Pagi itu mentari menyapaku dengan semringah. Aku pun memanfaatkan waktuku denga baik. Lagipula sedang libur. Sudah aku rencanakan waktu liburku untuk membersihkan akuarium, membereskan kamar, mencuci, dan membantu ibu mencabuti rumput taman.
“Dek sarapan dulu yuk,” ajak ibu setelah selesai menyapu halaman.
“Pakai apa?” sahutku.
“Ada lauk yang ibu simpan di kulkas, di goreng lagi, sama ada sayur tadi pagi ibu sudah beli di pasar. Ibu mau mandi dulu.”
“Ya bu.” Sambil berjalan menuju dapur.
Tiba-tiba ibu menyusul ke dapur. Dengan raut muka seperti akan menangis.
“Dek, kamu gak ngerasain detik-detik terakhir?”
“Ha, detik-detik terakhir apa?” sahutku dengan penasaran.
“Detik-detik ditinggal kakakmu ke Bali nanti. Kemarin ibu tanya cerita sama kakakmu, besok baju-bajunya juga mau di bawa ke Bali, dimasukin tas, lalu kamar kakakmu sepi.” Cerita ibu sambil mbrebes mili (mau menangis).
Kemudian, aku menjawabnya dengan kata tidak. Maksudnya meskipun akan ditinggal kakak menikah kemudian ikut suaminya ke Bali aku merasa biasa saja. Mungkin tidak sampai 2 bulan kakakku akan menikah. Jarak Jogja-Bali lumayan jauh. Apalagi katanya Bali yang deket dengan Lombok.
“Gimana kamu itu, gak ada rasa kasih sayangnya sama kakakmu sendiri.” Ungkap ibu sambil balik arah mengambil handuk.
Sambil mengupas bawang putih, aku termenung. Apa iya aku tidak punya kasih sayang pada kakakku, mungkin aku akan merasa kehilangan kalau kakakku sudah tidak di rumah lagi. Mungkin merasa kehilangan karena tidak ada yang diajak berantem selain sama adekku, dan tidak ada lagi yang bisa diajak tukeran baju. Heheehee.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar