Sampah mudah ditemui sehari-hari di sekitar lingkungan. Sampah sangat dekat dengan kehidupan manusia. Setiap harinya manusia pasti menghasilkan sampah. Setiap hari sampah yang dihasilkan manusia semakin bertambah, yang akhirnya akan berdampak menimbulkan masalah pada lingkungan. Diantaranya, pencemaran udara, air, tanah, sumber penyakit, penyumbatan aliran air, hingga mengganggu ekosistem air. Apalagi sekarang masalah sampah tidak hanya timbul di kota-kota besar, namun sampai pelosok desa sudah menjadi permasalahan. Kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah masih kurang. Membuang sampah pada tempatnya saja masih sulit.
Sebenarnya apa sih sampah itu? Barang dagangan, makanan atau apa? Menurut KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia, sampah ialah barang atau benda atau limbah yang dibuang karena sudah tidak terpakai lagi.
Sampah apabila dikelola dengan baik akan bermanfaat bagi kita. Namun jika dibiarkan, apalagi dibuang sembarangan akan menyebabkan kerugian bagi pemiliknya bahkan orang lain. Salah satu akibatnya ialah sebagai sumber penyakit. Sampah bisa berupa dedaunan yang jatuh berguguran, hati yang terbuang (eebusyeett alay dah gue). Maka untuk mengetahui lebih jelasnya, sampah ini dapat dikategorikan menjadi 2 macam, yaitu sampah organik dan sampah anorganik.
A. Sampah Organik
Sampah organik ialah limbah yang dihasilkan dari sisa makhluk hidup (alam) misalna hewan, manusia, tumbuhan. Sampah organik termasuk sampah yang ramah lingkungan karena dapat diurai oleh bakteri secara alami dan berlangsung cepat. Misalnya sampah daun, kayu, cangkang telur, bangkai hewan, bangkai tumbuhan, sisa makanan, dll.
B. Sampah Anorganik
Sampah anorganik ialah limbah yang berasal dari sisa manusia yang sulit untuk diurai oleh bakteri, yang membutuhkan waktu lama agar dapat terurai.
Misalnya limbah rumah tangga, plastik, botol kaleng, botol plastik, besi, kaca, kain dll.
Setelah dipaparkan sedikit tentang sampah, terus bagaimana sih cara mengatasinya? Yaa pasti harus mengurangi sampah. Sampah yang sekiranya dapat dimanfaatkan kembali harus dimanfaatkan. Cara efektifnya ialah dengan 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Replace).
A. Reduce (Mengurangi)
Reduce ialah salah satu langkah untuk meminimalisir sampah dengan cara “mengurangi”. Langkah ini dilakukan dengan cara membawa googdiebag saat berbelanja, membawa botol minum sendiri, membawa bekal makanan, tidak membiasakan jajan sembarangan yang menyebabkan banyak plastic terbuang dll.
B. Reuse (Menggunakan Kembali)
Reuse ialah menggunakan kembali benda atau barang yang masih dapat dimanfaatkan, atau dengan kata lain jangan langsung dibuang. Manfaatkan!! Misalnya dengan menggunakan kembali kardus-kardus bekas pakai, memanfaatkan kembali baju-baju yang sudah tidak terpakai, membuat handycraft dari benda-benda disekitar dll.
C. Recycle (Mendaur Ulang)
Recycle ialah mendaur ulang sampah baik anorganik maupun organic. Sampah yang lebih mudah didaur ulang sendiri ialah sampah organic. Misalnya membuat pupuk kompos sendiri menggunakan daun-daun kering, sisa-sisa makanan, dll.
D. Replace (Mengganti)
Yang terakhir ialah replace yaitu mengganti. Maksudnya ialah mengganti benda-benda di sekitar kita dengan benda yang lebih ramah lingkungan. Misalnya membawa bekal makanan dengan kotak makan yang dapat digunakan berkali-kali, bukan menggunakan Styrofoam, kertas minyak maupun plastik. Membawa bekal minum sendiri yang dapat dipakai berulang-ulang. Mengganti plastik saat belanja menggunakan tas belanja.
Sedikit pemaparan tentang pengertian sampah di atas kemudian saa akan berbagi tentang cara-cara memanfaatkan benda di sekitar kita. Simak yaa.
• Hiasan Botol Bekas
Alat dan Bahan:
1. Botol bekas
2. Cat (warna bebas)
3. Kuas
4. Lem tembak
Cara membuat:
1. Bersihkan terlebih dahulu botol kaca yang akan digunakan. Jangan sampai basah.
2. Panaskan lem tembak. Jika lem sudah panas, lalu buatlah tulisan di permukaan botol.
3. Kemudian tunggu sampai kering.
4. Selanjutnya warnai permukaan botol dengan menggunakan cat lalu keringkan.
5. Botol tersebut nantinya dapat dimanfaatkan untuk hiasan ruangan dan dapat pula sebagai vas bunga. Menarik bukan.
6. Selamat mencoba.
• Gantungan Jilbab
Alat dan Bahan:
1. Ranting pohon
2. Tali tampar/ talli pramuka
3. Gergaji
4. Paku
5. Palu
6. Gunting
Cara membuat:
1. Siapkan ranting pohon yang ukuranya sama panjang serta sama besarnya. Potong menggunakan gergaji. Rapikan.
2. Apabila sudah rapi ambil satu ranting, lalu ikat masing-masing ujungnya pada ujung yang lain agar bertingkat. Bisa tiga sampai empat batang ranting.
3. Setelah itu ikatkan pada tembok yang sudah diberi paku. Pastikan paku kuat untuk menahan beban.
• Apabila ingin terlihat lucu, ranting bisa diaplikasikan dengan cat warna-warni maupun pernis.
Sabtu, 15 Oktober 2016
Sabtu, 17 September 2016
Aquascape Sederhana
Bagi orang seperti saya yang belum mempunyai kebiasaan menulis setiap hari memang sulit. Sulit untuk membiasakan menulis. Paling juga menulis sms, whatsapp, bbm dan sejenisnya. Atau mungkin hanya beberapa kalimat saja di tumblr atau twitter. Menulis panjang lebar kali tinggi sangat sulit sekali. Apalagi kalau ada temanya. Harus menulis ini itu, dan ditentukan jumlah halamannya. Mungkin kesalahannya ada pada amunisi yang akan ditulis. “Mau nulis apa?” batinku. “Udah menthok, mau gimana lagi”. Nulis ngawur aja juga bingung. Sebenarnya lagi bingung, kepikiran antara dadakan ganti judul + bikin proposal skripsi sama bikin naskah 10 halaman di KMO, oh ada lagi sama bikin laporan individu KKN. Omegott. Mala bingung gimana caranya ngerjain.
Oh yaa jadi inget sebelum KKN 1 bulan kemarin, aku punya target setelah kkn mau bikin aquascape buat nambah-nambah hiasan di kamar. Kan seneng tuh kalau ada warna ijo-ijo di kamar. Seger gitu rasanya. Aku mau berbagi cerita tentang aquascape yang aku bikin, sederhana saja tanpa CO2. Jadi, tanamannya pun yang rendah membutuhkan CO2. Bahannya yaitu:
1. Akuarium ukuran 60x40x30 cm
2. Pasir malang 2 wadah
3. Pasir putih 2 wadah kecil
4. Batu 4 buah
5. Pupuk dasar 2 bungkus
6. Kayu bakau 1 batang
7. Carpet seeds 1 wadah kecil
Langkah-langkahnya
1. Letakkan kayu bakau pada akuarium
2. Taburkan pupuk dasar, diratakan
3. Kemudian di atas pupuk dasar ratakan pasir malang
4. Lalu diatasnya lagi taburkan benih carpet seeds secara merata
5. Semprot-semprot air setiap sehari dua kali
6. Setelah semua benih tumbuh daun (sekitar 4 hari), masukkan air perlahan agar tidak merusak tanaman yang udah tumbuh
7. Jadilah
8. Tinggal dikasih ikan untuk mempercantik aquascape.
Jadinya seperti ini. Taraaaaaa…….
Oh yaa jadi inget sebelum KKN 1 bulan kemarin, aku punya target setelah kkn mau bikin aquascape buat nambah-nambah hiasan di kamar. Kan seneng tuh kalau ada warna ijo-ijo di kamar. Seger gitu rasanya. Aku mau berbagi cerita tentang aquascape yang aku bikin, sederhana saja tanpa CO2. Jadi, tanamannya pun yang rendah membutuhkan CO2. Bahannya yaitu:
1. Akuarium ukuran 60x40x30 cm
2. Pasir malang 2 wadah
3. Pasir putih 2 wadah kecil
4. Batu 4 buah
5. Pupuk dasar 2 bungkus
6. Kayu bakau 1 batang
7. Carpet seeds 1 wadah kecil
Langkah-langkahnya
1. Letakkan kayu bakau pada akuarium
2. Taburkan pupuk dasar, diratakan
3. Kemudian di atas pupuk dasar ratakan pasir malang
4. Lalu diatasnya lagi taburkan benih carpet seeds secara merata
5. Semprot-semprot air setiap sehari dua kali
6. Setelah semua benih tumbuh daun (sekitar 4 hari), masukkan air perlahan agar tidak merusak tanaman yang udah tumbuh
7. Jadilah
8. Tinggal dikasih ikan untuk mempercantik aquascape.
Jadinya seperti ini. Taraaaaaa…….
Sabtu, 10 September 2016
Ayo Sulap Sampahmu
Bismillah ...
Sampah mudah ditemui sehari-hari di sekitar lingkungan. Sampah sangat dekat dengan kehidupan manusia. Setiap harinya manusia pasti menghasilkan sampah. Setiap hari sampah yang dihasilkan manusia semakin bertambah, yang akhirnya akan berdampak menimbulkan masalah pada lingkungan. Diantaranya, pencemaran udara, air, tanah, sumber penyakit, penyumbatan aliran air, hingga mengganggu ekosistem air. Apalagi sekarang masalah sampah tidak hanya timbul di kota-kota besar, namun sampai pelosok desa pun sampah sudah menjadi permasalahan. Kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah masih kurang. Membuang sampah pada tempatnya saja masih sulit.
Sebenarnya apa sih sampah itu? Barang dagangan, makanan atau apa? Menurut KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia, sampah ialah barang atau benda atau limbah yang dibuang karena sudah tidak terpakai lagi.
Sampah apabila dikelola dengan baik akan bermanfaat bagi kita. Namun jika dibiarkan, apalagi dibuang sembarangan akan menyebabkan kerugian bagi pemiliknya bahkan orang lain. Dampak buruk dari sampah jika tidak dikelola dengan baik salah satunya sebagai sumber penyakit. Sampah bisa berupa dedaunan yang jatuh berguguran, hati yang terbuang (eebusyeett alay dah gue). Mending untuk mengetahui lebih jelasnya, sampah ini dapat dikategorikan 2 macam, yaitu sampah organik dan sampah anorganik.
A. Sampah Organik
Sampah organik ialah limbah yang dihasilkan dari sisa makhluk hidup (alam) misalna hewan, manusia, tumbuhan. Sampah organik termasuk sampah yang ramah lingkungan karena dapat diurai oleh bakteri secara alami dan berlangsung cepat. Misalnya sampah daun, kayu, cangkang telur, bangkai hewan, bangkai tumbuhan, sisa makanan, dll.
B. Sampah Anorganik
Sampah anorganik ialah limbah yang berasal dari sisa manusia yang sulit untuk diurai oleh bakteri, yang membutuhkan waktu lama agar dapat terurai. Misalnya limbah rumah tangga, plastik, botol kaleng, botol plastik, besi, kaca, kain dll.
Setelah dipaparkan sedikit tentang sampah, terus bagaimana sih cara mengatasinya? Yaa pasti harus mengurangi sampah. Sampah yang sekiranya dapat dimanfaatkan kembali harus dimanfaatkan. Cara efektifnya ialah dengan 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Replace).
A. Reduce (Mengurangi)
B. Reuse (Menggunakan Kembali)
C. Recycle (Mendaur Ulang)
D. Replace (Mengganti)
Sampah mudah ditemui sehari-hari di sekitar lingkungan. Sampah sangat dekat dengan kehidupan manusia. Setiap harinya manusia pasti menghasilkan sampah. Setiap hari sampah yang dihasilkan manusia semakin bertambah, yang akhirnya akan berdampak menimbulkan masalah pada lingkungan. Diantaranya, pencemaran udara, air, tanah, sumber penyakit, penyumbatan aliran air, hingga mengganggu ekosistem air. Apalagi sekarang masalah sampah tidak hanya timbul di kota-kota besar, namun sampai pelosok desa pun sampah sudah menjadi permasalahan. Kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah masih kurang. Membuang sampah pada tempatnya saja masih sulit.
Sebenarnya apa sih sampah itu? Barang dagangan, makanan atau apa? Menurut KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia, sampah ialah barang atau benda atau limbah yang dibuang karena sudah tidak terpakai lagi.
Sampah apabila dikelola dengan baik akan bermanfaat bagi kita. Namun jika dibiarkan, apalagi dibuang sembarangan akan menyebabkan kerugian bagi pemiliknya bahkan orang lain. Dampak buruk dari sampah jika tidak dikelola dengan baik salah satunya sebagai sumber penyakit. Sampah bisa berupa dedaunan yang jatuh berguguran, hati yang terbuang (eebusyeett alay dah gue). Mending untuk mengetahui lebih jelasnya, sampah ini dapat dikategorikan 2 macam, yaitu sampah organik dan sampah anorganik.
A. Sampah Organik
Sampah organik ialah limbah yang dihasilkan dari sisa makhluk hidup (alam) misalna hewan, manusia, tumbuhan. Sampah organik termasuk sampah yang ramah lingkungan karena dapat diurai oleh bakteri secara alami dan berlangsung cepat. Misalnya sampah daun, kayu, cangkang telur, bangkai hewan, bangkai tumbuhan, sisa makanan, dll.
B. Sampah Anorganik
Sampah anorganik ialah limbah yang berasal dari sisa manusia yang sulit untuk diurai oleh bakteri, yang membutuhkan waktu lama agar dapat terurai. Misalnya limbah rumah tangga, plastik, botol kaleng, botol plastik, besi, kaca, kain dll.
Setelah dipaparkan sedikit tentang sampah, terus bagaimana sih cara mengatasinya? Yaa pasti harus mengurangi sampah. Sampah yang sekiranya dapat dimanfaatkan kembali harus dimanfaatkan. Cara efektifnya ialah dengan 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Replace).
A. Reduce (Mengurangi)
B. Reuse (Menggunakan Kembali)
C. Recycle (Mendaur Ulang)
D. Replace (Mengganti)
Rabu, 07 September 2016
Strawberry Nyess
Pagi tadi aku melihat-lihat tanaman di depan rumah. Mencabuti rumput di sekitar tanaman stoberi. Tak sengaja ada merah-merah setelah ku lihat ternyata stoberinya berbuah. Kemudian ku pilah-pilah didedaunan ternyata berbunga sekitar 6 buah, yang belum matang 2 buah, dan satu buah sudah merah (tapi belum aku petik). Senang sekali melihat stoberinya berbuah. Sudah lama stoberi tidak berbuah setelah keseringan hujan. Benar kata temanku kalau saat musim hujan, stoberinya tidak akan berbunga.
Awalnya dulu aku dan teman-teman kelasku main ke Banjarnegara ke rumah salah satu teman kami, namanya Mukodah. Sering dipanggil oksom. Entah dari mana bisa keluar nama itu. Banjarnegara merupakan kawasan dataran tinggi. Suhunya lumayan dingin. Sejuk sekali rasanya main ke rumah Oksom. Di belakang rumah terhampar ladang-ladang sayuran yang tertata rapi. Ada sayuran wortel, kentang, dll. Sedap dipandang sambil menikmati sruputan kopi sedikit manis plus gorengan hangat. Mantap. Saking dinginnya membuat perutku mules. Seperti butuh adaptasi dengan suhu udara yang cukup dingin.
Di belakang halaman rumah Oksom ada sedikit luas tanah yang ditanami stoberi. Aku lihat-lihat dan menemukan stoberi yang masih setengah matang, tapi rasanya sudah manis. Bikin nagih. Dari situ aku berkeinginan untuk membawa pulang pohonnya untuk mencoba menanamnya di rumah.
Paginya aku dan teman-teman beranjak pulang. Aku bilang sama Oksom dan ibunya untuk minta ijin membawa pulang pohon stoberi. Aku membawa 3 batang stoberi tanpa tanah. Lalu dikasih ibunya Oksom 1 polibek yang berisi 2 batang stoberi. Senang sekali rasanya.
Sampai di rumah aku menanamnya di baskom yang sudah tidak terpakai. Lima batang stoberi aku jadikan satu tempat, tapi yang 1 polibek tetap aku biarkan bersama tanah aslinya. Setelah itu aku berikan di belakang rumah yang tidak terpampang matahari langsung. Aku berpikir, “di Banjarnegara kan udaranya sejuk, jadi kutaruh sini saja yang udaranya sejuk”. Setelah kurang lebih 2 pekan, pohon stroberinya mati yang ku bawa tanpa tanah. Dan masih tersisa 2 batang (yang ada tanah aslinya) tapi sudah kritis. Akhirnya 2 batang terakhir yang sudah kritis itu aku pindah ke depan rumah yang banyak mataharinya. Setelah itu justru pohon stroberynya kembali segar dan malah berkembang biak menjadi banyak sekali.
Sejak nikahan mbak Isti dibulan Mei sampai ditinggal KKN 1 bulan Agustus kemarin pohon stoberinya sebagian banyak yang mati. Dan tersisa sebagian lagi mala berbuah. Syukur Alhamdulillah.
Papringan Mergan, 6 September 2016
Awalnya dulu aku dan teman-teman kelasku main ke Banjarnegara ke rumah salah satu teman kami, namanya Mukodah. Sering dipanggil oksom. Entah dari mana bisa keluar nama itu. Banjarnegara merupakan kawasan dataran tinggi. Suhunya lumayan dingin. Sejuk sekali rasanya main ke rumah Oksom. Di belakang rumah terhampar ladang-ladang sayuran yang tertata rapi. Ada sayuran wortel, kentang, dll. Sedap dipandang sambil menikmati sruputan kopi sedikit manis plus gorengan hangat. Mantap. Saking dinginnya membuat perutku mules. Seperti butuh adaptasi dengan suhu udara yang cukup dingin.
Di belakang halaman rumah Oksom ada sedikit luas tanah yang ditanami stoberi. Aku lihat-lihat dan menemukan stoberi yang masih setengah matang, tapi rasanya sudah manis. Bikin nagih. Dari situ aku berkeinginan untuk membawa pulang pohonnya untuk mencoba menanamnya di rumah.
Paginya aku dan teman-teman beranjak pulang. Aku bilang sama Oksom dan ibunya untuk minta ijin membawa pulang pohon stoberi. Aku membawa 3 batang stoberi tanpa tanah. Lalu dikasih ibunya Oksom 1 polibek yang berisi 2 batang stoberi. Senang sekali rasanya.
Sampai di rumah aku menanamnya di baskom yang sudah tidak terpakai. Lima batang stoberi aku jadikan satu tempat, tapi yang 1 polibek tetap aku biarkan bersama tanah aslinya. Setelah itu aku berikan di belakang rumah yang tidak terpampang matahari langsung. Aku berpikir, “di Banjarnegara kan udaranya sejuk, jadi kutaruh sini saja yang udaranya sejuk”. Setelah kurang lebih 2 pekan, pohon stroberinya mati yang ku bawa tanpa tanah. Dan masih tersisa 2 batang (yang ada tanah aslinya) tapi sudah kritis. Akhirnya 2 batang terakhir yang sudah kritis itu aku pindah ke depan rumah yang banyak mataharinya. Setelah itu justru pohon stroberynya kembali segar dan malah berkembang biak menjadi banyak sekali.
Sejak nikahan mbak Isti dibulan Mei sampai ditinggal KKN 1 bulan Agustus kemarin pohon stoberinya sebagian banyak yang mati. Dan tersisa sebagian lagi mala berbuah. Syukur Alhamdulillah.
Papringan Mergan, 6 September 2016
Jumat, 02 September 2016
Daftar Isi
Bismillah...
Daftar Isi
Yang lalu ......................................
Mengejar-ngejar Senja ..........................
Setelah Beranjak Dewasa ........................
Pergi ke Kota ..................................
Main ke Taman Kota .............................
Puncak .........................................
Daftar Isi
Yang lalu ......................................
Mengejar-ngejar Senja ..........................
Setelah Beranjak Dewasa ........................
Pergi ke Kota ..................................
Main ke Taman Kota .............................
Puncak .........................................
Kenapa Aku Pingin Menulis?
Saat aku ditanya “kenapa aku ingin menulis?” aku bingung untuk menjawabnya. Tapi, aku ingat ketika aku kecil dulu, aku pernah bercita-cita sebagai seorang jurnalis. Berawal dari ketika sering menonton tv banyak berita-berita yang menceritakan suatu peristiwa. Dari situ menarik saat seorang wartawan bisa pergi ke tempat-tempat baru. Pikirku dulu. Seiring bertambahnya umur aku bergonta-ganti cita-cita sebagai polwan, guru, dll. Dan kini aku sudah bisa dibilang besar. Setelah aku kuliah, keinginan untuk menulis kembali muncul. Aku menulis untuk mengukir sejarah, meninggal jejak cerita disetiap aku berpijak. Karena, akan ada cerita disetiap pijakan kaki.
Saat aku ingin menulis, godaan banyak sekali. Entah HP, ngantuk atau apapun. Tapi yang paling berat ialah handphone. Niatnya hanya ingin buka hp sebentar, cuma buka bbm, tutup bbm, buka IG, tutup IG buka line, gitu aja terus sampai keinginan menulis pun hilang. Endingnya gak jadi nulis.
“Terus sebenarnya kamu itu nulis buat apa? “, dalam batinku. Sebenarnya aku masih bingung aku itu nulis buat apa, entah bujukan dari mana seperti ada bisikan kalau aku pingin menulis. Menulis untuk mengalahkan rasa malu ku. Aku masih malu ketika apa yang aku buat, apa yang aku tulis, apa yang aku lakukan itu dilihat orang lain. Aku takut kalau aku salah. Aku takut dikritik. Terlalu banyak alasan memang. Perlahan kuharap pasti, aku berusaha mengalahkan rasa malu yang ku miliki.
Aku pingin tulisanku dapat menginspirasi orang-orang, dapat bermanfaat pastinya. Maka, aku harus terus belajar memperbaiki. Aku ingin meninggalkan jejak dalam setiap langkah. Dengan cara menulis setiap perjalanan yang ku lalui, setiap waktu yang kurasakan. Menulislah selama kamu bisa. Kalahkan rasa malasmu untuk menjadi lebih baik.
Saat aku ingin menulis, godaan banyak sekali. Entah HP, ngantuk atau apapun. Tapi yang paling berat ialah handphone. Niatnya hanya ingin buka hp sebentar, cuma buka bbm, tutup bbm, buka IG, tutup IG buka line, gitu aja terus sampai keinginan menulis pun hilang. Endingnya gak jadi nulis.
“Terus sebenarnya kamu itu nulis buat apa? “, dalam batinku. Sebenarnya aku masih bingung aku itu nulis buat apa, entah bujukan dari mana seperti ada bisikan kalau aku pingin menulis. Menulis untuk mengalahkan rasa malu ku. Aku masih malu ketika apa yang aku buat, apa yang aku tulis, apa yang aku lakukan itu dilihat orang lain. Aku takut kalau aku salah. Aku takut dikritik. Terlalu banyak alasan memang. Perlahan kuharap pasti, aku berusaha mengalahkan rasa malu yang ku miliki.
Aku pingin tulisanku dapat menginspirasi orang-orang, dapat bermanfaat pastinya. Maka, aku harus terus belajar memperbaiki. Aku ingin meninggalkan jejak dalam setiap langkah. Dengan cara menulis setiap perjalanan yang ku lalui, setiap waktu yang kurasakan. Menulislah selama kamu bisa. Kalahkan rasa malasmu untuk menjadi lebih baik.
Selasa, 12 April 2016
Jangan Buru-Buru Membuang Benda tak Terpakai Disekitarmu
Jangan terlalu terburu-buru membuang benda-benda tidak terpakai disekitarmu. Siapa tau dapat memperindah ruangmu biar tidak sepi, atau kesepian. Hahaha. Pada dasarnya barang-barang bekas masih dapat dimanfaatkan. Sia-sia kan kalau hanya dibuang begitu saja. Mubazir. Pasti kan disekitarmu banyak barang tak terpakai, entah kardus kue, kardus sepatu, cangkang telur, sak semen, aneka botol bekas, dan masih banyak lagi. Eman kalau orang jawa bilang.
Kali ini aku akan sharing barang bekas apa saja yang berhasil aku manfaatkan. Hehehe
1. Bunga
Kamu habis dikasih bouquet bunga dari pacar? Mantan? Calon pacar? Ketika sudah kering jangan buru-buru dibuang, sayang masih bisa dimanfaatin lho. Nanti bisa buat memperindah koleksi barang bekasmu.
2. Cangkang telur
Duh bunda habis goreng telur bebek atau telur ayam? Jangan buru-buru dibuang yaa bunda siapa tau bisa jadi pundi-pundi duwit, lumayan bisa buat nambah jajan anak.
3. Bungkus bekas semen
Habis bangun rumah jangan keburu dikasih kepemulung, masih bisa dipakai lho bunda.
4. Kaleng cat
Wah banyak kaleng cat bekas yaa? Habis ganti suasana rumah dengan cat warna baru? Jangan dibuang gitu dong kaleng catnya kan bisa buat pot, atau wadah pernak-pernik.
5. Botol bekas
Tadi habis minum apa hayoo? Kok dibuang gitu aja, sayang lho kalau gak dimanfaatin.
6. Roda tak terpakai
Punya roda bekas kok dikasih kepemulung, yaa mending dipakai sendiri buat nambah hiasan rumah atau kamar.
7. Kardus bekas
Hay teman habis dikasih kue? Terus ada kardusnya jangan dibuang yaa bisa dikasih kan ke aku lho nanti aku buatin hiasan deh. Hehehe
8. Ranting Pohon
Ranting pohon, dapat kamu manfaatkan untuk cantelan gelang, hiasan dinding, dll.
9. Dan masih banyak lagi sebenarnya yang dapat dimanfaatin disekitarmu.
Kali ini aku akan sharing barang bekas apa saja yang berhasil aku manfaatkan. Hehehe
1. Bunga
Kamu habis dikasih bouquet bunga dari pacar? Mantan? Calon pacar? Ketika sudah kering jangan buru-buru dibuang, sayang masih bisa dimanfaatin lho. Nanti bisa buat memperindah koleksi barang bekasmu.
2. Cangkang telur
Duh bunda habis goreng telur bebek atau telur ayam? Jangan buru-buru dibuang yaa bunda siapa tau bisa jadi pundi-pundi duwit, lumayan bisa buat nambah jajan anak.
3. Bungkus bekas semen
Habis bangun rumah jangan keburu dikasih kepemulung, masih bisa dipakai lho bunda.
4. Kaleng cat
Wah banyak kaleng cat bekas yaa? Habis ganti suasana rumah dengan cat warna baru? Jangan dibuang gitu dong kaleng catnya kan bisa buat pot, atau wadah pernak-pernik.
5. Botol bekas
Tadi habis minum apa hayoo? Kok dibuang gitu aja, sayang lho kalau gak dimanfaatin.
6. Roda tak terpakai
Punya roda bekas kok dikasih kepemulung, yaa mending dipakai sendiri buat nambah hiasan rumah atau kamar.
7. Kardus bekas
Hay teman habis dikasih kue? Terus ada kardusnya jangan dibuang yaa bisa dikasih kan ke aku lho nanti aku buatin hiasan deh. Hehehe
8. Ranting Pohon
Ranting pohon, dapat kamu manfaatkan untuk cantelan gelang, hiasan dinding, dll.
9. Dan masih banyak lagi sebenarnya yang dapat dimanfaatin disekitarmu.
Mimpi yang Terpotong
Dia pun dapat tertidur dengan pulas. Setelah berulang kali mencoba memejamkan mata. Guling pun sudah berada dalam pelukannya. Tetap saja sulit untuk pejam. Entah apa yang sedang dia pikirkan hingga tak dapat ia menutup mata dengan layak.
Mengimpikan tentang bahagia ketika bersamanya. Membayangkan saat-saat menuliskan puisi dihadapannya. Lalu dia membacakan. Dia pun mendengarkan dengan seksama. Tidak lupa bumbu pujian yang membuat orang lain iri. “Puisi yang kau buat sungguh membuatku tak ingin pergi darimu”. Kata-kata itu selalu terngiang dalam benakku. Pipi yang selalu merah merona ketika tersipu malu. Lihat sinar mata yang terpancarkan bahagia.
Tiba-tiba badan terasa dingin. Terasa seperti air yang membahasahi badan. Lalu dia pun terbangun dari tidur yang hanya sekejap. Memotong mimpi-mimpi yang sedang datang seperti bunga yang sedang mekar. Sial, atap bocor. Jadi tadi ternyata hanya mimpi.
Mengimpikan tentang bahagia ketika bersamanya. Membayangkan saat-saat menuliskan puisi dihadapannya. Lalu dia membacakan. Dia pun mendengarkan dengan seksama. Tidak lupa bumbu pujian yang membuat orang lain iri. “Puisi yang kau buat sungguh membuatku tak ingin pergi darimu”. Kata-kata itu selalu terngiang dalam benakku. Pipi yang selalu merah merona ketika tersipu malu. Lihat sinar mata yang terpancarkan bahagia.
Tiba-tiba badan terasa dingin. Terasa seperti air yang membahasahi badan. Lalu dia pun terbangun dari tidur yang hanya sekejap. Memotong mimpi-mimpi yang sedang datang seperti bunga yang sedang mekar. Sial, atap bocor. Jadi tadi ternyata hanya mimpi.
Pedulikah ?
Akhir-akhir ini marak berita tentang eksploitasi anak. Pagi itu perjalanan berangkat ke kampus. Di perempatan lampu merah aku masih melihat seorang ibu yang menggendong anak kecil yang sedang tidur. Terlihat jelas kalau ibu itu sedang mengemis. Sudah lama aku tidak melihat pengemis yang melibatkan anak kecil seperti itu. Pengemis yang biasanya banyak diperempatan jalan pun sudah jarang ku temui. Aku kira sudah di berdayakan oleh dinas sosial. Timbul pertanyaan apakah anak kecil itu memang anaknya sendiri atau seperti yang di berita “sewaan”.
Aku ingat dalam berita kalau anak kecil atau bayi yang digendong sedang tertidur ada yang diberi obat tidur agar tidak rewel. Sebab setiap kali melihatnya anak selalu tertidur dengan pulas. Kasihan sekali anak itu. Ternyata pemakaian obat tidur itu tidak sesuai dengan takaran apalagi anjuran dokter. Dan bisa-bisa pemakaian obat itu dilakukan setiap hari. Betapa kasihannya anak kecil itu terkena dampak bagi kesehatannya yang kemudian akan berdampak pada pertumbuhan anak.
Aku ingat dalam berita kalau anak kecil atau bayi yang digendong sedang tertidur ada yang diberi obat tidur agar tidak rewel. Sebab setiap kali melihatnya anak selalu tertidur dengan pulas. Kasihan sekali anak itu. Ternyata pemakaian obat tidur itu tidak sesuai dengan takaran apalagi anjuran dokter. Dan bisa-bisa pemakaian obat itu dilakukan setiap hari. Betapa kasihannya anak kecil itu terkena dampak bagi kesehatannya yang kemudian akan berdampak pada pertumbuhan anak.
Rabu, 06 April 2016
Pesan Tidak Diterima
Setelah satu bulan di ODOP lama-lama kehilangan ide dan mala banyak utang huu syedih. Tapi ini pemanasan biar aku lebih tertantang. hehee (hihi curhat-curhat).
Klunting-klunting. Ehh sepertinya ada bbm. Langsung kutengok lah hpnya. Sambil melihat recent update dari temen-temen. Ada seorang temen yang memasang display picture sama temen ceweknya. Penasaran. Mungkin pacarnya.
“Wihii..” ku mulai percakapannya.
“Tumben nge-chat” sambung temen dari seberang pulau.
“Pacar baru ciyee pacar baru”
“Udah 4 tahun yaa”
Gubrakk. Disitu aku merasa kaget. Kalau diingat-ingat dulu pas main sama Mas Adit belum ada 4 tahun. Kalau dipikir-pikir apa mungkin dia selingkuh. Hahahahaa
Tanpa berpikir panjang langsung ku tanyakan saja. Ternyata dia balikan sama mantannya. Owalahh.
“Lha dulu adek gak mau, yaudah balikan aja. Selama masih bisa diperbaiki kenapa enggak”.
Lhoh kok jawabnya gitu, kayak cuma buat pelarian aja.
Pesannya adalah kalau memang belum siap buat pacaran yaudah jangan dipaksain buat dapet pacar. Toh belum tentu baik kedepannya juga. Atau mending mala taaruf aja. Hehe.
Klunting-klunting. Ehh sepertinya ada bbm. Langsung kutengok lah hpnya. Sambil melihat recent update dari temen-temen. Ada seorang temen yang memasang display picture sama temen ceweknya. Penasaran. Mungkin pacarnya.
“Wihii..” ku mulai percakapannya.
“Tumben nge-chat” sambung temen dari seberang pulau.
“Pacar baru ciyee pacar baru”
“Udah 4 tahun yaa”
Gubrakk. Disitu aku merasa kaget. Kalau diingat-ingat dulu pas main sama Mas Adit belum ada 4 tahun. Kalau dipikir-pikir apa mungkin dia selingkuh. Hahahahaa
Tanpa berpikir panjang langsung ku tanyakan saja. Ternyata dia balikan sama mantannya. Owalahh.
“Lha dulu adek gak mau, yaudah balikan aja. Selama masih bisa diperbaiki kenapa enggak”.
Lhoh kok jawabnya gitu, kayak cuma buat pelarian aja.
Pesannya adalah kalau memang belum siap buat pacaran yaudah jangan dipaksain buat dapet pacar. Toh belum tentu baik kedepannya juga. Atau mending mala taaruf aja. Hehe.
Senin, 04 April 2016
Malioboro Steril dari Kendaraan
Sekitar beberapa bulan lalu saya mendengar kabar kawasan Malioboro akan ditata ulang. Dimulai dari dibangunnya tempat parkir di Ngabean (sebelah barat nol km). Selain itu juga di nol Kilometer juga ikut di perbaiki. Penataan kawasan Malioboro dilakukan dengan bertahap. Pembangunan lahan parkir portable juga dibangun di Abu Bakar Ali (sebelah utara Malioboro). Dengan dibangunnya Tempat Parkir Portable Abu Bakar Ali maka kawasan Malioboro akan steril dari kendaraan. Biasanya tempat parkir pengunjung terletak di sisi timur sepanjang jalan Malioboro.
Sekitar tanggal 4 April kawasan Malioboro sudah mulai dilaksanakan pensterillan kendaraan parkir. Polisi dan keamanan ikut serta dalam menjaga keamanan. Tentunya ada pro kontra dalam penataan ulang Malioboro. Banyak tukang parkir yang tidak setuju dengan kebijakan tersebut. Sebagai jalan tengah, maka pemda membuat kebijakan tentang shift bagi tukang parkir di Abu bakar Ali dan Ngabean.
Aku setuju dengan dilakukannya penataan kawasan Maliboro biar terlihat rapi, bersih dan menarik. Semoga dengan begitu akan menambah lagi wisatawan yang datang ke Jogja. Dan harapanku semoga di bangun juga taman kota yang hijau, rindang dan teduh. Sampai bertemu di Jogja.
Minggu, 03 April 2016
Aku Bawakan Sedikit Buah Tangan
Setelah beberapa saat lalu aku ikut seminar di salah satu kampus di Jogja yang benar-benar mengubah mindset ku. Saat itu tema yang sedang dibahas tentang perempuan sebagai salah satu acara untuk memperingati hari perempuan dunia. Saat itu banyak LSM, Universitas dan lembaga terkait memperingati hari perempuan. Salah satu bentuk peringatan tersebut dengan mengadakan seminar. Tentunya kegiatan positif seperti itu sangat diapresiasi banyak pihak tidak hanya kaum perempuan saja, kaum pria pun ikut andil di dalamnya.
Begitu juga dengan aku yang berpartisipasi di dalamnya. Dalam seminar tersebut mengangkat tema “Dilema Prostitusi: Implikasi Sosial dan Pro Kontra”. Menarik memang, membahas tentang perempuan itu tidak ada habisnya. Ada beberapa poin yang dapat saya tangkap dalam seminar tersebut. Biasanya dalam hal prostitusi perempuan adalah orang yang pertama kali dipojokkan sebagai gambaran kegagalan dalam satu masyarakat. Sekarang mesti yang dikriminalisasikan dari perempuannya saja, bagaimana dari segi pembelinya? Menurut Suzie Handayani seorang dosen dan pakar gender, kegiatan prostitusi ini digambarkan sebagai indikator ketidakadilan sosial. Kesadaran masyarakat akan dampak dari prostitusi saja masih kurang, kata Hendrianto Primarendra seorang aktivis sosial.
Menurut saya, saya setuju dengan pendapat yang dikemukakan oleh ibu Suzie, mungkin kadang terlalu enggan memikirkan nasib orang lain, terlalu egois dengan diri sendiri hingga kita lupa akan ketimpangan di luar sana yang membutuhkan kepedulian kita. Sehingga mereka terjerumus dalam lubang hitam.
Jumat, 01 April 2016
Detik-Detik Terakhir?
Pagi itu mentari menyapaku dengan semringah. Aku pun memanfaatkan waktuku denga baik. Lagipula sedang libur. Sudah aku rencanakan waktu liburku untuk membersihkan akuarium, membereskan kamar, mencuci, dan membantu ibu mencabuti rumput taman.
“Dek sarapan dulu yuk,” ajak ibu setelah selesai menyapu halaman.
“Pakai apa?” sahutku.
“Ada lauk yang ibu simpan di kulkas, di goreng lagi, sama ada sayur tadi pagi ibu sudah beli di pasar. Ibu mau mandi dulu.”
“Ya bu.” Sambil berjalan menuju dapur.
Tiba-tiba ibu menyusul ke dapur. Dengan raut muka seperti akan menangis.
“Dek, kamu gak ngerasain detik-detik terakhir?”
“Ha, detik-detik terakhir apa?” sahutku dengan penasaran.
“Detik-detik ditinggal kakakmu ke Bali nanti. Kemarin ibu tanya cerita sama kakakmu, besok baju-bajunya juga mau di bawa ke Bali, dimasukin tas, lalu kamar kakakmu sepi.” Cerita ibu sambil mbrebes mili (mau menangis).
Kemudian, aku menjawabnya dengan kata tidak. Maksudnya meskipun akan ditinggal kakak menikah kemudian ikut suaminya ke Bali aku merasa biasa saja. Mungkin tidak sampai 2 bulan kakakku akan menikah. Jarak Jogja-Bali lumayan jauh. Apalagi katanya Bali yang deket dengan Lombok.
“Gimana kamu itu, gak ada rasa kasih sayangnya sama kakakmu sendiri.” Ungkap ibu sambil balik arah mengambil handuk.
Sambil mengupas bawang putih, aku termenung. Apa iya aku tidak punya kasih sayang pada kakakku, mungkin aku akan merasa kehilangan kalau kakakku sudah tidak di rumah lagi. Mungkin merasa kehilangan karena tidak ada yang diajak berantem selain sama adekku, dan tidak ada lagi yang bisa diajak tukeran baju. Heheehee.
“Dek sarapan dulu yuk,” ajak ibu setelah selesai menyapu halaman.
“Pakai apa?” sahutku.
“Ada lauk yang ibu simpan di kulkas, di goreng lagi, sama ada sayur tadi pagi ibu sudah beli di pasar. Ibu mau mandi dulu.”
“Ya bu.” Sambil berjalan menuju dapur.
Tiba-tiba ibu menyusul ke dapur. Dengan raut muka seperti akan menangis.
“Dek, kamu gak ngerasain detik-detik terakhir?”
“Ha, detik-detik terakhir apa?” sahutku dengan penasaran.
“Detik-detik ditinggal kakakmu ke Bali nanti. Kemarin ibu tanya cerita sama kakakmu, besok baju-bajunya juga mau di bawa ke Bali, dimasukin tas, lalu kamar kakakmu sepi.” Cerita ibu sambil mbrebes mili (mau menangis).
Kemudian, aku menjawabnya dengan kata tidak. Maksudnya meskipun akan ditinggal kakak menikah kemudian ikut suaminya ke Bali aku merasa biasa saja. Mungkin tidak sampai 2 bulan kakakku akan menikah. Jarak Jogja-Bali lumayan jauh. Apalagi katanya Bali yang deket dengan Lombok.
“Gimana kamu itu, gak ada rasa kasih sayangnya sama kakakmu sendiri.” Ungkap ibu sambil balik arah mengambil handuk.
Sambil mengupas bawang putih, aku termenung. Apa iya aku tidak punya kasih sayang pada kakakku, mungkin aku akan merasa kehilangan kalau kakakku sudah tidak di rumah lagi. Mungkin merasa kehilangan karena tidak ada yang diajak berantem selain sama adekku, dan tidak ada lagi yang bisa diajak tukeran baju. Heheehee.
Kamis, 31 Maret 2016
Sehari di Kulonprogo
Disela-sela perkuliahan aku menyempatkan pergi ke Kulonprogo untuk mencari data-data tugas penelitianku. Kulonprogo mempunyai semboyan "Binangun" itu terletak di sebelah barat kota Yogyakarta. Aku mengunjungi berbagai instansi pemerintah, seperti Bappeda, Dinas Kebudayaan, Dinas pengairan, Kantor Pertanahan, DPU, Badan Sipil, Dinas Pariwisata, Dinas transmigrasi, dan Kantor Arsip. Banyak memang, karena sebagian temanku yang membutuhkan.
Hari itu hanya ada satu jadwal kuliah pagi. Jadi lumayan sisa waktunya bisa digunakan untuk mencari data. Dalam pelayanannya di kantor pemerintahan, ada yang dipermudah, namun ada pula yang lempar sana lempar sini. Misalnya kalau tentang masalah waduk bukan kewenangan kami, tapi kewenangan balai besar. Tapi nanti setelah di datangi instant terkait bukan kewenangannya. Atau masalah lain surat ijinnya masih perlu dilengkapi. Aku belajar sabar dan pantang menyerah, meskipun juga lelah dan pingin menyerah. Sejenak aku berpikir, “apa iya aku harus ganti judul lain, tapi kan ini belum selesai sampai akhir.” Terkadang juga aku yakin kalau aku bisa selesai sampai akhir.
Sebagai penutup perjalananku mengunjungi instansi pemerintah, temanku mengajak mampir makan mie ayam Borneo. Katanya sedang ngidam mie ayam yang ada acar, irisan daun bawang, dan bawang goreng. Setelah mengisi perut kita pulang, tapi dalam perjalanan pulang aku mengajak mampir di sentra industry serat alam di Sentolo Kulon Progo. Aneka serat alam itu seperti agel, daun pandan, rotan, dan lain-lain. Di sana ada berbagai macam bentuk karya yang diproduksi secara handmade, seperti tas, dompet, keranjang, karpet, dan masih banyak lagi. Benar-benar produk Indonesia yang unik dibuat oleh anak bangsa. Mengutip dari iklan televise, “Maka Cintailah Produk-Produk Indonesia.”
Hari itu hanya ada satu jadwal kuliah pagi. Jadi lumayan sisa waktunya bisa digunakan untuk mencari data. Dalam pelayanannya di kantor pemerintahan, ada yang dipermudah, namun ada pula yang lempar sana lempar sini. Misalnya kalau tentang masalah waduk bukan kewenangan kami, tapi kewenangan balai besar. Tapi nanti setelah di datangi instant terkait bukan kewenangannya. Atau masalah lain surat ijinnya masih perlu dilengkapi. Aku belajar sabar dan pantang menyerah, meskipun juga lelah dan pingin menyerah. Sejenak aku berpikir, “apa iya aku harus ganti judul lain, tapi kan ini belum selesai sampai akhir.” Terkadang juga aku yakin kalau aku bisa selesai sampai akhir.
Sebagai penutup perjalananku mengunjungi instansi pemerintah, temanku mengajak mampir makan mie ayam Borneo. Katanya sedang ngidam mie ayam yang ada acar, irisan daun bawang, dan bawang goreng. Setelah mengisi perut kita pulang, tapi dalam perjalanan pulang aku mengajak mampir di sentra industry serat alam di Sentolo Kulon Progo. Aneka serat alam itu seperti agel, daun pandan, rotan, dan lain-lain. Di sana ada berbagai macam bentuk karya yang diproduksi secara handmade, seperti tas, dompet, keranjang, karpet, dan masih banyak lagi. Benar-benar produk Indonesia yang unik dibuat oleh anak bangsa. Mengutip dari iklan televise, “Maka Cintailah Produk-Produk Indonesia.”
Rabu, 30 Maret 2016
Inspirasi Pagi
Ingat waktu itu ketika aku dalam perjalanan ke kampus. Matahari pagi menyilaukan saat berkendara. Lalu dalam hati di dukung otak yang sedang mau diajak berkhayal :D. Terus muncul bait-bait kata yang aku rangkai.
Kau seperti mentari pagi
Yang mana aku tak sanggup menatapmu
Aku hanya bisa menimati hangat pelukmu
Kau rengkuh tubuhku dalam kehangatan kasihmu
Kau bukan rembula yang
Dengan mudahnya dapat aku jamah
*NB: Inspirasi yang aku peroleh saat kehangatan mentari pagi yang menyilaukan mata.
Kau seperti mentari pagi
Yang mana aku tak sanggup menatapmu
Aku hanya bisa menimati hangat pelukmu
Kau rengkuh tubuhku dalam kehangatan kasihmu
Kau bukan rembula yang
Dengan mudahnya dapat aku jamah
*NB: Inspirasi yang aku peroleh saat kehangatan mentari pagi yang menyilaukan mata.
Selasa, 29 Maret 2016
Kehilangan Ide
Kali ini aku pingin nulis. Tapi bingung nulis apa. Tapi ya tulis aja suka-suka. Kalau gak ada ide ya tetep nulis aja meskipun gak jelas. Tidak boleh berhenti menulis. Kata orang-orang yang suka nulis, ide itu akan jalan sendiri seiring kamu tidak menyerah untuk berhenti nulis. Intinya gak boleh nyerah untuk merangkai bait-bait kata untuk keabadian. Hehee. Akan aku coba.
Saat ini aku sedang kehilangan ide. Padahal kalau dipikir-pikir ide itu mucul dari mana saja. Asalkan kita peka saja. Lha itu kenapa aku kurang peka. -__-
Seperti kata Bang Syaiha, kita harus mengaktifkan semua panca indra.
Saat ini aku sedang kehilangan ide. Padahal kalau dipikir-pikir ide itu mucul dari mana saja. Asalkan kita peka saja. Lha itu kenapa aku kurang peka. -__-
Seperti kata Bang Syaiha, kita harus mengaktifkan semua panca indra.
Obrolan Pagi Ani
Mentari pelan-pelan mulai menampakkan cahayanya. Namun Ani masih meringkuk dalam selimut. Hari Senin bagaikan hantu bagi bagi Ani. Setelah libur akhir pekan yang panjang kemudian harus berangkat kuliah pagi.
“An… bangun An bangun. Cepat bangun nak ini udah jam setengah 6. Nanti kamu kesiangan.”
Ani masih bermalas-malasan. Sampai matanya benar-benar tak ingin memejam lagi. Tiba-tiba Ani bangun, karena sadar ada jam kuliah pagi. Sebelum mandi dengan segera Ani menyiapkan barang-barang yang akan dibawanya ke kampus. Seperti biasa setelah ganti baju Ani tidak memakai make up.
“Kok sepi banget, perasaan tadi ada suaranya Mama deh.” Gerutu Ani karena gak mau kalau sampai berangkat kuliah tidak sarapan.
“Eh tapi kan tadi pagi kayak denger ada berita lelayu tetangga deh. Kak Mama kemana?”
“Mama sama Papa sejak tadi pagi udah ke rumah tetangga ada yang meninggal.” Jawab Kak Lia.
“Emangnya siapa yang meninggal?”
“Pakde Jaya”
“Innallilahi wainna illaihi rojiun”
“Issshh… Ternyata udah ada lauk to di meja makan, sikaat ahh. Ahh sekalian bawa bekal ahh. Syik asyik bisa bawa bekal nih ke kampus.”
Setelah menyiapkan bekal dan air minum Ani segera memasukkannya dalam tas. Dan mengeluarkan motornya dari garasi.
“Ehh busyett deh udah jam setengah 7 aja, cepet banget. Kak aku berangkat dulu yaa. Jangan kangen lhoh yaa cuma bentar kok, hahhaha.” Ledek Ani sambil pamit dan jabat tangan pada kakaknya.
“Kok kampus sepi yaa, aku yang telat apa aku terlalu cepet datengnya ini.” Sampai di kelas beberapa saat kemudian dosen datang. Sepuluh menit sebelum jam perkuliahan dimulai Pak Djumarwan sudah masuk di kelas. Beliau termasuk dosen yang rajin dan jarang absen.
“An ngapain aja kemarin gak berangkat upgrading?” Tanya Tofan dengan penasaran.
“Lagi ada acara nikahan sodara Fan. Sabtunya kan bantu-bantu, terus Minggunya disuruh jaga buku tamu.”
“Oh pantes kemarin DP Bbm mu lagi didandanin. Kalo ngejaga hati udah siap belum?” Ledek Tofan.
“Hahaha, asemnya pagi-pagi udah bahas jodoh. Belum siap.” Dengan sigap Ani menjawab.
“Kamu terlalu pilih-pilih sih. Kalau kamu mau kan banyak disekitar mu An.”
Ani hanya tertawa saja. Tidak melanjutkan percakapan itu karena gak enak presentasi kelas sudah berlangsung.
“An… bangun An bangun. Cepat bangun nak ini udah jam setengah 6. Nanti kamu kesiangan.”
Ani masih bermalas-malasan. Sampai matanya benar-benar tak ingin memejam lagi. Tiba-tiba Ani bangun, karena sadar ada jam kuliah pagi. Sebelum mandi dengan segera Ani menyiapkan barang-barang yang akan dibawanya ke kampus. Seperti biasa setelah ganti baju Ani tidak memakai make up.
“Kok sepi banget, perasaan tadi ada suaranya Mama deh.” Gerutu Ani karena gak mau kalau sampai berangkat kuliah tidak sarapan.
“Eh tapi kan tadi pagi kayak denger ada berita lelayu tetangga deh. Kak Mama kemana?”
“Mama sama Papa sejak tadi pagi udah ke rumah tetangga ada yang meninggal.” Jawab Kak Lia.
“Emangnya siapa yang meninggal?”
“Pakde Jaya”
“Innallilahi wainna illaihi rojiun”
“Issshh… Ternyata udah ada lauk to di meja makan, sikaat ahh. Ahh sekalian bawa bekal ahh. Syik asyik bisa bawa bekal nih ke kampus.”
Setelah menyiapkan bekal dan air minum Ani segera memasukkannya dalam tas. Dan mengeluarkan motornya dari garasi.
“Ehh busyett deh udah jam setengah 7 aja, cepet banget. Kak aku berangkat dulu yaa. Jangan kangen lhoh yaa cuma bentar kok, hahhaha.” Ledek Ani sambil pamit dan jabat tangan pada kakaknya.
“Kok kampus sepi yaa, aku yang telat apa aku terlalu cepet datengnya ini.” Sampai di kelas beberapa saat kemudian dosen datang. Sepuluh menit sebelum jam perkuliahan dimulai Pak Djumarwan sudah masuk di kelas. Beliau termasuk dosen yang rajin dan jarang absen.
“An ngapain aja kemarin gak berangkat upgrading?” Tanya Tofan dengan penasaran.
“Lagi ada acara nikahan sodara Fan. Sabtunya kan bantu-bantu, terus Minggunya disuruh jaga buku tamu.”
“Oh pantes kemarin DP Bbm mu lagi didandanin. Kalo ngejaga hati udah siap belum?” Ledek Tofan.
“Hahaha, asemnya pagi-pagi udah bahas jodoh. Belum siap.” Dengan sigap Ani menjawab.
“Kamu terlalu pilih-pilih sih. Kalau kamu mau kan banyak disekitar mu An.”
Ani hanya tertawa saja. Tidak melanjutkan percakapan itu karena gak enak presentasi kelas sudah berlangsung.
Kamis, 24 Maret 2016
Salam Terakhir Mama Papa
Sisil berkunjung ke rumah orang tuanya di Jogja bersama suami. Sisil ingin memberi kejutan atas kepulangannya. Selama 2 kali libur lebaran Sisil tidak pulang ke Jogja karena kesibukan suaminnya Bang Doni. Sebagai isteri Sisil selalu mendukung suaminya, meskipun di rumah ia selalu kesepian merindukan hadirnya seorang bayi mungil. Selama 5 tahun menikah sisil belum dikaruniai seorang anak.
Sampai di Jogja Sisil dan Doni menggunakan jasa taksi untuk mengantarkan sampai rumah orang tuanya di Jogja.
“Kok di rumah sepi ya Bang”
“Iya apa mereka semua sedang pergi?”
Kemudian Sisil mengintip di balik jendela, ternyata Ani adik Sisil sedang asyik nonton TV. Tanpa mengetuk pintu Sisil langsung membukanya pelan-pelan.
“Assalamualaikum Ani”
Ani kaget seperti jantungan karena tiba-tiba ada yang ngomong padahal dia di rumah sendiri di tinggal orang tuanya dinas ke luar kota.
“Astaga kakak ngagetin aja, kok nggak kabar-kabar sih?”
“Dijawab dulu dong salam kakak”
“Waalaikum salam kakakku yang cantik”. Sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan menyambut Sisil dan Doni.
“Mama sama Papa kemana? Rumah sepi amat? Kamu liburan gini gak main? Tumben bentah di rumah?”
“Satu-satu dong kak nanya nya, Ani kan jadi bingung jawab yang mana dulu. Mama sama Papa lagi dines ke luar kota mungkin 3 hari lagi pulang.
Kakak lagi cuti apa gimana kok tumben bisa balik ke Jogja? Lama banget gak ke Jogja gak kangen apa sama adekmu yang paling cantik ini?” jawab Ani sambil memberikan minum di ruang keluarga.
“Yah gak bisa langsung ketemu sama Masa dan Papa. Liburan panjang gini kok ada dines sih. Kakak sama Bang Doni seminggu di Jogja, jadi masih sempat lah besok ketemu Mama Papa. Pas liburan panjang ini sekalian ambil cuti 3 hari. hehe.”
……. Tiga hari kemudian …..
Tok…. Tokk… tokk… Assalamualaikum…
Sekitar jam 9 pagi rumah Ani kedatangan tamu yang tidak diharapkan. Sisil punya firasat yang tidak baik, tapi tetap berprasangka baik. Kemudian Sisil membukakan pintu.
“Selamat pagi ibu saya Joni dari Polda, Apa benar ini rumah Bapak Ardi dan Ibu Tansil?”
“Iya, saya dengan Sisil anak Bapak Ardi. Ada apa ya Pak?”
“Tadi pagi sekitar pukul 3 pagi bapak dan ibu Ardi terlibat kecelakaan beruntun di Jalan Salatiga. Kami berharap keluarga segera datang ke Rumah
Sakit Hardjo Sumantri. Keadaan kedua korban kritis.”
Kemudian Sisil segera memberitahu Ani dan Doni untuk segera ke Rumah Sakit Hardjo Sumantri.
…..
Setelah sampai di Rumah Sakit Hardjo Sumantri mereka hanya memperoleh berita duka, karena 1 jam sebelum kedatangan keluarga Sisil, orang tua mereka sudah menghembuskan nafas terakhirnya.
“Bang, aku gak nyangka kalau kita ke Jogja mala gak bisa ketemu Mama sama Papa.” Peluk Sisil pada Doni.
Sampai di Jogja Sisil dan Doni menggunakan jasa taksi untuk mengantarkan sampai rumah orang tuanya di Jogja.
“Kok di rumah sepi ya Bang”
“Iya apa mereka semua sedang pergi?”
Kemudian Sisil mengintip di balik jendela, ternyata Ani adik Sisil sedang asyik nonton TV. Tanpa mengetuk pintu Sisil langsung membukanya pelan-pelan.
“Assalamualaikum Ani”
Ani kaget seperti jantungan karena tiba-tiba ada yang ngomong padahal dia di rumah sendiri di tinggal orang tuanya dinas ke luar kota.
“Astaga kakak ngagetin aja, kok nggak kabar-kabar sih?”
“Dijawab dulu dong salam kakak”
“Waalaikum salam kakakku yang cantik”. Sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan menyambut Sisil dan Doni.
“Mama sama Papa kemana? Rumah sepi amat? Kamu liburan gini gak main? Tumben bentah di rumah?”
“Satu-satu dong kak nanya nya, Ani kan jadi bingung jawab yang mana dulu. Mama sama Papa lagi dines ke luar kota mungkin 3 hari lagi pulang.
Kakak lagi cuti apa gimana kok tumben bisa balik ke Jogja? Lama banget gak ke Jogja gak kangen apa sama adekmu yang paling cantik ini?” jawab Ani sambil memberikan minum di ruang keluarga.
“Yah gak bisa langsung ketemu sama Masa dan Papa. Liburan panjang gini kok ada dines sih. Kakak sama Bang Doni seminggu di Jogja, jadi masih sempat lah besok ketemu Mama Papa. Pas liburan panjang ini sekalian ambil cuti 3 hari. hehe.”
……. Tiga hari kemudian …..
Tok…. Tokk… tokk… Assalamualaikum…
Sekitar jam 9 pagi rumah Ani kedatangan tamu yang tidak diharapkan. Sisil punya firasat yang tidak baik, tapi tetap berprasangka baik. Kemudian Sisil membukakan pintu.
“Selamat pagi ibu saya Joni dari Polda, Apa benar ini rumah Bapak Ardi dan Ibu Tansil?”
“Iya, saya dengan Sisil anak Bapak Ardi. Ada apa ya Pak?”
“Tadi pagi sekitar pukul 3 pagi bapak dan ibu Ardi terlibat kecelakaan beruntun di Jalan Salatiga. Kami berharap keluarga segera datang ke Rumah
Sakit Hardjo Sumantri. Keadaan kedua korban kritis.”
Kemudian Sisil segera memberitahu Ani dan Doni untuk segera ke Rumah Sakit Hardjo Sumantri.
…..
Setelah sampai di Rumah Sakit Hardjo Sumantri mereka hanya memperoleh berita duka, karena 1 jam sebelum kedatangan keluarga Sisil, orang tua mereka sudah menghembuskan nafas terakhirnya.
“Bang, aku gak nyangka kalau kita ke Jogja mala gak bisa ketemu Mama sama Papa.” Peluk Sisil pada Doni.
Senja yang Berbeda
Kali ini senjaku kuhabiskan di alun-alun kidul. Bersama seorang sahabat. Semilir angin dan ramai kendaraan, tak lupa jeritan anak-anak yang sedang bermain. Ku nikmati senjaku dengan suasana yang berbeda. Tak ada pantai, tak ada sungai, tak ada candi, tak ada persawahan, tak ada sepeda, tak ada pula kamu yang selalu ingin ku ajak menikmati senja.
Di sana-sini banyak pedagang yang menjajakan makanan maupun barang untuk sesuap makan dan menyambung hidup. Kulihat sebuah keluarga yang sedang bergembira merayakan kebersamaan sambil menaiki sepeda. Kulihat sepasang anak muda yang sedang merajut kasih. Sembari menunggu sahabat yang sedang membeli jajanan aku duduk di pinggir jalan. Tiba-tiba saja rasanya ingin menulis. Aku keluarkan hapeku lalu ku buka note untuk menuliskan inspirasi yang mampir dalam otak.
Alun-alun kidul merupakan area bermain keluarga yang murah meriah. Di sana banyak sekali aneka sepeda hias atau odong-odong dalam berbagai bentuk yang unik.Selain itu pengunjung juga dapat bermain masangin. Cara bermain masangin dengan menutup kedua mata untuk berjalan diantara dua pohon beringin kembar. Jarak antara pemain dengan pohon beringin kurang lebih 20 meter. Konon apabila dapat melewati antara pohon beringin itu terkabulkan segala keinginannya.
Di sana-sini banyak pedagang yang menjajakan makanan maupun barang untuk sesuap makan dan menyambung hidup. Kulihat sebuah keluarga yang sedang bergembira merayakan kebersamaan sambil menaiki sepeda. Kulihat sepasang anak muda yang sedang merajut kasih. Sembari menunggu sahabat yang sedang membeli jajanan aku duduk di pinggir jalan. Tiba-tiba saja rasanya ingin menulis. Aku keluarkan hapeku lalu ku buka note untuk menuliskan inspirasi yang mampir dalam otak.
Alun-alun kidul merupakan area bermain keluarga yang murah meriah. Di sana banyak sekali aneka sepeda hias atau odong-odong dalam berbagai bentuk yang unik.Selain itu pengunjung juga dapat bermain masangin. Cara bermain masangin dengan menutup kedua mata untuk berjalan diantara dua pohon beringin kembar. Jarak antara pemain dengan pohon beringin kurang lebih 20 meter. Konon apabila dapat melewati antara pohon beringin itu terkabulkan segala keinginannya.
Rabu, 23 Maret 2016
Kisah Ani dan Jeni Part 2
Hujan reda sebentar dan kembali turun deras.
“An, kamu mau gak kalau kita hujan-hujanan sekarang?” dengan perasaan merasa bersalah karena tidak bisa mengingat-ingat masa kecilnya. Mungkin dengan mengajak Ani hujan-hujanan, Jeni dapat menebus rasa bersalahnya.
“Kamu tidak bercanda kan Jen? Apa kamu tidak malu Jen, kita kan udah besar?” Ani memastikan kalau kalau tawarannya itu tidak main-main.
“Iya Ani ku sayang, kamu mau kan???
“Pasti mau dong!!!” Ani antusias langsung menarik tangan Jeni.
Mereka lari-lari di tengah hujan yang semakin deras. Jeni dan Ani tidak memperdulikan orang-orang yang heran melihat dua gadis ABG itu hujan-hujanan. Beberapa saat kemudian Jeni terdiam menunduk seperti sedang merasakan sesuatu. Lalu Ani mendekati Jeni.
“Kamu tidak apa-apa kan Jen?” Dengan perasaan khawatir Ani mendekati Jeni. Kemudian Ani merangkul Jeni untuk di bawa pulang ke rumah Ani.
“Kalian dari mana saja kok basah begitu? Sebentar mama ambilkan handuk.”
“Kalian langsung mandi saja nanti mama antarkan baju dan handuknya ke kamar mandi. Nanti Jeni pakai bajunya Ani dulu yaa.”
“Iya tante.” Jawab Jeni.
Sambil menunggu Ani dan Jeni selesai mandi. Mama Utami membuatkan susu putih hangat dan sup ayam kampung. Mama Utami suka sekali masak. Ia adalah seorang ibu yang penuh kasih sayang. Jeni sudah dianggapnya sebagai anak sendiri. Setelah menyiapkan sup ayam dan susu putih hangat Mama Utami memanggil Ani dan Jeni untuk segera makan.
“Aniiiii….”
“Jeniiii…. Kalian mandi kok lama sekali, kalian ngapain di kamar?” Ani dan Jeni mala keasyikan ngobrol di kamar setelah mandi. Meskipun rumah mereka hanya berjarak 300 meter, tapi mereka jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Ani dan Jeni berbeda sekolah. Moment itu mereka manfaatkan untuk sharing-sharing menceritakan hal-hal konyol yang mereka alami.
“Tok.. Tok.. Tokk” Mama Utami mengetok kamar Ani.
“Iya Maa masuk aja gak dikunci kok Ma.”
“Mama udah buatin kalian susu putih hangat dan sup ayam kampung. Mumpung masih hangat cepat kalian habiskan. Udah Mama tunggu di meja makan kalian mala gak turun-turun.”
“Maaf mamaku sayang, kita mala keasikan curhat tadi. Maklum kita kan jarang ketemu beberapa bulan terakhir ini.” Ani sedikit merayu mamanya.
“Yaudah cepat turun, keburu dingin gak enak nanti.”
“Iya tante.”
Ani, Jeni dan Mama Utami kemudian turun untuk segera makan bersama.
“An, kamu mau gak kalau kita hujan-hujanan sekarang?” dengan perasaan merasa bersalah karena tidak bisa mengingat-ingat masa kecilnya. Mungkin dengan mengajak Ani hujan-hujanan, Jeni dapat menebus rasa bersalahnya.
“Kamu tidak bercanda kan Jen? Apa kamu tidak malu Jen, kita kan udah besar?” Ani memastikan kalau kalau tawarannya itu tidak main-main.
“Iya Ani ku sayang, kamu mau kan???
“Pasti mau dong!!!” Ani antusias langsung menarik tangan Jeni.
Mereka lari-lari di tengah hujan yang semakin deras. Jeni dan Ani tidak memperdulikan orang-orang yang heran melihat dua gadis ABG itu hujan-hujanan. Beberapa saat kemudian Jeni terdiam menunduk seperti sedang merasakan sesuatu. Lalu Ani mendekati Jeni.
“Kamu tidak apa-apa kan Jen?” Dengan perasaan khawatir Ani mendekati Jeni. Kemudian Ani merangkul Jeni untuk di bawa pulang ke rumah Ani.
“Kalian dari mana saja kok basah begitu? Sebentar mama ambilkan handuk.”
“Kalian langsung mandi saja nanti mama antarkan baju dan handuknya ke kamar mandi. Nanti Jeni pakai bajunya Ani dulu yaa.”
“Iya tante.” Jawab Jeni.
Sambil menunggu Ani dan Jeni selesai mandi. Mama Utami membuatkan susu putih hangat dan sup ayam kampung. Mama Utami suka sekali masak. Ia adalah seorang ibu yang penuh kasih sayang. Jeni sudah dianggapnya sebagai anak sendiri. Setelah menyiapkan sup ayam dan susu putih hangat Mama Utami memanggil Ani dan Jeni untuk segera makan.
“Aniiiii….”
“Jeniiii…. Kalian mandi kok lama sekali, kalian ngapain di kamar?” Ani dan Jeni mala keasyikan ngobrol di kamar setelah mandi. Meskipun rumah mereka hanya berjarak 300 meter, tapi mereka jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Ani dan Jeni berbeda sekolah. Moment itu mereka manfaatkan untuk sharing-sharing menceritakan hal-hal konyol yang mereka alami.
“Tok.. Tok.. Tokk” Mama Utami mengetok kamar Ani.
“Iya Maa masuk aja gak dikunci kok Ma.”
“Mama udah buatin kalian susu putih hangat dan sup ayam kampung. Mumpung masih hangat cepat kalian habiskan. Udah Mama tunggu di meja makan kalian mala gak turun-turun.”
“Maaf mamaku sayang, kita mala keasikan curhat tadi. Maklum kita kan jarang ketemu beberapa bulan terakhir ini.” Ani sedikit merayu mamanya.
“Yaudah cepat turun, keburu dingin gak enak nanti.”
“Iya tante.”
Ani, Jeni dan Mama Utami kemudian turun untuk segera makan bersama.
Selasa, 22 Maret 2016
Kisah Jen dan Ani
Rintik hujan mulai turun. Sedap harum tanah membangkitkan gairah. Semakin lama semakin deras mengguyur tanah menenggelamkan bau sedap itu. Aku termenung di bawah pohon rindang. Menikmati hujan yang selalu membawa rindu. Aku termenung sendiri menikmati suasana hingga bajuku sedikit basah terkena cipratan hujan. Dingin semakin merasuki tubuh. Aku tetap menikmatinya.
“heii.. Kenapa kamu melamun An?”
Tiba-tiba Jeni datang mengagetkan Ani yang sedang melamun di bawah pohon. Membawa payung kesayangannya yang bergambar Masya and The Bear. Meskipun sudah besar, tapi Jeni suka sekali dengan gambar Masya and The Bear.
“Kamu Jen, merusak lamunanku saja”.
“Kamu sih aku cari di sana sini gak ada. Ternyata sedang bertapa di bawah pohon beringin. Sudah dapat wangsit apa kau”, celetuk Jeni dengan gaya ceplas-ceplosnya.
“Enak aja cari wangsit. Emangnya kamu yang sedang bingung cari pacar.” Hahahha Ani tertawa ganti mengejek Jeni.
Jeni hanya nyengir ketika Ani gantian mengejeknya. Jeni memang orangnya suka bercanda, tapi ketika gentian di ejek Jeni hanya nyengir. Persahabatan mereka memang sudah sejak kecil. Jadi mereka tau kelebihan dan kekurangan masing-masing meskipun terkadang ada pertengkaran kecil. Dalam persahabatan pertengkaran adalah bumbu dalam persahabatan.
“Kamu sedang melamunkan apa An, sepertinya sedang seru sekali sampai-sampai aku melihat kamu senyum-senyum sendiri. Hayooo kamu nglamunin apa?”
“Tau gak Jen, kalau hujan begini aku suka menikmatinya di bawah pohon rindang, terus suasananya ini lho bikin aku tenang. Jadi teringat waktu kecil kita dulu suka lari-larian bareng pas hujan. Kalau ada salah satu dari kita yang jatuh terpeleset mala kita tertawa semua. Kamu ingat kan Jen?” Ani terus melanjutkan ceritanya.

sumber: Google
“Kalau turun hujan mesti kita hujan-hujanan. Tapi gak boleh mama tau. Kalau sampai mama tau pasti kita dimarahin. Apa lagi mama kamu Jen yang galak banget. Hehehe”
Tanpa tersadar Ani meneteskan air matanya, mengenang masa kecilnya dulu yang terasa tanpa beban. Sambil memandang jauh hujan-hujan itu. Kemudian Ani menoleh pada Jeni.
“Kamu ingat kan Jen? Kamu ingat kan?” sambil menyentuh tangan Jeni, lalu Jeni menggeleng-geleng tak mengingatnya. Keadaan itu semakin membuat Ani menangis. Karena Ani tau kalau Jeni beberapa bulan yang lalu mengalami kecelakaan hebat hingga menyebabkan ayahnya meninggal dan Jeni terkena Amnesia.
Ani semakin erat memeluk Jeni sahabat kecilnya. Kemudian mereka menangis bersama.
Tanpa di sadari seiring air mata lelah membasahi pipi, hujan pun turun seiring takdir yang menghentikannya.
“heii.. Kenapa kamu melamun An?”
Tiba-tiba Jeni datang mengagetkan Ani yang sedang melamun di bawah pohon. Membawa payung kesayangannya yang bergambar Masya and The Bear. Meskipun sudah besar, tapi Jeni suka sekali dengan gambar Masya and The Bear.
“Kamu Jen, merusak lamunanku saja”.
“Kamu sih aku cari di sana sini gak ada. Ternyata sedang bertapa di bawah pohon beringin. Sudah dapat wangsit apa kau”, celetuk Jeni dengan gaya ceplas-ceplosnya.
“Enak aja cari wangsit. Emangnya kamu yang sedang bingung cari pacar.” Hahahha Ani tertawa ganti mengejek Jeni.
Jeni hanya nyengir ketika Ani gantian mengejeknya. Jeni memang orangnya suka bercanda, tapi ketika gentian di ejek Jeni hanya nyengir. Persahabatan mereka memang sudah sejak kecil. Jadi mereka tau kelebihan dan kekurangan masing-masing meskipun terkadang ada pertengkaran kecil. Dalam persahabatan pertengkaran adalah bumbu dalam persahabatan.
“Kamu sedang melamunkan apa An, sepertinya sedang seru sekali sampai-sampai aku melihat kamu senyum-senyum sendiri. Hayooo kamu nglamunin apa?”
“Tau gak Jen, kalau hujan begini aku suka menikmatinya di bawah pohon rindang, terus suasananya ini lho bikin aku tenang. Jadi teringat waktu kecil kita dulu suka lari-larian bareng pas hujan. Kalau ada salah satu dari kita yang jatuh terpeleset mala kita tertawa semua. Kamu ingat kan Jen?” Ani terus melanjutkan ceritanya.

sumber: Google
“Kalau turun hujan mesti kita hujan-hujanan. Tapi gak boleh mama tau. Kalau sampai mama tau pasti kita dimarahin. Apa lagi mama kamu Jen yang galak banget. Hehehe”
Tanpa tersadar Ani meneteskan air matanya, mengenang masa kecilnya dulu yang terasa tanpa beban. Sambil memandang jauh hujan-hujan itu. Kemudian Ani menoleh pada Jeni.
“Kamu ingat kan Jen? Kamu ingat kan?” sambil menyentuh tangan Jeni, lalu Jeni menggeleng-geleng tak mengingatnya. Keadaan itu semakin membuat Ani menangis. Karena Ani tau kalau Jeni beberapa bulan yang lalu mengalami kecelakaan hebat hingga menyebabkan ayahnya meninggal dan Jeni terkena Amnesia.
Ani semakin erat memeluk Jeni sahabat kecilnya. Kemudian mereka menangis bersama.
Tanpa di sadari seiring air mata lelah membasahi pipi, hujan pun turun seiring takdir yang menghentikannya.
Belajar dari Prof. Haikal
Berawal dari semester 1 di perkuliahan ketika di ajar oleh seorang dosen yang luar biasa. Aku sebut luar biasa karena dosen ini berbeda dengan dosen-dosenku yang lain. Beda style-nya, gaya ngajar, tugas, dan sebagainya. Beliau adalah Prof. Dr. Husain Haikal, MA. Gaya beliau dalam berpakaian sederhana sekali. Dalam mengajar beliau menyuruh mahasiswanya untuk membedah jurnal yang terkait dengan mata kuliah. Sering kali saya mengeluh karena revisi terus. Bagi teman-teman yang tidak tertarik dengan gaya mengajarnya menyerah sebelum nilai keluar. Namun saya ingin berjuang sampai akhir. Saya pun tidak mau terlambat mengumpulkannya, karena bisa-bisa mendapat denda disuruh bikin lagi dari awal.
Suatu ketika saya lupa membawa tugas dari Pak Haikal. Kemudian saya bela-belain pulang ke rumah. Jarak antara rumah dan kampus lumayan jauh ± 20 km. Untung saja mengumpulkan jurnalnya siang, jadi setelah jam pertama kuliah saya pulang untuk mengambilnya dan balik ke kampus lagi. Pikir saya waktu itu, saya gak boleh menyerah di tengah jalan yang sudah saya pilih sebelum mengetahui akhirnya bagaimana. Rugi kan kalau harus mengulang semester depan, membuang-buang waktu saja. Toh bisa buat mengambil mata kuliah lain dari pada harus mengulang. Pelajaran yang dapat saya ambil dari Pak Haikal adalah mengajarkan kerja keras. Meskipun di belakang saya nggerundel, tapi saya harus tetap mengerjakan sampai selesai.
Suatu saat saya ingin mengikuti workshop kepenulisan yang diadakan dekanat bekerja sama dengan Kompas. Padahal ada kelas Pak Haikal. Setiap ada kelas berarti waktunya juga mengumpulkan tugas jurnal. Karena saya ingin sekali mengikuti dua-duanya saya harus segera menyelesaikan jurnal. Tidak apa-apalah telat workshop dari Kompasnya. Tapi Allah tidak mengijinkan kalau saya terlambat. Kelas Pak Haikal selesai lebih cepat, jadi saya bisa langsung ke dekanat untuk mengikuti workshop. Alhamdulillah kalau ada kemauan pasti ada jalan.
Selama 2 hari saya mengikuti workshop ini. Dalam workshop ini saya diajari tentang lay out berita, wawancara, design, dan semua hal yang menyangkut tentang berita. Kemudian bagi kelompok untuk langsung terjun ke lapangan untuk membuat berita 2 lembar halaman. Saya dan teman-teman terjun langsung ke lapangan untuk membuat berita. Waktu itu kami dibekali uang Rp. 100. 000,00 untuk mencetaknya selebar koran.
Banyak pengalaman yang saya dapatkan dari workshop itu. Saya bisa belajar wawancara dengan orang yang baru saya kenal. Memberanikan diri untuk berkomunikasi dengan orang baru, yang mana pada dasarnya saya ini pemalu. Jadi saya sekalian belajar menguatkan mental. Hehehehee.
Suatu ketika saya lupa membawa tugas dari Pak Haikal. Kemudian saya bela-belain pulang ke rumah. Jarak antara rumah dan kampus lumayan jauh ± 20 km. Untung saja mengumpulkan jurnalnya siang, jadi setelah jam pertama kuliah saya pulang untuk mengambilnya dan balik ke kampus lagi. Pikir saya waktu itu, saya gak boleh menyerah di tengah jalan yang sudah saya pilih sebelum mengetahui akhirnya bagaimana. Rugi kan kalau harus mengulang semester depan, membuang-buang waktu saja. Toh bisa buat mengambil mata kuliah lain dari pada harus mengulang. Pelajaran yang dapat saya ambil dari Pak Haikal adalah mengajarkan kerja keras. Meskipun di belakang saya nggerundel, tapi saya harus tetap mengerjakan sampai selesai.
Suatu saat saya ingin mengikuti workshop kepenulisan yang diadakan dekanat bekerja sama dengan Kompas. Padahal ada kelas Pak Haikal. Setiap ada kelas berarti waktunya juga mengumpulkan tugas jurnal. Karena saya ingin sekali mengikuti dua-duanya saya harus segera menyelesaikan jurnal. Tidak apa-apalah telat workshop dari Kompasnya. Tapi Allah tidak mengijinkan kalau saya terlambat. Kelas Pak Haikal selesai lebih cepat, jadi saya bisa langsung ke dekanat untuk mengikuti workshop. Alhamdulillah kalau ada kemauan pasti ada jalan.
Selama 2 hari saya mengikuti workshop ini. Dalam workshop ini saya diajari tentang lay out berita, wawancara, design, dan semua hal yang menyangkut tentang berita. Kemudian bagi kelompok untuk langsung terjun ke lapangan untuk membuat berita 2 lembar halaman. Saya dan teman-teman terjun langsung ke lapangan untuk membuat berita. Waktu itu kami dibekali uang Rp. 100. 000,00 untuk mencetaknya selebar koran.
Banyak pengalaman yang saya dapatkan dari workshop itu. Saya bisa belajar wawancara dengan orang yang baru saya kenal. Memberanikan diri untuk berkomunikasi dengan orang baru, yang mana pada dasarnya saya ini pemalu. Jadi saya sekalian belajar menguatkan mental. Hehehehee.
Jumat, 18 Maret 2016
Senyum Ramah Tania
“Selamat pagi ibu ada yang bisa kami bantu”, sapa teller dengan senyum ramahnya.
“Saya mau tutup rekening, lalu saya mau buka lagi tapi yang biaya potongan per bulannya kecil”, jawab ibu paruh baya itu dengan ketus.
“Bisa pinjam KTPnya ibu?”
“Nihh”, sambil menyodorkan KTPnya.
“Oh dengan Ibu Niken ya.”
Ibu Niken itu tetap ketus, Tania tetap melayaninya dengan ramah. Kemudian Tania menjelaskan tipe dan syaratnya dengan detail dan jelas.
“Bagaimana Ibu Niken ingin membuka rekening dengan tipe yang mana?”
“Saya tidak jadi membuka rekening baru. Boleh saya minta nomer handphone-nya mbak? ”
“Boleh, sebentar ibu saya tulis sebentar ya,” sambil menuliskan nomer handphone.
“Ini ibu, ada lagi yang bisa kami bantu?”
“Tidak.”
“Terima kasih atas kunjungannya,” ucap Tania sebagai salam penutup.
Pada hari itu juga Tania terpaksa telat pulang dari kantornya karena lembur. Baru saja merebahkan tubuhnya pada shofa empuknya, tiba-tiba hpnya berdering.
“Assalamualaikum, Dengan Tania di sini ada yang bisa dibantu.”
“Waalaikumsalam mbak, saya Ibu Niken yang tadi siang akan membuka rekening di bank.”
“Oh Ibu Niken, ada yang bisa Tania bantu?”, dengan agak terkejut Tania menjawab.
“Kenapa Ibu Niken berbeda, lebih ramah dari pada tadi saat bertemu di bank”, pikirnya dalam hati.
“Mbak Tania, maaf ya tadi saya agak ketus di bank. Saya kecewa dengan anak saya. Sebenarnya saya kangen dengan anak saya namanya Arika. Saya sudah lama tidak bertemu anak saya setelah dia bekerja di Kalimantan. Arika sudah lama tidak menelepon saya. Memberi kabar atau sekedar menanyakan kabar saya pun tidak. Sudah setahun lebih Arika tidak pulang.”
Dengan panjang lebar Ibu Niken menceritakan anaknya yang sudah lama tidak berkomunikasi dengannya.
“Mungkin Arika sedang sibuk ibu, doakan saja semoga Arika selalu dalam lindungan-Nya,” balas Tania.
“Apa iya begitu, tapi sekedar menyempatkan memberi kabar saja tidak. Maaf ya nak Tania ibu mala kebablasan curhat. Jujur saya ibu suka dengan sikap kamu melayani ibu tadi pagi, meskipun ibu dengan nada ketus nak Tania tetap member pelayanan ramah . Makanya tadi ibu minta nomer handphone kamu.”
“Tidak apa-apa ibu. Sudah kewajiban saya memberikan pelayanan yang ramah kepada nasabah,” jawab Tania dengan sopan.
"Maaf ya Nak Tania ibu mengganggu istirahatmu."
"Tidak apa-apa ibu saya senang bisa berkenalan dengan Ibu Niken."
“Saya mau tutup rekening, lalu saya mau buka lagi tapi yang biaya potongan per bulannya kecil”, jawab ibu paruh baya itu dengan ketus.
“Bisa pinjam KTPnya ibu?”
“Nihh”, sambil menyodorkan KTPnya.
“Oh dengan Ibu Niken ya.”
Ibu Niken itu tetap ketus, Tania tetap melayaninya dengan ramah. Kemudian Tania menjelaskan tipe dan syaratnya dengan detail dan jelas.
“Bagaimana Ibu Niken ingin membuka rekening dengan tipe yang mana?”
“Saya tidak jadi membuka rekening baru. Boleh saya minta nomer handphone-nya mbak? ”
“Boleh, sebentar ibu saya tulis sebentar ya,” sambil menuliskan nomer handphone.
“Ini ibu, ada lagi yang bisa kami bantu?”
“Tidak.”
“Terima kasih atas kunjungannya,” ucap Tania sebagai salam penutup.
Pada hari itu juga Tania terpaksa telat pulang dari kantornya karena lembur. Baru saja merebahkan tubuhnya pada shofa empuknya, tiba-tiba hpnya berdering.
“Assalamualaikum, Dengan Tania di sini ada yang bisa dibantu.”
“Waalaikumsalam mbak, saya Ibu Niken yang tadi siang akan membuka rekening di bank.”
“Oh Ibu Niken, ada yang bisa Tania bantu?”, dengan agak terkejut Tania menjawab.
“Kenapa Ibu Niken berbeda, lebih ramah dari pada tadi saat bertemu di bank”, pikirnya dalam hati.
“Mbak Tania, maaf ya tadi saya agak ketus di bank. Saya kecewa dengan anak saya. Sebenarnya saya kangen dengan anak saya namanya Arika. Saya sudah lama tidak bertemu anak saya setelah dia bekerja di Kalimantan. Arika sudah lama tidak menelepon saya. Memberi kabar atau sekedar menanyakan kabar saya pun tidak. Sudah setahun lebih Arika tidak pulang.”
Dengan panjang lebar Ibu Niken menceritakan anaknya yang sudah lama tidak berkomunikasi dengannya.
“Mungkin Arika sedang sibuk ibu, doakan saja semoga Arika selalu dalam lindungan-Nya,” balas Tania.
“Apa iya begitu, tapi sekedar menyempatkan memberi kabar saja tidak. Maaf ya nak Tania ibu mala kebablasan curhat. Jujur saya ibu suka dengan sikap kamu melayani ibu tadi pagi, meskipun ibu dengan nada ketus nak Tania tetap member pelayanan ramah . Makanya tadi ibu minta nomer handphone kamu.”
“Tidak apa-apa ibu. Sudah kewajiban saya memberikan pelayanan yang ramah kepada nasabah,” jawab Tania dengan sopan.
"Maaf ya Nak Tania ibu mengganggu istirahatmu."
"Tidak apa-apa ibu saya senang bisa berkenalan dengan Ibu Niken."
Malu: Ngomel Sembarangan
“Pak kanan pak”, gerutu si penumpang becak.
“Bapak ini kalau lagi gak enak badan mending istirahat di rumah saja. Ditanjakan seperti ini saja sudah kelelahan,” omel eneng penumpang becak.
“Kalau saya istirahat di rumah dan gak jerja, nanti keluarga saya mau makan apa neng”. Saya ini satu-satunya tulang punggung di rumah saya.”
“Daripada mengecewakan pelanggan to, mending gak usah narik”.
Wanita itu terus memojokkan bapak-bapak setengah baya itu. Seakan-akan letak kesalahan itu hanya pada tukang becak. Wanita itu melepaskan emosinya kepada tukang becak, karena sebelumnya wanita itu diturunkan di jalan oleh pacarnya karena berbeda pendapat. Alhasil tukang becak yang sedang lewat pun menjadi pelampiasan.
“Neng, kalau sedang marahan dengan pacarnya jangan terus melampiaskan kekesalan eneng kepada orang disekitar eneng”, keluh si bapak tukang becak.
“Kok bapak tau”, dengan tampang malu dan merasa bersalah.
“Lha wong tadi saya di belakang eneng, waktu eneng diturunkan di jalan tadi. Bapak sempat mendengarkan percekcokan eneng dan pacar eneng.”
“Bapak gak maksud nguping, tapi memang kedengaran. Mungkin dari jarak 100 meter bisa kedengaran, kalian saja teriak-teriak”, tambah bapak itu sebelum eneng itu menimpali.
Wanita itu semakin tak bisa berkata-kata karena malu melihat tingkahnya sendiri.
“Bapak ini kalau lagi gak enak badan mending istirahat di rumah saja. Ditanjakan seperti ini saja sudah kelelahan,” omel eneng penumpang becak.
“Kalau saya istirahat di rumah dan gak jerja, nanti keluarga saya mau makan apa neng”. Saya ini satu-satunya tulang punggung di rumah saya.”
“Daripada mengecewakan pelanggan to, mending gak usah narik”.
Wanita itu terus memojokkan bapak-bapak setengah baya itu. Seakan-akan letak kesalahan itu hanya pada tukang becak. Wanita itu melepaskan emosinya kepada tukang becak, karena sebelumnya wanita itu diturunkan di jalan oleh pacarnya karena berbeda pendapat. Alhasil tukang becak yang sedang lewat pun menjadi pelampiasan.
“Neng, kalau sedang marahan dengan pacarnya jangan terus melampiaskan kekesalan eneng kepada orang disekitar eneng”, keluh si bapak tukang becak.
“Kok bapak tau”, dengan tampang malu dan merasa bersalah.
“Lha wong tadi saya di belakang eneng, waktu eneng diturunkan di jalan tadi. Bapak sempat mendengarkan percekcokan eneng dan pacar eneng.”
“Bapak gak maksud nguping, tapi memang kedengaran. Mungkin dari jarak 100 meter bisa kedengaran, kalian saja teriak-teriak”, tambah bapak itu sebelum eneng itu menimpali.
Wanita itu semakin tak bisa berkata-kata karena malu melihat tingkahnya sendiri.
Rabu, 16 Maret 2016
Belajar dari Filosofi Semut
Binatang kecil yang biasanya kalau ada sisa kotoran di lantai, kasur atau benda lainnya akan langsung sigap datang. Terkadang tidak ada tanda-tanda semut di sekitar kita, tiba-tiba segerombolan semut datang karena ada sisa makanan nempel di meja. Dari mana mereka mengetahuinya. Apa daya ciumnya kuat sekali sehingga dimana pun ada makanan pasti mengetahuinya. Awalnya hanya satu dua ekor saja, namun kemudian membawa gerombolannya. Ah mereka beraninya gerombolan, aku saja sendiri berani kalau buat makan makanan yang enak. Hahaha tentu saja yaa.
Hal ini tentu berbeda dengan kita. Kalau mama lagi masak enak, terus mengendap-endap buat mengambil makanan di bawah tudung saji. Terus dibawa masuk ke kamar di kunci deh kamarnya di makan di pojokan kamar sambil jongkok. Hahaha. Terus keluar kamar belepotan di mulut. Mama nyariin, ternyata masakannya dicuri anak gadisnya. Tapi anak gadisnya gak ngaku. Mama hanya senyum manis saja. Hahaa ini bukan curhat lhoh ya hanya penggambaran saja.
Berbeda dengan semut-semut kecil yang imut-imut itu. Kalau seekor semut lagi jalan-jalan kemudian melihat makanan sesedikit apapun mereka pasti memanggil teman-temannya untuk dimakan bersama. Kalau mereka kuat membawanya mereka bawa sendiri terus kemudian dimakan bersama-sama. Kalau dimungkinkan gak kuat, mereka memanggil temannya untuk bersama-sama mengangkatnya. Mungkin di istana semut keluarga, saudara atau tetangganya sedang kelaparan. Mereka pasti makan bersama-sama mengundang kalau disini sedang ada makanan lho. Ayo kita makan bersama-sama.
Di samping itu ketika berpapasan dengan kawannya pasti berjabat tangan atau cipika-cipiki. Hehe. Kalau kita kadang senyum saja males, siapa dia aku gak kenal kok, sambil memperlihatkan muka juteknya. Padahal senyum adalah ibadah. Senyumkan hal termudah dan ringan untuk dilakukan. Apalagi bagian dari sedekah. Kalau pelit ngeluarin duwit, paling tidak bisa senyum.
Sebagai penutup mengutip dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Senyumu di hadapan saudaramu (sesame muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu”.
Hal ini tentu berbeda dengan kita. Kalau mama lagi masak enak, terus mengendap-endap buat mengambil makanan di bawah tudung saji. Terus dibawa masuk ke kamar di kunci deh kamarnya di makan di pojokan kamar sambil jongkok. Hahaha. Terus keluar kamar belepotan di mulut. Mama nyariin, ternyata masakannya dicuri anak gadisnya. Tapi anak gadisnya gak ngaku. Mama hanya senyum manis saja. Hahaa ini bukan curhat lhoh ya hanya penggambaran saja.
Berbeda dengan semut-semut kecil yang imut-imut itu. Kalau seekor semut lagi jalan-jalan kemudian melihat makanan sesedikit apapun mereka pasti memanggil teman-temannya untuk dimakan bersama. Kalau mereka kuat membawanya mereka bawa sendiri terus kemudian dimakan bersama-sama. Kalau dimungkinkan gak kuat, mereka memanggil temannya untuk bersama-sama mengangkatnya. Mungkin di istana semut keluarga, saudara atau tetangganya sedang kelaparan. Mereka pasti makan bersama-sama mengundang kalau disini sedang ada makanan lho. Ayo kita makan bersama-sama.
Di samping itu ketika berpapasan dengan kawannya pasti berjabat tangan atau cipika-cipiki. Hehe. Kalau kita kadang senyum saja males, siapa dia aku gak kenal kok, sambil memperlihatkan muka juteknya. Padahal senyum adalah ibadah. Senyumkan hal termudah dan ringan untuk dilakukan. Apalagi bagian dari sedekah. Kalau pelit ngeluarin duwit, paling tidak bisa senyum.
Sebagai penutup mengutip dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Senyumu di hadapan saudaramu (sesame muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu”.
Selasa, 15 Maret 2016
Resensi: Di Balik Novel Tiga Sandera Terakhir
Novel yang terinspirasi dari peristiwa-peristiwa nyata menjadi hal yang menarik bagi saya. Hal ini membuat saya mudah untuk memahaminya. Apalagi novel yang berkaitan dengan konflik berdarah akan sangat menarik lagi. Hal ini terdapat pada novel karya Brahmanto Anindito dalam karyanya yang berjudul “Tiga Sandera Terakhir”. Seperti yang diungkapkan oleh Salman Aristo seorang penulis skenario Ayat-ayat Cinta, Laskar Pelangi dan Garuda di Dadaku, novel yang berani. Saya sependapat dengannya karena novel ini terinspiasi dari konflik berdarah di Timur Indonesia yaitu di Papua.
Novel ini murni fiksi dan alurnya pun juga fiksi, namun yang menarik adalah bagaimana penulis membuat alur cerita yang membuat saya penasaran hingga akhir cerita.

Penyanderaan yang terjadi di sebuah desa di Papua. Berawal dari anggota Organisasi Papua Merdeka OPM yang datang Penginapan “Mama Kasih” dan membuat kekacuan di situ. Kedatangan anggota OPM ini berakhir dengan membawa penghuni penginapan Mama Kasih sebagai sandera. Korban sandera berjumlah lima orang dari warga Negara Indonesia, Australia, dan Perancis.
Banyak yang menuduh peristiwa ini terjadi akibat ulah OPM, namun OPM sendiri menyangkalnya. Mereka menegaskan bahwa pihaknya sudah lama tidak menggunakan cara-cara kekerasan untuk memperjuangkan Papua Barat.
Jadi siapa sebenarnya yang menjadi dalang dari peristiwa penyanderaan itu? Bagaimana strategi TNI dalam penyanderaan? Mendengar kejadian ini, TNI bergegas untuk segera melakukan pembebasan yang dipimpin oleh Kolonel Larung Nusa yang merupakan bagian dari Satuan Antiteror Kopassus. Banyak kendala yang dialami oleh para TNI, dari kondisi geografisnya yang berbeda jauh dari Jawa.
Dalam proses pembebasan sandera, terdapat korban sipil yang terkena peluru nyasar. Kemudian korban dari OPM sendiri, namun sayangnya korban jatuh juga dialami oleh anggota TNI yaitu Sertu Anam. Awalnya Sertu Anam dikira jatuh ke jurang dan sudah meninggal, jenazahnya tidak ditemukan.
Pagi harinya Mayor Abassia atasan Larung Nusa mendapatkan video penyiksaan Sertu Anam. Tambah satu lagi masalah yang harus diselesaikan TNI. Kemudian TNI membentuk satuan khusus yang bernama Pasukan Hantu. Pasukan Hantu ini dipimpin oleh Larung Nusa dan orang-orang eks-TNI, eks-Kopassus. Dinamakan Pasukan Hantu karena apabila operasi ini gagal orang-orang ini tidak mendapat pengangkatan jabatan, dan apabila orang-orang ini mati tidak dimakamkan secara milliter atau mendapat penghargaan. Orang-orang ini berasal dari bekas anggota TNI atau Kopassus yang di berhentikan secara tidak terhormat karena berbagai alasan.
Novel ini murni fiksi dan alurnya pun juga fiksi, namun yang menarik adalah bagaimana penulis membuat alur cerita yang membuat saya penasaran hingga akhir cerita.

Penyanderaan yang terjadi di sebuah desa di Papua. Berawal dari anggota Organisasi Papua Merdeka OPM yang datang Penginapan “Mama Kasih” dan membuat kekacuan di situ. Kedatangan anggota OPM ini berakhir dengan membawa penghuni penginapan Mama Kasih sebagai sandera. Korban sandera berjumlah lima orang dari warga Negara Indonesia, Australia, dan Perancis.
Banyak yang menuduh peristiwa ini terjadi akibat ulah OPM, namun OPM sendiri menyangkalnya. Mereka menegaskan bahwa pihaknya sudah lama tidak menggunakan cara-cara kekerasan untuk memperjuangkan Papua Barat.
Jadi siapa sebenarnya yang menjadi dalang dari peristiwa penyanderaan itu? Bagaimana strategi TNI dalam penyanderaan? Mendengar kejadian ini, TNI bergegas untuk segera melakukan pembebasan yang dipimpin oleh Kolonel Larung Nusa yang merupakan bagian dari Satuan Antiteror Kopassus. Banyak kendala yang dialami oleh para TNI, dari kondisi geografisnya yang berbeda jauh dari Jawa.
Dalam proses pembebasan sandera, terdapat korban sipil yang terkena peluru nyasar. Kemudian korban dari OPM sendiri, namun sayangnya korban jatuh juga dialami oleh anggota TNI yaitu Sertu Anam. Awalnya Sertu Anam dikira jatuh ke jurang dan sudah meninggal, jenazahnya tidak ditemukan.
Pagi harinya Mayor Abassia atasan Larung Nusa mendapatkan video penyiksaan Sertu Anam. Tambah satu lagi masalah yang harus diselesaikan TNI. Kemudian TNI membentuk satuan khusus yang bernama Pasukan Hantu. Pasukan Hantu ini dipimpin oleh Larung Nusa dan orang-orang eks-TNI, eks-Kopassus. Dinamakan Pasukan Hantu karena apabila operasi ini gagal orang-orang ini tidak mendapat pengangkatan jabatan, dan apabila orang-orang ini mati tidak dimakamkan secara milliter atau mendapat penghargaan. Orang-orang ini berasal dari bekas anggota TNI atau Kopassus yang di berhentikan secara tidak terhormat karena berbagai alasan.
Senin, 14 Maret 2016
Sepotong Kasih untuk Sahabat
Hari ini pada tanggal 14 Maret 2016 merupakan hari ulang tahun teman sekelasku. Namanya adalah Ariesta Widiyawati. Dia lebih sering dipanggil “Etak”. Etak adalah sosok yang mudah tertawa, suka jerit-jerit histeris dan mudah menangis. Etak adalah salah satu teman karibku di perkuliahan. Gadis itu kurus tinggi.
Sebelum Hari-H aku dan teman-teman Etak sewaktu SMA dulu menyusun rencana untuk memberikan surprise. Kemudian aku mengajak teman-teman kelas untuk mengadakan ritual di kolam Ganesha. Kolam Ganesha biasa digunakan untuk menceburkan teman-teman yang ulang tahun pas hari efektif perkuliahan. Letaknya hanya di depan kelas, jadi tidak jauh dan terlalu berat jika harus membopong salah satu teman yang sedang bertambah umur. Di kolam Ganesha itu banyak ikan-ikan dan lumut. Jadi kalau diceburin di Kolam Ganesha jadi agak amis.
Sayang seribu sayang… Pas tepat hari H, Kolam Ganesha tidak ada airnya, mungkin sedang dikuras, atau ikan-ikannya pada mati. Ah entahlah. Tapi aku gak kehabisan akal. Aku menyuruh temanku untuk mencari tali raffia di Himpunan Mahasiswa (HIMA). Lalu aku mencari telur dan tepung untuk ritual.
Etak kemudian dibopong lalu ditali tangan dan pinggangnya di pohon. Pohon itu strategis karena dekat dengan keran air. Jadi Etak disiram air, tepung dan telur.
Etak menjerit-jerit entah apa yang dirasakan. Dia meronta-ronta, dan akhirnya ikatan talinya bisa dilepaskan. Teman-teman pada kabur semua karena tidak mau kalau sampai di peluk. Karena memang baunya amis gak jelas.
Kemudian aku mengajak Hana, Amal, dan Tie (teman SMA) ke Taman Ganesha. Mereka membawakan kado dan kue. Surpriseeee.... Eta menjerit-jerit gak karuan karena melihat teman-teman SMA-nya. Mungkin Eta kaget, malu, dan bahagia sampai-sampai dia menangis haru. Eta terkejut melihat teman-teman SMAnya bisa sampai di sana. Kemudian lilin pun ditiup dan sepotong kue siap dilahap.
Awalnya rencana itu hampir gagal karena tenyata di jam terakhir tidak ada dosen. Biasanya diskusi lebih dipercepat selesainya. Padahal aku janjian sama Hana, Amal dan Tie jam setengah 5. Pada pukul setengah 4 Hana tak kasih kabar kalau tidak ada dosen, jadi kemungkinan pulang lebih awal. Ternyata Hana belum mandi dan masih di rumah belum lagi njemput Amal dan ambil kue. Padahal perjalanan dari rumah Hana ke kampus lumayan jauh. Kemudian Hana mengubah rencana kalau surprisenya di rumah Etak saja. Tapi aku tetap kekeuh di kampus saja, karena memang momentnya biar dapet. Alhamdulillah diskusi lumayan bisa diajak bekerja sama meskipun tidak ada dosen. Jadi sambil nunggu Hana dan teman-teman datang.
Sip… daaannn berhasil. Misi selesai, meskipun ada sedikit hambatan.
Doa ku untukmu Ariesta Widiyawati, semoga Allah selalu melindungi mu dalam setiap hal, dijauhkan dari segala gangguan, semoga apa yang kamu inginkan dan kamu cita-citakan terkabul. Aamiin...
Sebelum Hari-H aku dan teman-teman Etak sewaktu SMA dulu menyusun rencana untuk memberikan surprise. Kemudian aku mengajak teman-teman kelas untuk mengadakan ritual di kolam Ganesha. Kolam Ganesha biasa digunakan untuk menceburkan teman-teman yang ulang tahun pas hari efektif perkuliahan. Letaknya hanya di depan kelas, jadi tidak jauh dan terlalu berat jika harus membopong salah satu teman yang sedang bertambah umur. Di kolam Ganesha itu banyak ikan-ikan dan lumut. Jadi kalau diceburin di Kolam Ganesha jadi agak amis.
Sayang seribu sayang… Pas tepat hari H, Kolam Ganesha tidak ada airnya, mungkin sedang dikuras, atau ikan-ikannya pada mati. Ah entahlah. Tapi aku gak kehabisan akal. Aku menyuruh temanku untuk mencari tali raffia di Himpunan Mahasiswa (HIMA). Lalu aku mencari telur dan tepung untuk ritual.
Etak kemudian dibopong lalu ditali tangan dan pinggangnya di pohon. Pohon itu strategis karena dekat dengan keran air. Jadi Etak disiram air, tepung dan telur.
Etak menjerit-jerit entah apa yang dirasakan. Dia meronta-ronta, dan akhirnya ikatan talinya bisa dilepaskan. Teman-teman pada kabur semua karena tidak mau kalau sampai di peluk. Karena memang baunya amis gak jelas.
Kemudian aku mengajak Hana, Amal, dan Tie (teman SMA) ke Taman Ganesha. Mereka membawakan kado dan kue. Surpriseeee.... Eta menjerit-jerit gak karuan karena melihat teman-teman SMA-nya. Mungkin Eta kaget, malu, dan bahagia sampai-sampai dia menangis haru. Eta terkejut melihat teman-teman SMAnya bisa sampai di sana. Kemudian lilin pun ditiup dan sepotong kue siap dilahap.
Awalnya rencana itu hampir gagal karena tenyata di jam terakhir tidak ada dosen. Biasanya diskusi lebih dipercepat selesainya. Padahal aku janjian sama Hana, Amal dan Tie jam setengah 5. Pada pukul setengah 4 Hana tak kasih kabar kalau tidak ada dosen, jadi kemungkinan pulang lebih awal. Ternyata Hana belum mandi dan masih di rumah belum lagi njemput Amal dan ambil kue. Padahal perjalanan dari rumah Hana ke kampus lumayan jauh. Kemudian Hana mengubah rencana kalau surprisenya di rumah Etak saja. Tapi aku tetap kekeuh di kampus saja, karena memang momentnya biar dapet. Alhamdulillah diskusi lumayan bisa diajak bekerja sama meskipun tidak ada dosen. Jadi sambil nunggu Hana dan teman-teman datang.
Sip… daaannn berhasil. Misi selesai, meskipun ada sedikit hambatan.
Doa ku untukmu Ariesta Widiyawati, semoga Allah selalu melindungi mu dalam setiap hal, dijauhkan dari segala gangguan, semoga apa yang kamu inginkan dan kamu cita-citakan terkabul. Aamiin...
Jumat, 11 Maret 2016
Perkenankan untuk Perkenalan
Tantangan ODOP untuk minggu ke dua adalah menceritakan tentang diri sendiri. Kalau menceritakan diri sendiri jujur saja aku bingung, karena menurutku aku itu tidak konsisten dan moody banget.
Gadis imut (PD banget gakpapa deh) yang dilahirkan pada tanggal 11 Juli 1994 ini merupakan anak ke dua dari 3 bersaudara. Oleh orang tuanya diberi nama Nurjannah Yuliani Adimurni. Memang benar nama adalah doa, mungkin harapan kedua orang tuaku agar aku bisa menjadi cahaya surga, aamiin.
Temen-temen memanggilku jannah, jun, jan, jen, kadang juga nah gitu. Kalau kata orang aku ini galak, judes, cuek, duh semua keburukan kok ada di aku. Terkadang juga aku ini imut jadi tidak cocok kalau galak. Hehee. Aku adalah gadis yang suka bercanda soalnya kalau spaneng kadang susah buat mikir. Suara ku emang agak berbeda dari yang lain nyaring banget kayak tempolong bocor. Lhoh nyaring kok kayak tempolong, iya suara ku nyempreng kalau kata temen-temen. kalau menurutku sih merdu banget. Hehee
Aku adalah orang yang gak sabaran kalau harus disuruh nunggu. Tapi dibalik hal-hal negative yang aku omongin aku juga orangnya tidak mau menyerah untuk hal yang memang aku inginkan, pokoknya harus dapet. Jannah adalah gadis yang suka memanfaatkan barang-barang bekas dan memamerkannya pada teman-temannya agar memberdayakan barang bekas yang masih dapat dimanfaatkan. Kalau sudah punya inspirasi Jannah bisa menghabiskan waktu liburannya untuk memanfaatkan barang bekas yang dikumpulkannya. Waktu liburan bisa habis hanya untuk menghias kamarnya. Jannah itu orangnya bosenan, jadi dia harus kreatif buat menghias kamarnya sesuai keinginannya. Karena menurutnya kamar adalah surge dunia. Jadi ketika suntuk, marah, bosen, atau apalah-apalah kamar adalah tempat menenangkan diri.
Sudah dulu yaa perkenalannya nanti mala buka aib. Hehee. Kalau penasaran boleh ditanyakan ke orangnya langsung. Hahahahaa
Gadis imut (PD banget gakpapa deh) yang dilahirkan pada tanggal 11 Juli 1994 ini merupakan anak ke dua dari 3 bersaudara. Oleh orang tuanya diberi nama Nurjannah Yuliani Adimurni. Memang benar nama adalah doa, mungkin harapan kedua orang tuaku agar aku bisa menjadi cahaya surga, aamiin.
Temen-temen memanggilku jannah, jun, jan, jen, kadang juga nah gitu. Kalau kata orang aku ini galak, judes, cuek, duh semua keburukan kok ada di aku. Terkadang juga aku ini imut jadi tidak cocok kalau galak. Hehee. Aku adalah gadis yang suka bercanda soalnya kalau spaneng kadang susah buat mikir. Suara ku emang agak berbeda dari yang lain nyaring banget kayak tempolong bocor. Lhoh nyaring kok kayak tempolong, iya suara ku nyempreng kalau kata temen-temen. kalau menurutku sih merdu banget. Hehee
Aku adalah orang yang gak sabaran kalau harus disuruh nunggu. Tapi dibalik hal-hal negative yang aku omongin aku juga orangnya tidak mau menyerah untuk hal yang memang aku inginkan, pokoknya harus dapet. Jannah adalah gadis yang suka memanfaatkan barang-barang bekas dan memamerkannya pada teman-temannya agar memberdayakan barang bekas yang masih dapat dimanfaatkan. Kalau sudah punya inspirasi Jannah bisa menghabiskan waktu liburannya untuk memanfaatkan barang bekas yang dikumpulkannya. Waktu liburan bisa habis hanya untuk menghias kamarnya. Jannah itu orangnya bosenan, jadi dia harus kreatif buat menghias kamarnya sesuai keinginannya. Karena menurutnya kamar adalah surge dunia. Jadi ketika suntuk, marah, bosen, atau apalah-apalah kamar adalah tempat menenangkan diri.
Sudah dulu yaa perkenalannya nanti mala buka aib. Hehee. Kalau penasaran boleh ditanyakan ke orangnya langsung. Hahahahaa
Inspirasi Datanglah
Waktu itu aku sedang suntuk di rumah. Bosan jika hanya makan , tidur, tapi misalkan mau nulis inspirasi lagi buntu. Teringat kata orang-orang kalau saat musim hujan, kemudian malamnya banyak bintang-bintang bertaburan dengan liarnya, esoknya bakalan cerah berawan. Kemudian aku buktikan, banyak benernya juga, tapi pernah meleset juga.
Kemudian aku putuskan untuk keluar rumah, setelah hujan reda untuk sejenak menghirup udara malam yang dinginnya merayapi tubuh. Ku buka pintu dan ku lihat rembulan yang sedang bergurau dengan para bintang. Lalu kutarik nafas panjang sambil melihat angkasa. Indah sekali bintang-bintang dan bulan itu seperti sedang menghiburku dengan gurauan mereka. Dan aku merasakan nikmat yang luar biasa. Masih dapat merasakan nikmat Allah yang tiada tara. Ku tarik nafas lagi, lalu ku lihat ke langit melihat angkasa yang dipenuhi bintang bersinar dengan lantangnya.
Inspirasi-inspirasi pun datang dan membawaku untuk mencurahkan dalam goresan tinta.
“Kau memang indah
Siapapun dapat menikmati senyuman itu
Kau hanya mampu ku pandang
Lalu ku nikmati dalam kerinduan
Kau hanya mampu ku gapai lewat mimpi
Mencuri senyummu
Sebagai obat rindu”
Rabu, 09 Maret 2016
Sepucuk Kasih di Jembatan Kuning
“Ann.. handphone-nya bunyi”, teriak April kakak Ani.
“Yaa bentar”, sambung Ani dari kamar mandi.
Ternyata ada pesan dari Dita kalau Ani diajak mengerjakan tugas kelompok sekaligus berburu durian. Durian, leh uga nih. Gumam Ani. Ani tertarik untuk ikut karena iming-iming duriannya bukan untuk mengerjakan tugas.
“Oke, ntar gue nyusul Dit”, balas Ani.
Ani segera bersiap-siap mandi, ganti baju langseng berangkat. Ani memang jarang dandan, dia adalah orang yang gak PD kalau harus menggunakan make up kecuali kalau didandani pas ada acara tertentu.
Sekitar pukul 10 Ani berangkat.
Ani memilih menggunakan jalan yang pada waktu itu dia pernah bersepeda bareng Ian. Menelusuri jalan itu membuat Ani ingin kembali bersepeda sama Ian. Jalan itu mengingatkan canda tawa dan banyolan Ian. Ian memang orang yang humoris, suka bercanda. Terkadang candanya ini bikin baper. Hehe. Ani juga bukan seorang yang mudah baper, tapi kalau lagi sama Ian, hmmm baperannya parah. Tapi Ani tetap mencoba stay cool.
Setiap centi perjalanan, hanya membuat Ani semakin rindu untuk bertemu dengan Ian lagi. Ani sudah lama tidak bertemu dengan Ian karena kesibukan masing-masing. Setiap centi perjalanan hanya mengisahkan tawa yang terekam jelas dalam benak Ani.
Kalau jalanan sepi Ani pasti menambah kecepatan motornya. Tapi bukan untuk jalan satu ini. Sepanjang jalan ini Ani ingin menikmatinya, apalagi memang pemandangannya bagus. Sawah-sawah yang sedang hijau-hijaunya berlatar belakang pegunungan yang hijau pula.
Ani sadar kalau sekarang pertemanan dengan Ian sedang renggang karena sedang sibuk. Mungkin memang Ian sedang sibuk bekerja, atau ada perempuan lain yang sudah membuat Ian terpana, ahh semoga saja tidak.
Tiba-tiba pikiran itu muncul disela-sela bayangan indah pada Ian. Ani pun hanya menerka-nerka, karena memang Ani takut untuk menghubungi duluan.
Setiap seseorang yang hadir dalam hidup, aka nada porsi sendiri, cerita tersendiri, entah meninggalkan bahagia atau luka, atau akan hidup bersama kenangan itu.
Melewati Jembatan Kuning itu Ani dan Ian pernah menikmati senja dan fajar bersama. Setiap bersepeda pasti berhenti di Jembatan Kuning.
Senja membawa Ani tenggelam dalam pelukan mentari. Mentari seakan ikut menenggelamkan mimpi-mimpi bersama Ian. Tapi Ian juga memberi harapan bersama terbitnya mentari pagi. Lalu mentari terbangun bersama pesona dan wangi tubuhnya. Mentari memberi harapan memulai hari dengan doa dan harapan serta senyuman.
Teringat senyuman itu membuat Ani teringat lagi. Ahh aku ini apa, aku ini hanya seperti pungguk merindukan bulan. Aku ini apa. Rasa pesimis itu mulai menghinggapi pikiran Ani.
Tiba-tiba tersadar kalau rumah Indro sudah dekat.
Selasa, 08 Maret 2016
Ku Putuskan Menulis Saja
Takut, malu, pesimis, merupakan bayangan yang aku rasakan ketika ingin menuangkan ideku dalam bentuk tulisan. Takut apabila orang mengkritik pedas, dicemooh, di jugde hingga aku sendiri takut keluar dari zona nyaman. Mungkin saja aku terlalu keenakan dengan zonaku, rasanya seperti tidak ada yang bisa aku banggakan. Aku merasa hidupku hanya monoton saja. Kalau diibaratkan kertas, tidak ada coretannya, dan tidak mau untuk dicorat-coret. Tetap dibiarkan bersih.
Pada suatu ketika aku berkeinginan untuk keluar dari zona itu. Aku ingin belajar menulis. Aku ingin memerdekakan diriku sendiri. Mengungkapkan apa yang ingin aku ungkapkan. Percuma saja punya ide brilian tapi hanya disimpan sendiri.
Awalnya aku ikut latihan kepenulisan di awal-awal semester. Yang aku dapatkan dari latihan kepenulisan hanyalah sertifikat. Menurutku hal itu percuma saja karena tidak membangkitkan semangat untuk menulis. Terlalu banyak teori, tapi prakteknya tidak ada. Akhirnya aku diajak temenku main ke warung kopi diajak wawancara sekalian nanti belajar buat nulis. Ternyata menulis itu enak kalau langsung praktek, jadi kalau ada kesulitan bisa ditanyakan atau mungkin dengan mengikuti workshop.
Ketika menulis kemudian diupload di media sosial banyak tanggapan positif yang memacu semangatku. Mendapat kritik dan saran rasanya senang sekali, berarti mereka peduli denganku, tidak seperti yang aku takutkan sebelum aku mencobanya. Dari itu aku belajar untuk tidak takut sebelum mencoba, apalagi menyerah sebelum berperang.
Pada suatu ketika aku berkeinginan untuk keluar dari zona itu. Aku ingin belajar menulis. Aku ingin memerdekakan diriku sendiri. Mengungkapkan apa yang ingin aku ungkapkan. Percuma saja punya ide brilian tapi hanya disimpan sendiri.
Awalnya aku ikut latihan kepenulisan di awal-awal semester. Yang aku dapatkan dari latihan kepenulisan hanyalah sertifikat. Menurutku hal itu percuma saja karena tidak membangkitkan semangat untuk menulis. Terlalu banyak teori, tapi prakteknya tidak ada. Akhirnya aku diajak temenku main ke warung kopi diajak wawancara sekalian nanti belajar buat nulis. Ternyata menulis itu enak kalau langsung praktek, jadi kalau ada kesulitan bisa ditanyakan atau mungkin dengan mengikuti workshop.
Ketika menulis kemudian diupload di media sosial banyak tanggapan positif yang memacu semangatku. Mendapat kritik dan saran rasanya senang sekali, berarti mereka peduli denganku, tidak seperti yang aku takutkan sebelum aku mencobanya. Dari itu aku belajar untuk tidak takut sebelum mencoba, apalagi menyerah sebelum berperang.
Senin, 07 Maret 2016
Sudut Kota Jogja
Kota Pelajar, Kota Pendidikan, Kota Budaya, Kota Angkringan, Jogja Istimewa. Banyak julukan untuk Yogyakarta. Anies Baswedan juga pernah mengatakan kalau setiap sudut Kota Jogja itu romantis. Hmmm romantis, emang iya ngobrol dengan pacar atau keluarga di angkringan pun sudah terasa romantis. Setiap orang yang pernah singgah ke Jogja pasti ingin kembali, entah karena keramahan orangnya, makanan khasnya, suasananya.
Mendengar teman ketika balik ke Jogja sekarang, pendapatnya adalah kalau Jogja tambah panas dan tambah macet. Memang benar saya saja yang tinggal di Jogja terus merasakan seperti itu. Sekarang julukan untuk Jogja bisa juga dijuluki “seribu satu hotel”. Karena semakin banyak hotel yang dibangun di Kota Budaya ini. Malahan ijin pendirian hotel sudah banyak yang masuk tinggal mendirikan. Ada lagi kalau mendirikan hotel terlebih dahulu kemudian ijinnya belakangan kalau hotelnya sudah jadi. Kalau hotelnya sudah jadi kan gak mungkin kalau dirobohkan. Sawah-sawah yang hijau menyegarkan mata berubah menjadi bangunan menjulang tinggi. Saya heran nantinya mau makan pakai apa kalau padi-padinya berubah menjadi adukan semen.
Hotel-hotel banyak yang dibangun tapi tidak diimbangi dengan ruang terbuka hijau. Taman-taman hijau di Jogja kurang. Mungkin harus pergi ke desa-desa untuk menikmati udara segar.
Mendengar teman ketika balik ke Jogja sekarang, pendapatnya adalah kalau Jogja tambah panas dan tambah macet. Memang benar saya saja yang tinggal di Jogja terus merasakan seperti itu. Sekarang julukan untuk Jogja bisa juga dijuluki “seribu satu hotel”. Karena semakin banyak hotel yang dibangun di Kota Budaya ini. Malahan ijin pendirian hotel sudah banyak yang masuk tinggal mendirikan. Ada lagi kalau mendirikan hotel terlebih dahulu kemudian ijinnya belakangan kalau hotelnya sudah jadi. Kalau hotelnya sudah jadi kan gak mungkin kalau dirobohkan. Sawah-sawah yang hijau menyegarkan mata berubah menjadi bangunan menjulang tinggi. Saya heran nantinya mau makan pakai apa kalau padi-padinya berubah menjadi adukan semen.
Hotel-hotel banyak yang dibangun tapi tidak diimbangi dengan ruang terbuka hijau. Taman-taman hijau di Jogja kurang. Mungkin harus pergi ke desa-desa untuk menikmati udara segar.
Jumat, 04 Maret 2016
Syair Rindu
Tuhan
Apakah kau sedang merindukanku
Merindukanku melantunkan syair-syair terindahmu
Apakah firasat hati ini seruanmu
Gundah
Khawatir
Takut
Sedih
Apa benar engkau merindukanku
Merindukanku berserah hanya kepadamu
Memanjatkan segala keinginan
Dan khawatir
Tuhan
Tenangkan hati ini
Yakinkan aku
Bahwa engkau
Selalu melindungiku …
Apakah kau sedang merindukanku
Merindukanku melantunkan syair-syair terindahmu
Apakah firasat hati ini seruanmu
Gundah
Khawatir
Takut
Sedih
Apa benar engkau merindukanku
Merindukanku berserah hanya kepadamu
Memanjatkan segala keinginan
Dan khawatir
Tuhan
Tenangkan hati ini
Yakinkan aku
Bahwa engkau
Selalu melindungiku …
Kamis, 03 Maret 2016
terserah ???
Baru hari keempat udah bingung mau posting apa di ODOP. Sedih. Udah kayak kehilangan makanan. Eh malah makanan yang dipikir. Tapi kok gak gemuk-gemuk. Mungkin memang udah dasarnya begitu. Hehehe.
Oh yaa. Ngomong-ngomong soal laki-laki bagaimana pendapatmu jika laki laki itu bilang terserah. Serasa pingin banting piring, gelas, buang makanan. Eh makanan lagi yang diomongin. Maapkeun, khilap. Hehehe. Terus- terus kembali ke pertanyaan “Apa yang anda pikirkan jika seorang calon pemimpin ditanya mau kemana? Mau apa? Jawabannya terserah.” Pasti bikin geram. Kalau sedang bertanya baik-baik jawabannya terserah. Bikin geregetan. Apa lagi kata terserah dilontarkan oleh seorang laki-laki yang mana merupakan bakal calon pemimpin. Apa lagi nanti menjadi pemimpin keluarga. Mendengar temanku saja ketika menjawab dengan “terserah” langsung males kalau mau melanjutkan percakapan.
Menurut pendapatku seorang pemimpin harus mempunyai pilihan dan alasan. Masalah nanti pilihannya itu akan diterima atau tidak yang penting udah punya alasan terlebih dahulu. Mungkin bisa dikata merdeka karena bisa mengutarakan pemikirannya. Perempuan manapun akan tetap menghargai apabila mempunyai alasan yang masuk akal.
Oh yaa. Ngomong-ngomong soal laki-laki bagaimana pendapatmu jika laki laki itu bilang terserah. Serasa pingin banting piring, gelas, buang makanan. Eh makanan lagi yang diomongin. Maapkeun, khilap. Hehehe. Terus- terus kembali ke pertanyaan “Apa yang anda pikirkan jika seorang calon pemimpin ditanya mau kemana? Mau apa? Jawabannya terserah.” Pasti bikin geram. Kalau sedang bertanya baik-baik jawabannya terserah. Bikin geregetan. Apa lagi kata terserah dilontarkan oleh seorang laki-laki yang mana merupakan bakal calon pemimpin. Apa lagi nanti menjadi pemimpin keluarga. Mendengar temanku saja ketika menjawab dengan “terserah” langsung males kalau mau melanjutkan percakapan.
Menurut pendapatku seorang pemimpin harus mempunyai pilihan dan alasan. Masalah nanti pilihannya itu akan diterima atau tidak yang penting udah punya alasan terlebih dahulu. Mungkin bisa dikata merdeka karena bisa mengutarakan pemikirannya. Perempuan manapun akan tetap menghargai apabila mempunyai alasan yang masuk akal.
Rabu, 02 Maret 2016
Kuseduh Secangkir Kopi Lereng Merapi
Siapa yang tidak mengenal bubuk coklat kehitaman yang pas diseduh dengan air panas? Siapapun sudah mengenalnya. Minuman berwarna coklat kehitaman dengan aroma yang khas ini membawa saya untuk menikmati kopi di lereng Merapi. Tidak heran jika saya menyempatkan pergi setelah kuliah untuk menikmati secangkir kopi lereng Merapi ditemani semilir angin dan senja. Secangkir kopi ditambah dengan pisang goreng menambah kenikmatan. Suasana yang sia-sia apabila dilewatkan begitu saja tanpa bercumbu dengan angin malam.
Sore itu setelah selesai kuliah saya dan teman pergi ke lereng Merapi. Tujuan utamanya adalah mendatangi kedai kopi yang berada di Desa Wisata Petung Desa Kepuharjo Cangkringan (dibawah rumah Alm Mbah Maridjan). Apabila akan menuju museum sisa hartaku akan melewati kedai kopi ini. Kedai kopi ini bernama “Kedai Kopi Merapi” satu-satunya di daerah tersebut. Kedai ini dikelola oleh Ibu Sukirah (41 tahun). Kedai yang buka dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam ini menyediakan kopi arabika dan robusta. Akan tetapi untuk mencapai kedai kopi ini harus melewati jalan yang belum beraspal sekitar hampir 2 km. Jalan ini cocok sekali dilewati para pengguna motor trail dan mobil jeep. Setelah sampai tempat tujuan, pengunjung akan disuguhi warung sederhana yang dipadu padankan dengan pemandangan khas lereng Merapi.
Kedai kopi ini dibangun setelah erupsi Merapi tepatnya pada tahun 2013. Di kedai ini selain mendapatkan pemandangan Gunung Merapi di sebelah utara, pengunjung juga mendapatkan pemandangan kota Jogja. Tidak hanya itu pengunjung juga disuguhi kedai khas ndeso yang dihiasi batu-batuan besar bekas erupsi Merapi. Ketika malam hari yang cerah bintang bertaburan disertai suara hewan malam seperti jangkrik. Kedai ini cocok bagi pengunjung yang bosan dengan rutinitas di kota. Ketika langit cerah kegagahan Merapi akan terlihat jelas. Letak yang strategis untuk menikmati kopi hingga malam hari.
Kopi yang disuguhkan disini asli berasal dari lereng Merapi dan ditanam oleh para petani sendiri. Para petani kopi mendirikan koperasi yang diketuai oleh suami Ibu Sukirah. Koperasinya sendiri berada di Jalan Kaliurang km. 20. Awalnya ibu Sukirah mengolah sendiri biji-biji kopinya. Setelah adanya koperasi Ibu Sukirah mengolahnya di koperasi bersama anggota kelompok. Anggota koperasi ini sering mengikuti pameran dikota untuk mempromosikan kopi Merapi. Selain itu hasil kopi-kopi olahan tersebut dipasarkan di café-café hingga ke luar daerah. Meskipun kopi-kopinya diolah oleh kelompok koperasi, kedai kopi ini dikelola sendiri oleh Ibu Sukirah (milik pribadi). Akan tetapi Ibu Sukirah tinggal dirumah muntab tempat relokasi korban erupsi Merapi.
Hal yang membedakan kopi Merapi dengan kopi lainnya adalah asli dari lereng Merapi yang ditanam menggunakan pupuk organik bekas erupsi abu Merapi. Cara menghaluskannya pun masih dengan cara sederhana dengan ditumbuk menggunakan lumpang dan kemudian disangrai. Tak heran jika kopi Merapi memiliki kenikmatan tersendiri bagi para pecinta kopi.
Kebanyakan pengunjung yang datang kesini adalah mahasiswa, keluarga dan rombongan wisatawan. Kalau pas hari biasa pengunjung kebanyakan mahasiswa. Tempat ini cocok untuk melepas penat ketika wisatawan sudah menikmati area wisata Kaliurang. Setiap pengunjung akan memiliki cerita tersendiri di sudut utara kota Jogja. Banyak pengunjung yang memang menyempatkan datang kesini. Romantisme pemandangan serta kegagahan Merapi akan meninggalkan kesan tersendiri bagi pengunjung. Menikmati setiap srutupan kopi Merapi langsung oleh penanamnya dengan semilir angin lereng Merapi meninggalkan kenikmatan tersendiri bagi para pecintanya. Siapapun pengunjung akan ketagihan untuk datang kembali.
__________________________________
Dulu pernah di posting di Kopikeliling dan yang tak posting di blog sendiri tak edit sedikit.
Sore itu setelah selesai kuliah saya dan teman pergi ke lereng Merapi. Tujuan utamanya adalah mendatangi kedai kopi yang berada di Desa Wisata Petung Desa Kepuharjo Cangkringan (dibawah rumah Alm Mbah Maridjan). Apabila akan menuju museum sisa hartaku akan melewati kedai kopi ini. Kedai kopi ini bernama “Kedai Kopi Merapi” satu-satunya di daerah tersebut. Kedai ini dikelola oleh Ibu Sukirah (41 tahun). Kedai yang buka dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam ini menyediakan kopi arabika dan robusta. Akan tetapi untuk mencapai kedai kopi ini harus melewati jalan yang belum beraspal sekitar hampir 2 km. Jalan ini cocok sekali dilewati para pengguna motor trail dan mobil jeep. Setelah sampai tempat tujuan, pengunjung akan disuguhi warung sederhana yang dipadu padankan dengan pemandangan khas lereng Merapi.
Kedai kopi ini dibangun setelah erupsi Merapi tepatnya pada tahun 2013. Di kedai ini selain mendapatkan pemandangan Gunung Merapi di sebelah utara, pengunjung juga mendapatkan pemandangan kota Jogja. Tidak hanya itu pengunjung juga disuguhi kedai khas ndeso yang dihiasi batu-batuan besar bekas erupsi Merapi. Ketika malam hari yang cerah bintang bertaburan disertai suara hewan malam seperti jangkrik. Kedai ini cocok bagi pengunjung yang bosan dengan rutinitas di kota. Ketika langit cerah kegagahan Merapi akan terlihat jelas. Letak yang strategis untuk menikmati kopi hingga malam hari.
Kopi yang disuguhkan disini asli berasal dari lereng Merapi dan ditanam oleh para petani sendiri. Para petani kopi mendirikan koperasi yang diketuai oleh suami Ibu Sukirah. Koperasinya sendiri berada di Jalan Kaliurang km. 20. Awalnya ibu Sukirah mengolah sendiri biji-biji kopinya. Setelah adanya koperasi Ibu Sukirah mengolahnya di koperasi bersama anggota kelompok. Anggota koperasi ini sering mengikuti pameran dikota untuk mempromosikan kopi Merapi. Selain itu hasil kopi-kopi olahan tersebut dipasarkan di café-café hingga ke luar daerah. Meskipun kopi-kopinya diolah oleh kelompok koperasi, kedai kopi ini dikelola sendiri oleh Ibu Sukirah (milik pribadi). Akan tetapi Ibu Sukirah tinggal dirumah muntab tempat relokasi korban erupsi Merapi.
Hal yang membedakan kopi Merapi dengan kopi lainnya adalah asli dari lereng Merapi yang ditanam menggunakan pupuk organik bekas erupsi abu Merapi. Cara menghaluskannya pun masih dengan cara sederhana dengan ditumbuk menggunakan lumpang dan kemudian disangrai. Tak heran jika kopi Merapi memiliki kenikmatan tersendiri bagi para pecinta kopi.
Kebanyakan pengunjung yang datang kesini adalah mahasiswa, keluarga dan rombongan wisatawan. Kalau pas hari biasa pengunjung kebanyakan mahasiswa. Tempat ini cocok untuk melepas penat ketika wisatawan sudah menikmati area wisata Kaliurang. Setiap pengunjung akan memiliki cerita tersendiri di sudut utara kota Jogja. Banyak pengunjung yang memang menyempatkan datang kesini. Romantisme pemandangan serta kegagahan Merapi akan meninggalkan kesan tersendiri bagi pengunjung. Menikmati setiap srutupan kopi Merapi langsung oleh penanamnya dengan semilir angin lereng Merapi meninggalkan kenikmatan tersendiri bagi para pecintanya. Siapapun pengunjung akan ketagihan untuk datang kembali.
__________________________________
Dulu pernah di posting di Kopikeliling dan yang tak posting di blog sendiri tak edit sedikit.
Selasa, 01 Maret 2016
Mengapa Bergabung di One Day One Post (ODOP)
Kali ini saya akan menulis tentang mengapa aku bergabung dengan One Day One Post (ODOP). Gerakan ini digagas oleh Bang Syaiha yang mana memperbolehkan siapa saja yang mau bergabung, asalkan mempunyai komitmen untuk menulis.
Setiap seminggu tantangannya berbeda-beda. Tantangan pada minggu pertama adalah menulis minimal 10 kalimat bebas. Dan dalam seminggu itu diwajibkan untuk memposting “Mengapa bergabung di ODOP” satu kali saja yang lainnnya bebas.
Awalnya saya menemukan ODOP gara-gara lihat di FB. Padahal jarang sekali membuka facebook. Tapi kalau sudah jodoh tidak akan kemana pasti akan bertemu. Hehehe iya berjodoh bertemu gerakan menulis setiap hari. Dengan begitu saya langsung memutuskan untuk bergabung. Apalagi semangat menulis saya masih males-malesan, kadang nulis kadang enggak. Mungkin dengan ikut bergabung dengan teman-teman yang sehobi dapat memacu semangatku untuk lebih giat dan mengembangkan keinginan menulis. Menulis kan juga butuh pembiasaan. Semoga aku bisa konsisten menulis terus.
#ODOP hari 2
Setiap seminggu tantangannya berbeda-beda. Tantangan pada minggu pertama adalah menulis minimal 10 kalimat bebas. Dan dalam seminggu itu diwajibkan untuk memposting “Mengapa bergabung di ODOP” satu kali saja yang lainnnya bebas.
Awalnya saya menemukan ODOP gara-gara lihat di FB. Padahal jarang sekali membuka facebook. Tapi kalau sudah jodoh tidak akan kemana pasti akan bertemu. Hehehe iya berjodoh bertemu gerakan menulis setiap hari. Dengan begitu saya langsung memutuskan untuk bergabung. Apalagi semangat menulis saya masih males-malesan, kadang nulis kadang enggak. Mungkin dengan ikut bergabung dengan teman-teman yang sehobi dapat memacu semangatku untuk lebih giat dan mengembangkan keinginan menulis. Menulis kan juga butuh pembiasaan. Semoga aku bisa konsisten menulis terus.
#ODOP hari 2
Senin, 29 Februari 2016
"bu..ibu.. Aku harus bagaimana?" teriak Ani dalam hati.
Aku takut ibu, aku takut.
Tadi siang aku pergi ke perpustakaan untuk mengembalikan buku dan ingin men-charger laptop. Namun akhirnya gak jadi karena bertemu orang yang membuat Ani takut. Ani bertemu dengan Doni. Doni adalah orang yang menyukai Ani. Pada saat di Doni melihat Ani dan menyapanya. Ani hanya membalas dengan senyumannya, lalu lanjut masuk perpustakaan. Doni mengikuti Ani untuk mengajak ngobrol. Tapi di situ Ani bingung dengan sifat Doni yang dengan PD-nya bilang "aku penasaran dengan orang ini." Ani bingung disitu sekaligus malu karena banyak orang disitu yang Ani kenal.
Ani pun cepat-cepat pergi dari perpustakaan. Doni tidak hanya berhenti begitu saja. Di luar perpustakaan, Doni memegang tangan Ani. Kejadian itu membuat Ani semakin bingung dan takut. Entah apa yang membuat Ani takut.
bersambung...
Aku takut ibu, aku takut.
Tadi siang aku pergi ke perpustakaan untuk mengembalikan buku dan ingin men-charger laptop. Namun akhirnya gak jadi karena bertemu orang yang membuat Ani takut. Ani bertemu dengan Doni. Doni adalah orang yang menyukai Ani. Pada saat di Doni melihat Ani dan menyapanya. Ani hanya membalas dengan senyumannya, lalu lanjut masuk perpustakaan. Doni mengikuti Ani untuk mengajak ngobrol. Tapi di situ Ani bingung dengan sifat Doni yang dengan PD-nya bilang "aku penasaran dengan orang ini." Ani bingung disitu sekaligus malu karena banyak orang disitu yang Ani kenal.
Ani pun cepat-cepat pergi dari perpustakaan. Doni tidak hanya berhenti begitu saja. Di luar perpustakaan, Doni memegang tangan Ani. Kejadian itu membuat Ani semakin bingung dan takut. Entah apa yang membuat Ani takut.
bersambung...
Indahnya Kebun Krisan
Plan.. plan..plan.. Sering sekali hanya berencana tapi menunda-nunda agenda yang udah dibikin. Aku harus melaksanakan agenda untuk menghilangkan jenuh yang sedang melanda. Entah kemana. Aku harus pergi. Merencanakan sesuatu untuk sekedar refreshing. Lagi pula besok kuliah banyak yang kosong karena dosen banyak yang pergi mendampingi Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ke Bali selama lima hari. Iya seminggu tanpa dosen. Hanya satu dua dosen saja yang dapat mengajar.
Kuputuskan untuk pergi ke kebun krisan di Kaliurang. Malamnya aku browsing-browsing dulu dimana harus aku mencari kebun krisan yang akan ku tuju. Sekitar Jalan Kaliurang km 20, 21, atau 22. Oke aku harus punya bahan agar aku tidak kebingungan untuk mencari sasaran (tujuanku). Aku mengajak Eta temanku. Eta pernah pergi ke kebun krisan di Kaliurang. Sayangnya dia gak ketemu kebun krisan malahan ketemu kebun salak. Hahhaha. Eta memakai maps dan mala kesasar ke kebun salak. Duh kasian banget ya. Maka dari itu aku browsing-browsing dulu biar gak kesasar.
Paginya semangat kuliah pun meningkat, namun tiba-tiba ketemu gerombolan temen-temen yang akan pergi ke Ponorogo untuk main. Sebenarnya aku pingin banget ikut kesana, tapi dompet sedang seret karena akhir pekan akan berkunjung ke Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Ya aku harus memilih. Kuputuskan untuk pergi ke UPI saja dulu, besok lain kali bisa mengompori temen-temen ke Ponorogo lagi. Gara-gara ketemu anak itu rasanya semangat kuliah menurun. ah payah sekali rasanya aku ini. Senin yang labil. Masuk kelas pun telat gegara sudah tau gak ada dosen. Tapi ketika masuk kelas semangat kuliah pun meningkat lagi. Ini gegara bahasan mata kuliah yang bagus, dan memang aku memaksakan harus mendengarkan presentasi. Memang harus dipaksa mencari titik temu kenyamanan.
Kuliah jam pertama pun usai. Aku bersama Eta pergi ke Kaliurang. Tepatnya ke Jalan Kaliurang mulai kilometer 20 mataku mulai tengak-tengok kanan-kiri mencari rumah plastik yang ditanami bunga krisan. Sebenarnya antara km. 20 sampai 22 sudah banyak terlihat rumah plastik. Tapi aku harus pandai memilih rumah krisan yang bunganya sedang mekar dan belum dipanen. Ya aku nemu di Jalan Kaliurang km. 21,5 milik Bapak Sumidi. Memang kadang rumah plastik itu tidak dijaga sama yang punya, dan kita pun tidak enak jika harus masuk nyelonong tanpa ijin empunya. Apalagi di deket tempat tersebut ada anjing yang menggonggong. Alamak takut sekali.
Akhirnya kita pun pindah tempat, dan terlihat dari jauh kalo di sekitar rumah plastik itu ada seorang bapak yang sedang mencangkul disawah. Perkiraannya mungkin bapak itu yang punya rumah krisan. Aku Tanya lah sama bapak itu. Ternyata bukan. Tapi bapak itu menunjukkan seorang bapak di sebalah barat yang sedang menanam loncang bernama bapak Sumidi yang mempunyai kebun krisan yang sedang berbunga. Alhamdulillah dapat petunjuk. Aku datangi Bapak Sumidi untuk meminta ijin melihat tanaman krisan dikebun miliknya. Bapak Sumidi pun bilang kalo bunganya juga akan panen pada hari itu juga. Bahagia sekali aku bisa menemukan waktu yang pas. Kalau dalam bahasa jawa bejo.
Ketika masuk ke kebun krisan kita tidak diijinkan untuk membawa tas, sebab dikhawatirkan tas kita akan menyentuh bunga krisan yang sudah mekar dan akan merusaknya. Masuk kebun Krisan ini pun tidak dikenakan biaya masuk. Alias GRATIS. Hehehhe.
Siap sediakan kamera bagi pecinta foto. Jepret sana jepret sini. Hehehe. Kita pun diijinkan untuk membantu memanen bunga krisan. Setiap ikat berisi 11 tangkai bunga. Pengalaman baru nih. Bunga krisan ini panen setiap 3 bulan sekali. Cepat sekali. Aku pun membayangkan jika memiliki kebun bunga krisan kemudian tiap hari bisa melihat bunga-bunga yang indah nan cantik ini seneng sekali rasanya.
Kuputuskan untuk pergi ke kebun krisan di Kaliurang. Malamnya aku browsing-browsing dulu dimana harus aku mencari kebun krisan yang akan ku tuju. Sekitar Jalan Kaliurang km 20, 21, atau 22. Oke aku harus punya bahan agar aku tidak kebingungan untuk mencari sasaran (tujuanku). Aku mengajak Eta temanku. Eta pernah pergi ke kebun krisan di Kaliurang. Sayangnya dia gak ketemu kebun krisan malahan ketemu kebun salak. Hahhaha. Eta memakai maps dan mala kesasar ke kebun salak. Duh kasian banget ya. Maka dari itu aku browsing-browsing dulu biar gak kesasar.
Paginya semangat kuliah pun meningkat, namun tiba-tiba ketemu gerombolan temen-temen yang akan pergi ke Ponorogo untuk main. Sebenarnya aku pingin banget ikut kesana, tapi dompet sedang seret karena akhir pekan akan berkunjung ke Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Ya aku harus memilih. Kuputuskan untuk pergi ke UPI saja dulu, besok lain kali bisa mengompori temen-temen ke Ponorogo lagi. Gara-gara ketemu anak itu rasanya semangat kuliah menurun. ah payah sekali rasanya aku ini. Senin yang labil. Masuk kelas pun telat gegara sudah tau gak ada dosen. Tapi ketika masuk kelas semangat kuliah pun meningkat lagi. Ini gegara bahasan mata kuliah yang bagus, dan memang aku memaksakan harus mendengarkan presentasi. Memang harus dipaksa mencari titik temu kenyamanan.
Kuliah jam pertama pun usai. Aku bersama Eta pergi ke Kaliurang. Tepatnya ke Jalan Kaliurang mulai kilometer 20 mataku mulai tengak-tengok kanan-kiri mencari rumah plastik yang ditanami bunga krisan. Sebenarnya antara km. 20 sampai 22 sudah banyak terlihat rumah plastik. Tapi aku harus pandai memilih rumah krisan yang bunganya sedang mekar dan belum dipanen. Ya aku nemu di Jalan Kaliurang km. 21,5 milik Bapak Sumidi. Memang kadang rumah plastik itu tidak dijaga sama yang punya, dan kita pun tidak enak jika harus masuk nyelonong tanpa ijin empunya. Apalagi di deket tempat tersebut ada anjing yang menggonggong. Alamak takut sekali.
Akhirnya kita pun pindah tempat, dan terlihat dari jauh kalo di sekitar rumah plastik itu ada seorang bapak yang sedang mencangkul disawah. Perkiraannya mungkin bapak itu yang punya rumah krisan. Aku Tanya lah sama bapak itu. Ternyata bukan. Tapi bapak itu menunjukkan seorang bapak di sebalah barat yang sedang menanam loncang bernama bapak Sumidi yang mempunyai kebun krisan yang sedang berbunga. Alhamdulillah dapat petunjuk. Aku datangi Bapak Sumidi untuk meminta ijin melihat tanaman krisan dikebun miliknya. Bapak Sumidi pun bilang kalo bunganya juga akan panen pada hari itu juga. Bahagia sekali aku bisa menemukan waktu yang pas. Kalau dalam bahasa jawa bejo.
Ketika masuk ke kebun krisan kita tidak diijinkan untuk membawa tas, sebab dikhawatirkan tas kita akan menyentuh bunga krisan yang sudah mekar dan akan merusaknya. Masuk kebun Krisan ini pun tidak dikenakan biaya masuk. Alias GRATIS. Hehehhe.
Siap sediakan kamera bagi pecinta foto. Jepret sana jepret sini. Hehehe. Kita pun diijinkan untuk membantu memanen bunga krisan. Setiap ikat berisi 11 tangkai bunga. Pengalaman baru nih. Bunga krisan ini panen setiap 3 bulan sekali. Cepat sekali. Aku pun membayangkan jika memiliki kebun bunga krisan kemudian tiap hari bisa melihat bunga-bunga yang indah nan cantik ini seneng sekali rasanya.
Jumat, 26 Februari 2016
Lelaki Idolaku
Aku tahu ayah adalah orang luar biasa dalam keluargaku. Dia tidak menuntut banyak dari anak-anaknya. Dia Tidak banyak bicara, menyuruh ini itu atau yang lainnya. Dia tidak banyak menyuruh, tapi selagi bisa dilakukannya sendiri dia lakukan sendiri. Akan tetapi dari hal itu aku bisa banyak belajar dari dia, terutama kesabarannya yang luar biasa. Tidak pernah marah dan mengeluh. Dia pun mau mendengarkan masukan dari anaknya. AKu pernah mengingatkan ayahku kalau minum itu duduk. Sejak itu setiap akuk melihatnya mesti duduk kalau makan dan minum. Padahal sebelunya aku sering melihat ayah minum mesti berdiri. Aku seneng banget kalau ocehanku ini didengarkan. Dan tidak hanya itu saja banyak kok masukanku yang didengar olehnya.
Apabila aku salah juga gak pernah dimarahin, mungkin ngedumel aja tapi gak parah kok, aku senyumin aja udah baikan lagi. hahaa. Dengan sikapnya yang begitu aku gak pingin bikin dia kecewa. Dan satu lagi dia gak banyak omong tapi banyak bertindak. Jadi gak nyuruh dan langung dia praktekin. Misalnya dia gak nyuruh shalat, tapi dia shalat diawal waktu. Dengan begitu aku pun tak mau kalah buat segera menunaikan ibadah,. ehee.
Apabila aku salah juga gak pernah dimarahin, mungkin ngedumel aja tapi gak parah kok, aku senyumin aja udah baikan lagi. hahaa. Dengan sikapnya yang begitu aku gak pingin bikin dia kecewa. Dan satu lagi dia gak banyak omong tapi banyak bertindak. Jadi gak nyuruh dan langung dia praktekin. Misalnya dia gak nyuruh shalat, tapi dia shalat diawal waktu. Dengan begitu aku pun tak mau kalah buat segera menunaikan ibadah,. ehee.
Langganan:
Komentar (Atom)






