru? Jangan dibuang gitu dong kaleng catnya kan bisa buat pot, atau wadah pernak-pernik.

5. Botol bekas
Tadi habis minum apa hayoo? Kok dibuang gitu aja, sayang lho kalau gak dimanfaatin.
6. Roda tak terpakai
Punya roda bekas kok dikasih kepemulung, yaa mending dipakai sendiri buat nambah hiasan rumah atau kamar.

7. Kardus bekas
Hay teman habis dikasih kue? Terus ada kardusnya jangan dibuang yaa bisa dikasih kan ke aku lho nanti aku buatin hiasan deh. Hehehe

8. Ranting Pohon
Ranting pohon, dapat kamu manfaatkan untuk cantelan gelang, hiasan dinding, dll.


9. Dan masih banyak lagi sebenarnya yang dapat dimanfaatin disekitarmu.

Mimpi yang Terpotong

Dia pun dapat tertidur dengan pulas. Setelah berulang kali mencoba memejamkan mata. Guling pun sudah berada dalam pelukannya. Tetap saja sulit untuk pejam. Entah apa yang sedang dia pikirkan hingga tak dapat ia menutup mata dengan layak.
Mengimpikan tentang bahagia ketika bersamanya. Membayangkan saat-saat menuliskan puisi dihadapannya. Lalu dia membacakan. Dia pun mendengarkan dengan seksama. Tidak lupa bumbu pujian yang membuat orang lain iri. “Puisi yang kau buat sungguh membuatku tak ingin pergi darimu”. Kata-kata itu selalu terngiang dalam benakku. Pipi yang selalu merah merona ketika tersipu malu. Lihat sinar mata yang terpancarkan bahagia.
Tiba-tiba badan terasa dingin. Terasa seperti air yang membahasahi badan. Lalu dia pun terbangun dari tidur yang hanya sekejap. Memotong mimpi-mimpi yang sedang datang seperti bunga yang sedang mekar. Sial, atap bocor. Jadi tadi ternyata hanya mimpi.

Pedulikah ?

Akhir-akhir ini marak berita tentang eksploitasi anak. Pagi itu perjalanan berangkat ke kampus. Di perempatan lampu merah aku masih melihat seorang ibu yang menggendong anak kecil yang sedang tidur. Terlihat jelas kalau ibu itu sedang mengemis. Sudah lama aku tidak melihat pengemis yang melibatkan anak kecil seperti itu. Pengemis yang biasanya banyak diperempatan jalan pun sudah jarang ku temui. Aku kira sudah di berdayakan oleh dinas sosial. Timbul pertanyaan apakah anak kecil itu memang anaknya sendiri atau seperti yang di berita “sewaan”.
Aku ingat dalam berita kalau anak kecil atau bayi yang digendong sedang tertidur ada yang diberi obat tidur agar tidak rewel. Sebab setiap kali melihatnya anak selalu tertidur dengan pulas. Kasihan sekali anak itu. Ternyata pemakaian obat tidur itu tidak sesuai dengan takaran apalagi anjuran dokter. Dan bisa-bisa pemakaian obat itu dilakukan setiap hari. Betapa kasihannya anak kecil itu terkena dampak bagi kesehatannya yang kemudian akan berdampak pada pertumbuhan anak.

Rabu, 06 April 2016

Pesan Tidak Diterima

Setelah satu bulan di ODOP lama-lama kehilangan ide dan mala banyak utang huu syedih. Tapi ini pemanasan biar aku lebih tertantang. hehee (hihi curhat-curhat).

Klunting-klunting. Ehh sepertinya ada bbm. Langsung kutengok lah hpnya. Sambil melihat recent update dari temen-temen. Ada seorang temen yang memasang display picture sama temen ceweknya. Penasaran. Mungkin pacarnya.

“Wihii..” ku mulai percakapannya.

“Tumben nge-chat” sambung temen dari seberang pulau.

“Pacar baru ciyee pacar baru”

“Udah 4 tahun yaa”

Gubrakk. Disitu aku merasa kaget. Kalau diingat-ingat dulu pas main sama Mas Adit belum ada 4 tahun. Kalau dipikir-pikir apa mungkin dia selingkuh. Hahahahaa

Tanpa berpikir panjang langsung ku tanyakan saja. Ternyata dia balikan sama mantannya. Owalahh.

“Lha dulu adek gak mau, yaudah balikan aja. Selama masih bisa diperbaiki kenapa enggak”.

Lhoh kok jawabnya gitu, kayak cuma buat pelarian aja.

Pesannya adalah kalau memang belum siap buat pacaran yaudah jangan dipaksain buat dapet pacar. Toh belum tentu baik kedepannya juga. Atau mending mala taaruf aja. Hehe.

Senin, 04 April 2016

Malioboro Steril dari Kendaraan


Sekitar beberapa bulan lalu saya mendengar kabar kawasan Malioboro akan ditata ulang. Dimulai dari dibangunnya tempat parkir di Ngabean (sebelah barat nol km). Selain itu juga di nol Kilometer juga ikut di perbaiki. Penataan kawasan Malioboro dilakukan dengan bertahap. Pembangunan lahan parkir portable juga dibangun di Abu Bakar Ali (sebelah utara Malioboro). Dengan dibangunnya Tempat Parkir Portable Abu Bakar Ali maka kawasan Malioboro akan steril dari kendaraan. Biasanya tempat parkir pengunjung terletak di sisi timur sepanjang jalan Malioboro.

Sekitar tanggal 4 April kawasan Malioboro sudah mulai dilaksanakan pensterillan kendaraan parkir. Polisi dan keamanan ikut serta dalam menjaga keamanan. Tentunya ada pro kontra dalam penataan ulang Malioboro. Banyak tukang parkir yang tidak setuju dengan kebijakan tersebut. Sebagai jalan tengah, maka pemda membuat kebijakan tentang shift bagi tukang parkir di Abu bakar Ali dan Ngabean.

Aku setuju dengan dilakukannya penataan kawasan Maliboro biar terlihat rapi, bersih dan menarik. Semoga dengan begitu akan menambah lagi wisatawan yang datang ke Jogja. Dan harapanku semoga di bangun juga taman kota yang hijau, rindang dan teduh. Sampai bertemu di Jogja. 

Minggu, 03 April 2016

Aku Bawakan Sedikit Buah Tangan


Setelah beberapa saat lalu aku ikut seminar di salah satu kampus di Jogja yang benar-benar mengubah mindset ku. Saat itu tema yang sedang dibahas tentang perempuan sebagai salah satu acara untuk memperingati hari perempuan dunia. Saat itu banyak LSM, Universitas dan lembaga terkait memperingati hari perempuan. Salah satu bentuk peringatan tersebut dengan mengadakan seminar. Tentunya kegiatan positif seperti itu sangat diapresiasi banyak pihak tidak hanya kaum perempuan saja, kaum pria pun ikut andil di dalamnya.

Begitu juga dengan aku yang berpartisipasi di dalamnya. Dalam seminar tersebut mengangkat tema “Dilema Prostitusi: Implikasi Sosial dan Pro Kontra”. Menarik memang, membahas tentang perempuan itu tidak ada habisnya. Ada beberapa poin yang dapat saya tangkap dalam seminar tersebut. Biasanya dalam hal prostitusi perempuan adalah orang yang pertama kali dipojokkan sebagai gambaran kegagalan dalam satu masyarakat. Sekarang mesti yang dikriminalisasikan dari perempuannya saja, bagaimana dari segi pembelinya? Menurut Suzie Handayani seorang dosen dan pakar gender, kegiatan prostitusi ini digambarkan sebagai indikator ketidakadilan sosial. Kesadaran masyarakat akan dampak dari prostitusi saja masih kurang, kata Hendrianto Primarendra seorang aktivis sosial.

Menurut saya, saya setuju dengan pendapat yang dikemukakan oleh ibu Suzie, mungkin kadang terlalu enggan memikirkan nasib orang lain, terlalu egois dengan diri sendiri hingga kita lupa akan ketimpangan di luar sana yang membutuhkan kepedulian kita. Sehingga mereka terjerumus dalam lubang hitam.

Jumat, 01 April 2016

Detik-Detik Terakhir?

Pagi itu mentari menyapaku dengan semringah. Aku pun memanfaatkan waktuku denga baik. Lagipula sedang libur. Sudah aku rencanakan waktu liburku untuk membersihkan akuarium, membereskan kamar, mencuci, dan membantu ibu mencabuti rumput taman.

“Dek sarapan dulu yuk,” ajak ibu setelah selesai menyapu halaman.

“Pakai apa?” sahutku.

“Ada lauk yang ibu simpan di kulkas, di goreng lagi, sama ada sayur tadi pagi ibu sudah beli di pasar. Ibu mau mandi dulu.”

“Ya bu.” Sambil berjalan menuju dapur.

Tiba-tiba ibu menyusul ke dapur. Dengan raut muka seperti akan menangis.

“Dek, kamu gak ngerasain detik-detik terakhir?”

“Ha, detik-detik terakhir apa?” sahutku dengan penasaran.

“Detik-detik ditinggal kakakmu ke Bali nanti. Kemarin ibu tanya cerita sama kakakmu, besok baju-bajunya juga mau di bawa ke Bali, dimasukin tas, lalu kamar kakakmu sepi.” Cerita ibu sambil mbrebes mili (mau menangis).

Kemudian, aku menjawabnya dengan kata tidak. Maksudnya meskipun akan ditinggal kakak menikah kemudian ikut suaminya ke Bali aku merasa biasa saja. Mungkin tidak sampai 2 bulan kakakku akan menikah. Jarak Jogja-Bali lumayan jauh. Apalagi katanya Bali yang deket dengan Lombok.

“Gimana kamu itu, gak ada rasa kasih sayangnya sama kakakmu sendiri.” Ungkap ibu sambil balik arah mengambil handuk.

Sambil mengupas bawang putih, aku termenung. Apa iya aku tidak punya kasih sayang pada kakakku, mungkin aku akan merasa kehilangan kalau kakakku sudah tidak di rumah lagi. Mungkin merasa kehilangan karena tidak ada yang diajak berantem selain sama adekku, dan tidak ada lagi yang bisa diajak tukeran baju. Heheehee.