Kamis, 31 Maret 2016

Sehari di Kulonprogo

Disela-sela perkuliahan aku menyempatkan pergi ke Kulonprogo untuk mencari data-data tugas penelitianku. Kulonprogo mempunyai semboyan "Binangun" itu terletak di sebelah barat kota Yogyakarta. Aku mengunjungi berbagai instansi pemerintah, seperti Bappeda, Dinas Kebudayaan, Dinas pengairan, Kantor Pertanahan, DPU, Badan Sipil, Dinas Pariwisata, Dinas transmigrasi, dan Kantor Arsip. Banyak memang, karena sebagian temanku yang membutuhkan.

Hari itu hanya ada satu jadwal kuliah pagi. Jadi lumayan sisa waktunya bisa digunakan untuk mencari data. Dalam pelayanannya di kantor pemerintahan, ada yang dipermudah, namun ada pula yang lempar sana lempar sini. Misalnya kalau tentang masalah waduk bukan kewenangan kami, tapi kewenangan balai besar. Tapi nanti setelah di datangi instant terkait bukan kewenangannya. Atau masalah lain surat ijinnya masih perlu dilengkapi. Aku belajar sabar dan pantang menyerah, meskipun juga lelah dan pingin menyerah. Sejenak aku berpikir, “apa iya aku harus ganti judul lain, tapi kan ini belum selesai sampai akhir.” Terkadang juga aku yakin kalau aku bisa selesai sampai akhir.

Sebagai penutup perjalananku mengunjungi instansi pemerintah, temanku mengajak mampir makan mie ayam Borneo. Katanya sedang ngidam mie ayam yang ada acar, irisan daun bawang, dan bawang goreng. Setelah mengisi perut kita pulang, tapi dalam perjalanan pulang aku mengajak mampir di sentra industry serat alam di Sentolo Kulon Progo. Aneka serat alam itu seperti agel, daun pandan, rotan, dan lain-lain. Di sana ada berbagai macam bentuk karya yang diproduksi secara handmade, seperti tas, dompet, keranjang, karpet, dan masih banyak lagi. Benar-benar produk Indonesia yang unik dibuat oleh anak bangsa. Mengutip dari iklan televise, “Maka Cintailah Produk-Produk Indonesia.”

Rabu, 30 Maret 2016

Inspirasi Pagi

Ingat waktu itu ketika aku dalam perjalanan ke kampus. Matahari pagi menyilaukan saat berkendara. Lalu dalam hati di dukung otak yang sedang mau diajak berkhayal :D. Terus muncul bait-bait kata yang aku rangkai.

Kau seperti mentari pagi
Yang mana aku tak sanggup menatapmu
Aku hanya bisa menimati hangat pelukmu
Kau rengkuh tubuhku dalam kehangatan kasihmu
Kau bukan rembula yang
Dengan mudahnya dapat aku jamah

*NB: Inspirasi yang aku peroleh saat kehangatan mentari pagi yang menyilaukan mata.

Selasa, 29 Maret 2016

Kehilangan Ide

Kali ini aku pingin nulis. Tapi bingung nulis apa. Tapi ya tulis aja suka-suka. Kalau gak ada ide ya tetep nulis aja meskipun gak jelas. Tidak boleh berhenti menulis. Kata orang-orang yang suka nulis, ide itu akan jalan sendiri seiring kamu tidak menyerah untuk berhenti nulis. Intinya gak boleh nyerah untuk merangkai bait-bait kata untuk keabadian. Hehee. Akan aku coba.

Saat ini aku sedang kehilangan ide. Padahal kalau dipikir-pikir ide itu mucul dari mana saja. Asalkan kita peka saja. Lha itu kenapa aku kurang peka. -__-

Seperti kata Bang Syaiha, kita harus mengaktifkan semua panca indra.

Obrolan Pagi Ani

Mentari pelan-pelan mulai menampakkan cahayanya. Namun Ani masih meringkuk dalam selimut. Hari Senin bagaikan hantu bagi bagi Ani. Setelah libur akhir pekan yang panjang kemudian harus berangkat kuliah pagi.

“An… bangun An bangun. Cepat bangun nak ini udah jam setengah 6. Nanti kamu kesiangan.”

Ani masih bermalas-malasan. Sampai matanya benar-benar tak ingin memejam lagi. Tiba-tiba Ani bangun, karena sadar ada jam kuliah pagi. Sebelum mandi dengan segera Ani menyiapkan barang-barang yang akan dibawanya ke kampus. Seperti biasa setelah ganti baju Ani tidak memakai make up.
“Kok sepi banget, perasaan tadi ada suaranya Mama deh.” Gerutu Ani karena gak mau kalau sampai berangkat kuliah tidak sarapan.

“Eh tapi kan tadi pagi kayak denger ada berita lelayu tetangga deh. Kak Mama kemana?”

“Mama sama Papa sejak tadi pagi udah ke rumah tetangga ada yang meninggal.” Jawab Kak Lia.

“Emangnya siapa yang meninggal?”

“Pakde Jaya”

“Innallilahi wainna illaihi rojiun”

“Issshh… Ternyata udah ada lauk to di meja makan, sikaat ahh. Ahh sekalian bawa bekal ahh. Syik asyik bisa bawa bekal nih ke kampus.”

Setelah menyiapkan bekal dan air minum Ani segera memasukkannya dalam tas. Dan mengeluarkan motornya dari garasi.

“Ehh busyett deh udah jam setengah 7 aja, cepet banget. Kak aku berangkat dulu yaa. Jangan kangen lhoh yaa cuma bentar kok, hahhaha.” Ledek Ani sambil pamit dan jabat tangan pada kakaknya.

“Kok kampus sepi yaa, aku yang telat apa aku terlalu cepet datengnya ini.” Sampai di kelas beberapa saat kemudian dosen datang. Sepuluh menit sebelum jam perkuliahan dimulai Pak Djumarwan sudah masuk di kelas. Beliau termasuk dosen yang rajin dan jarang absen.

“An ngapain aja kemarin gak berangkat upgrading?” Tanya Tofan dengan penasaran.

“Lagi ada acara nikahan sodara Fan. Sabtunya kan bantu-bantu, terus Minggunya disuruh jaga buku tamu.”

“Oh pantes kemarin DP Bbm mu lagi didandanin. Kalo ngejaga hati udah siap belum?” Ledek Tofan.

“Hahaha, asemnya pagi-pagi udah bahas jodoh. Belum siap.” Dengan sigap Ani menjawab.

“Kamu terlalu pilih-pilih sih. Kalau kamu mau kan banyak disekitar mu An.”

Ani hanya tertawa saja. Tidak melanjutkan percakapan itu karena gak enak presentasi kelas sudah berlangsung.

Kamis, 24 Maret 2016

Salam Terakhir Mama Papa

Sisil berkunjung ke rumah orang tuanya di Jogja bersama suami. Sisil ingin memberi kejutan atas kepulangannya. Selama 2 kali libur lebaran Sisil tidak pulang ke Jogja karena kesibukan suaminnya Bang Doni. Sebagai isteri Sisil selalu mendukung suaminya, meskipun di rumah ia selalu kesepian merindukan hadirnya seorang bayi mungil. Selama 5 tahun menikah sisil belum dikaruniai seorang anak.

Sampai di Jogja Sisil dan Doni menggunakan jasa taksi untuk mengantarkan sampai rumah orang tuanya di Jogja.

“Kok di rumah sepi ya Bang”

“Iya apa mereka semua sedang pergi?”

Kemudian Sisil mengintip di balik jendela, ternyata Ani adik Sisil sedang asyik nonton TV. Tanpa mengetuk pintu Sisil langsung membukanya pelan-pelan.

“Assalamualaikum Ani”

Ani kaget seperti jantungan karena tiba-tiba ada yang ngomong padahal dia di rumah sendiri di tinggal orang tuanya dinas ke luar kota.

“Astaga kakak ngagetin aja, kok nggak kabar-kabar sih?”

“Dijawab dulu dong salam kakak”

“Waalaikum salam kakakku yang cantik”. Sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan menyambut Sisil dan Doni.

“Mama sama Papa kemana? Rumah sepi amat? Kamu liburan gini gak main? Tumben bentah di rumah?”

“Satu-satu dong kak nanya nya, Ani kan jadi bingung jawab yang mana dulu. Mama sama Papa lagi dines ke luar kota mungkin 3 hari lagi pulang.

Kakak lagi cuti apa gimana kok tumben bisa balik ke Jogja? Lama banget gak ke Jogja gak kangen apa sama adekmu yang paling cantik ini?” jawab Ani sambil memberikan minum di ruang keluarga.

“Yah gak bisa langsung ketemu sama Masa dan Papa. Liburan panjang gini kok ada dines sih. Kakak sama Bang Doni seminggu di Jogja, jadi masih sempat lah besok ketemu Mama Papa. Pas liburan panjang ini sekalian ambil cuti 3 hari. hehe.”


……. Tiga hari kemudian …..


Tok…. Tokk… tokk… Assalamualaikum…

Sekitar jam 9 pagi rumah Ani kedatangan tamu yang tidak diharapkan. Sisil punya firasat yang tidak baik, tapi tetap berprasangka baik. Kemudian Sisil membukakan pintu.

“Selamat pagi ibu saya Joni dari Polda, Apa benar ini rumah Bapak Ardi dan Ibu Tansil?”

“Iya, saya dengan Sisil anak Bapak Ardi. Ada apa ya Pak?”

“Tadi pagi sekitar pukul 3 pagi bapak dan ibu Ardi terlibat kecelakaan beruntun di Jalan Salatiga. Kami berharap keluarga segera datang ke Rumah

Sakit Hardjo Sumantri. Keadaan kedua korban kritis.”


Kemudian Sisil segera memberitahu Ani dan Doni untuk segera ke Rumah Sakit Hardjo Sumantri.

…..

Setelah sampai di Rumah Sakit Hardjo Sumantri mereka hanya memperoleh berita duka, karena 1 jam sebelum kedatangan keluarga Sisil, orang tua mereka sudah menghembuskan nafas terakhirnya.

“Bang, aku gak nyangka kalau kita ke Jogja mala gak bisa ketemu Mama sama Papa.” Peluk Sisil pada Doni.


Senja yang Berbeda

Kali ini senjaku kuhabiskan di alun-alun kidul. Bersama seorang sahabat. Semilir angin dan ramai kendaraan, tak lupa jeritan anak-anak yang sedang bermain. Ku nikmati senjaku dengan suasana yang berbeda. Tak ada pantai, tak ada sungai, tak ada candi, tak ada persawahan, tak ada sepeda, tak ada pula kamu yang selalu ingin ku ajak menikmati senja.

Di sana-sini banyak pedagang yang menjajakan makanan maupun barang untuk sesuap makan dan menyambung hidup. Kulihat sebuah keluarga yang sedang bergembira merayakan kebersamaan sambil menaiki sepeda. Kulihat sepasang anak muda yang sedang merajut kasih. Sembari menunggu sahabat yang sedang membeli jajanan aku duduk di pinggir jalan. Tiba-tiba saja rasanya ingin menulis. Aku keluarkan hapeku lalu ku buka note untuk menuliskan inspirasi yang mampir dalam otak.

Alun-alun kidul merupakan area bermain keluarga yang murah meriah. Di sana banyak sekali aneka sepeda hias atau odong-odong dalam berbagai bentuk yang unik.Selain itu pengunjung juga dapat bermain masangin. Cara bermain masangin dengan menutup kedua mata untuk berjalan diantara dua pohon beringin kembar. Jarak antara pemain dengan pohon beringin kurang lebih 20 meter. Konon apabila dapat melewati antara pohon beringin itu terkabulkan segala keinginannya.

Rabu, 23 Maret 2016

Kisah Ani dan Jeni Part 2

Hujan reda sebentar dan kembali turun deras.

“An, kamu mau gak kalau kita hujan-hujanan sekarang?” dengan perasaan merasa bersalah karena tidak bisa mengingat-ingat masa kecilnya. Mungkin dengan mengajak Ani hujan-hujanan, Jeni dapat menebus rasa bersalahnya.

“Kamu tidak bercanda kan Jen? Apa kamu tidak malu Jen, kita kan udah besar?” Ani memastikan kalau kalau tawarannya itu tidak main-main.

“Iya Ani ku sayang, kamu mau kan???

“Pasti mau dong!!!” Ani antusias langsung menarik tangan Jeni.

Mereka lari-lari di tengah hujan yang semakin deras. Jeni dan Ani tidak memperdulikan orang-orang yang heran melihat dua gadis ABG itu hujan-hujanan. Beberapa saat kemudian Jeni terdiam menunduk seperti sedang merasakan sesuatu. Lalu Ani mendekati Jeni.

“Kamu tidak apa-apa kan Jen?” Dengan perasaan khawatir Ani mendekati Jeni. Kemudian Ani merangkul Jeni untuk di bawa pulang ke rumah Ani.

“Kalian dari mana saja kok basah begitu? Sebentar mama ambilkan handuk.”

“Kalian langsung mandi saja nanti mama antarkan baju dan handuknya ke kamar mandi. Nanti Jeni pakai bajunya Ani dulu yaa.”

“Iya tante.” Jawab Jeni.

Sambil menunggu Ani dan Jeni selesai mandi. Mama Utami membuatkan susu putih hangat dan sup ayam kampung. Mama Utami suka sekali masak. Ia adalah seorang ibu yang penuh kasih sayang. Jeni sudah dianggapnya sebagai anak sendiri. Setelah menyiapkan sup ayam dan susu putih hangat Mama Utami memanggil Ani dan Jeni untuk segera makan.

“Aniiiii….”

“Jeniiii…. Kalian mandi kok lama sekali, kalian ngapain di kamar?” Ani dan Jeni mala keasyikan ngobrol di kamar setelah mandi. Meskipun rumah mereka hanya berjarak 300 meter, tapi mereka jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Ani dan Jeni berbeda sekolah. Moment itu mereka manfaatkan untuk sharing-sharing menceritakan hal-hal konyol yang mereka alami.

“Tok.. Tok.. Tokk” Mama Utami mengetok kamar Ani.

“Iya Maa masuk aja gak dikunci kok Ma.”

“Mama udah buatin kalian susu putih hangat dan sup ayam kampung. Mumpung masih hangat cepat kalian habiskan. Udah Mama tunggu di meja makan kalian mala gak turun-turun.”

“Maaf mamaku sayang, kita mala keasikan curhat tadi. Maklum kita kan jarang ketemu beberapa bulan terakhir ini.” Ani sedikit merayu mamanya.

“Yaudah cepat turun, keburu dingin gak enak nanti.”

“Iya tante.”

Ani, Jeni dan Mama Utami kemudian turun untuk segera makan bersama.

Selasa, 22 Maret 2016

Kisah Jen dan Ani

Rintik hujan mulai turun. Sedap harum tanah membangkitkan gairah. Semakin lama semakin deras mengguyur tanah menenggelamkan bau sedap itu. Aku termenung di bawah pohon rindang. Menikmati hujan yang selalu membawa rindu. Aku termenung sendiri menikmati suasana hingga bajuku sedikit basah terkena cipratan hujan. Dingin semakin merasuki tubuh. Aku tetap menikmatinya.

“heii.. Kenapa kamu melamun An?”

Tiba-tiba Jeni datang mengagetkan Ani yang sedang melamun di bawah pohon. Membawa payung kesayangannya yang bergambar Masya and The Bear. Meskipun sudah besar, tapi Jeni suka sekali dengan gambar Masya and The Bear.

“Kamu Jen, merusak lamunanku saja”.

“Kamu sih aku cari di sana sini gak ada. Ternyata sedang bertapa di bawah pohon beringin. Sudah dapat wangsit apa kau”, celetuk Jeni dengan gaya ceplas-ceplosnya.

“Enak aja cari wangsit. Emangnya kamu yang sedang bingung cari pacar.” Hahahha Ani tertawa ganti mengejek Jeni.

Jeni hanya nyengir ketika Ani gantian mengejeknya. Jeni memang orangnya suka bercanda, tapi ketika gentian di ejek Jeni hanya nyengir. Persahabatan mereka memang sudah sejak kecil. Jadi mereka tau kelebihan dan kekurangan masing-masing meskipun terkadang ada pertengkaran kecil. Dalam persahabatan pertengkaran adalah bumbu dalam persahabatan.

“Kamu sedang melamunkan apa An, sepertinya sedang seru sekali sampai-sampai aku melihat kamu senyum-senyum sendiri. Hayooo kamu nglamunin apa?”
“Tau gak Jen, kalau hujan begini aku suka menikmatinya di bawah pohon rindang, terus suasananya ini lho bikin aku tenang. Jadi teringat waktu kecil kita dulu suka lari-larian bareng pas hujan. Kalau ada salah satu dari kita yang jatuh terpeleset mala kita tertawa semua. Kamu ingat kan Jen?” Ani terus melanjutkan ceritanya.


sumber: Google

“Kalau turun hujan mesti kita hujan-hujanan. Tapi gak boleh mama tau. Kalau sampai mama tau pasti kita dimarahin. Apa lagi mama kamu Jen yang galak banget. Hehehe”

Tanpa tersadar Ani meneteskan air matanya, mengenang masa kecilnya dulu yang terasa tanpa beban. Sambil memandang jauh hujan-hujan itu. Kemudian Ani menoleh pada Jeni.

“Kamu ingat kan Jen? Kamu ingat kan?” sambil menyentuh tangan Jeni, lalu Jeni menggeleng-geleng tak mengingatnya. Keadaan itu semakin membuat Ani menangis. Karena Ani tau kalau Jeni beberapa bulan yang lalu mengalami kecelakaan hebat hingga menyebabkan ayahnya meninggal dan Jeni terkena Amnesia.

Ani semakin erat memeluk Jeni sahabat kecilnya. Kemudian mereka menangis bersama.

Tanpa di sadari seiring air mata lelah membasahi pipi, hujan pun turun seiring takdir yang menghentikannya.

Belajar dari Prof. Haikal

Berawal dari semester 1 di perkuliahan ketika di ajar oleh seorang dosen yang luar biasa. Aku sebut luar biasa karena dosen ini berbeda dengan dosen-dosenku yang lain. Beda style-nya, gaya ngajar, tugas, dan sebagainya. Beliau adalah Prof. Dr. Husain Haikal, MA. Gaya beliau dalam berpakaian sederhana sekali. Dalam mengajar beliau menyuruh mahasiswanya untuk membedah jurnal yang terkait dengan mata kuliah. Sering kali saya mengeluh karena revisi terus. Bagi teman-teman yang tidak tertarik dengan gaya mengajarnya menyerah sebelum nilai keluar. Namun saya ingin berjuang sampai akhir. Saya pun tidak mau terlambat mengumpulkannya, karena bisa-bisa mendapat denda disuruh bikin lagi dari awal.

Suatu ketika saya lupa membawa tugas dari Pak Haikal. Kemudian saya bela-belain pulang ke rumah. Jarak antara rumah dan kampus lumayan jauh ± 20 km. Untung saja mengumpulkan jurnalnya siang, jadi setelah jam pertama kuliah saya pulang untuk mengambilnya dan balik ke kampus lagi. Pikir saya waktu itu, saya gak boleh menyerah di tengah jalan yang sudah saya pilih sebelum mengetahui akhirnya bagaimana. Rugi kan kalau harus mengulang semester depan, membuang-buang waktu saja. Toh bisa buat mengambil mata kuliah lain dari pada harus mengulang. Pelajaran yang dapat saya ambil dari Pak Haikal adalah mengajarkan kerja keras. Meskipun di belakang saya nggerundel, tapi saya harus tetap mengerjakan sampai selesai.

Suatu saat saya ingin mengikuti workshop kepenulisan yang diadakan dekanat bekerja sama dengan Kompas. Padahal ada kelas Pak Haikal. Setiap ada kelas berarti waktunya juga mengumpulkan tugas jurnal. Karena saya ingin sekali mengikuti dua-duanya saya harus segera menyelesaikan jurnal. Tidak apa-apalah telat workshop dari Kompasnya. Tapi Allah tidak mengijinkan kalau saya terlambat. Kelas Pak Haikal selesai lebih cepat, jadi saya bisa langsung ke dekanat untuk mengikuti workshop. Alhamdulillah kalau ada kemauan pasti ada jalan.

Selama 2 hari saya mengikuti workshop ini. Dalam workshop ini saya diajari tentang lay out berita, wawancara, design, dan semua hal yang menyangkut tentang berita. Kemudian bagi kelompok untuk langsung terjun ke lapangan untuk membuat berita 2 lembar halaman. Saya dan teman-teman terjun langsung ke lapangan untuk membuat berita. Waktu itu kami dibekali uang Rp. 100. 000,00 untuk mencetaknya selebar koran.

Banyak pengalaman yang saya dapatkan dari workshop itu. Saya bisa belajar wawancara dengan orang yang baru saya kenal. Memberanikan diri untuk berkomunikasi dengan orang baru, yang mana pada dasarnya saya ini pemalu. Jadi saya sekalian belajar menguatkan mental. Hehehehee.

Jumat, 18 Maret 2016

Senyum Ramah Tania

“Selamat pagi ibu ada yang bisa kami bantu”, sapa teller dengan senyum ramahnya.

“Saya mau tutup rekening, lalu saya mau buka lagi tapi yang biaya potongan per bulannya kecil”, jawab ibu paruh baya itu dengan ketus.

“Bisa pinjam KTPnya ibu?”

“Nihh”, sambil menyodorkan KTPnya.

“Oh dengan Ibu Niken ya.”

Ibu Niken itu tetap ketus, Tania tetap melayaninya dengan ramah. Kemudian Tania menjelaskan tipe dan syaratnya dengan detail dan jelas.

“Bagaimana Ibu Niken ingin membuka rekening dengan tipe yang mana?”

“Saya tidak jadi membuka rekening baru. Boleh saya minta nomer handphone-nya mbak? ”

“Boleh, sebentar ibu saya tulis sebentar ya,” sambil menuliskan nomer handphone.
“Ini ibu, ada lagi yang bisa kami bantu?”
“Tidak.”
“Terima kasih atas kunjungannya,” ucap Tania sebagai salam penutup.

Pada hari itu juga Tania terpaksa telat pulang dari kantornya karena lembur. Baru saja merebahkan tubuhnya pada shofa empuknya, tiba-tiba hpnya berdering.

“Assalamualaikum, Dengan Tania di sini ada yang bisa dibantu.”

“Waalaikumsalam mbak, saya Ibu Niken yang tadi siang akan membuka rekening di bank.”

“Oh Ibu Niken, ada yang bisa Tania bantu?”, dengan agak terkejut Tania menjawab.
“Kenapa Ibu Niken berbeda, lebih ramah dari pada tadi saat bertemu di bank”, pikirnya dalam hati.

“Mbak Tania, maaf ya tadi saya agak ketus di bank. Saya kecewa dengan anak saya. Sebenarnya saya kangen dengan anak saya namanya Arika. Saya sudah lama tidak bertemu anak saya setelah dia bekerja di Kalimantan. Arika sudah lama tidak menelepon saya. Memberi kabar atau sekedar menanyakan kabar saya pun tidak. Sudah setahun lebih Arika tidak pulang.”

Dengan panjang lebar Ibu Niken menceritakan anaknya yang sudah lama tidak berkomunikasi dengannya.

“Mungkin Arika sedang sibuk ibu, doakan saja semoga Arika selalu dalam lindungan-Nya,” balas Tania.

“Apa iya begitu, tapi sekedar menyempatkan memberi kabar saja tidak. Maaf ya nak Tania ibu mala kebablasan curhat. Jujur saya ibu suka dengan sikap kamu melayani ibu tadi pagi, meskipun ibu dengan nada ketus nak Tania tetap member pelayanan ramah . Makanya tadi ibu minta nomer handphone kamu.”

“Tidak apa-apa ibu. Sudah kewajiban saya memberikan pelayanan yang ramah kepada nasabah,” jawab Tania dengan sopan.

"Maaf ya Nak Tania ibu mengganggu istirahatmu."

"Tidak apa-apa ibu saya senang bisa berkenalan dengan Ibu Niken."



Malu: Ngomel Sembarangan

“Pak kanan pak”, gerutu si penumpang becak.

“Bapak ini kalau lagi gak enak badan mending istirahat di rumah saja. Ditanjakan seperti ini saja sudah kelelahan,” omel eneng penumpang becak.

“Kalau saya istirahat di rumah dan gak jerja, nanti keluarga saya mau makan apa neng”. Saya ini satu-satunya tulang punggung di rumah saya.”

“Daripada mengecewakan pelanggan to, mending gak usah narik”.

Wanita itu terus memojokkan bapak-bapak setengah baya itu. Seakan-akan letak kesalahan itu hanya pada tukang becak. Wanita itu melepaskan emosinya kepada tukang becak, karena sebelumnya wanita itu diturunkan di jalan oleh pacarnya karena berbeda pendapat. Alhasil tukang becak yang sedang lewat pun menjadi pelampiasan.

“Neng, kalau sedang marahan dengan pacarnya jangan terus melampiaskan kekesalan eneng kepada orang disekitar eneng”, keluh si bapak tukang becak.

“Kok bapak tau”, dengan tampang malu dan merasa bersalah.

“Lha wong tadi saya di belakang eneng, waktu eneng diturunkan di jalan tadi. Bapak sempat mendengarkan percekcokan eneng dan pacar eneng.”

“Bapak gak maksud nguping, tapi memang kedengaran. Mungkin dari jarak 100 meter bisa kedengaran, kalian saja teriak-teriak”, tambah bapak itu sebelum eneng itu menimpali.

Wanita itu semakin tak bisa berkata-kata karena malu melihat tingkahnya sendiri.


Rabu, 16 Maret 2016

Belajar dari Filosofi Semut

Binatang kecil yang biasanya kalau ada sisa kotoran di lantai, kasur atau benda lainnya akan langsung sigap datang. Terkadang tidak ada tanda-tanda semut di sekitar kita, tiba-tiba segerombolan semut datang karena ada sisa makanan nempel di meja. Dari mana mereka mengetahuinya. Apa daya ciumnya kuat sekali sehingga dimana pun ada makanan pasti mengetahuinya. Awalnya hanya satu dua ekor saja, namun kemudian membawa gerombolannya. Ah mereka beraninya gerombolan, aku saja sendiri berani kalau buat makan makanan yang enak. Hahaha tentu saja yaa.

Hal ini tentu berbeda dengan kita. Kalau mama lagi masak enak, terus mengendap-endap buat mengambil makanan di bawah tudung saji. Terus dibawa masuk ke kamar di kunci deh kamarnya di makan di pojokan kamar sambil jongkok. Hahaha. Terus keluar kamar belepotan di mulut. Mama nyariin, ternyata masakannya dicuri anak gadisnya. Tapi anak gadisnya gak ngaku. Mama hanya senyum manis saja. Hahaa ini bukan curhat lhoh ya hanya penggambaran saja.

Berbeda dengan semut-semut kecil yang imut-imut itu. Kalau seekor semut lagi jalan-jalan kemudian melihat makanan sesedikit apapun mereka pasti memanggil teman-temannya untuk dimakan bersama. Kalau mereka kuat membawanya mereka bawa sendiri terus kemudian dimakan bersama-sama. Kalau dimungkinkan gak kuat, mereka memanggil temannya untuk bersama-sama mengangkatnya. Mungkin di istana semut keluarga, saudara atau tetangganya sedang kelaparan. Mereka pasti makan bersama-sama mengundang kalau disini sedang ada makanan lho. Ayo kita makan bersama-sama.

Di samping itu ketika berpapasan dengan kawannya pasti berjabat tangan atau cipika-cipiki. Hehe. Kalau kita kadang senyum saja males, siapa dia aku gak kenal kok, sambil memperlihatkan muka juteknya. Padahal senyum adalah ibadah. Senyumkan hal termudah dan ringan untuk dilakukan. Apalagi bagian dari sedekah. Kalau pelit ngeluarin duwit, paling tidak bisa senyum.

Sebagai penutup mengutip dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Senyumu di hadapan saudaramu (sesame muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu”.

Selasa, 15 Maret 2016

Resensi: Di Balik Novel Tiga Sandera Terakhir

Novel yang terinspirasi dari peristiwa-peristiwa nyata menjadi hal yang menarik bagi saya. Hal ini membuat saya mudah untuk memahaminya. Apalagi novel yang berkaitan dengan konflik berdarah akan sangat menarik lagi. Hal ini terdapat pada novel karya Brahmanto Anindito dalam karyanya yang berjudul “Tiga Sandera Terakhir”. Seperti yang diungkapkan oleh Salman Aristo seorang penulis skenario Ayat-ayat Cinta, Laskar Pelangi dan Garuda di Dadaku, novel yang berani. Saya sependapat dengannya karena novel ini terinspiasi dari konflik berdarah di Timur Indonesia yaitu di Papua.
Novel ini murni fiksi dan alurnya pun juga fiksi, namun yang menarik adalah bagaimana penulis membuat alur cerita yang membuat saya penasaran hingga akhir cerita.



Penyanderaan yang terjadi di sebuah desa di Papua. Berawal dari anggota Organisasi Papua Merdeka OPM yang datang Penginapan “Mama Kasih” dan membuat kekacuan di situ. Kedatangan anggota OPM ini berakhir dengan membawa penghuni penginapan Mama Kasih sebagai sandera. Korban sandera berjumlah lima orang dari warga Negara Indonesia, Australia, dan Perancis.

Banyak yang menuduh peristiwa ini terjadi akibat ulah OPM, namun OPM sendiri menyangkalnya. Mereka menegaskan bahwa pihaknya sudah lama tidak menggunakan cara-cara kekerasan untuk memperjuangkan Papua Barat.

Jadi siapa sebenarnya yang menjadi dalang dari peristiwa penyanderaan itu? Bagaimana strategi TNI dalam penyanderaan? Mendengar kejadian ini, TNI bergegas untuk segera melakukan pembebasan yang dipimpin oleh Kolonel Larung Nusa yang merupakan bagian dari Satuan Antiteror Kopassus. Banyak kendala yang dialami oleh para TNI, dari kondisi geografisnya yang berbeda jauh dari Jawa.

Dalam proses pembebasan sandera, terdapat korban sipil yang terkena peluru nyasar. Kemudian korban dari OPM sendiri, namun sayangnya korban jatuh juga dialami oleh anggota TNI yaitu Sertu Anam. Awalnya Sertu Anam dikira jatuh ke jurang dan sudah meninggal, jenazahnya tidak ditemukan.
Pagi harinya Mayor Abassia atasan Larung Nusa mendapatkan video penyiksaan Sertu Anam. Tambah satu lagi masalah yang harus diselesaikan TNI. Kemudian TNI membentuk satuan khusus yang bernama Pasukan Hantu. Pasukan Hantu ini dipimpin oleh Larung Nusa dan orang-orang eks-TNI, eks-Kopassus. Dinamakan Pasukan Hantu karena apabila operasi ini gagal orang-orang ini tidak mendapat pengangkatan jabatan, dan apabila orang-orang ini mati tidak dimakamkan secara milliter atau mendapat penghargaan. Orang-orang ini berasal dari bekas anggota TNI atau Kopassus yang di berhentikan secara tidak terhormat karena berbagai alasan.

Senin, 14 Maret 2016

Sepotong Kasih untuk Sahabat

Hari ini pada tanggal 14 Maret 2016 merupakan hari ulang tahun teman sekelasku. Namanya adalah Ariesta Widiyawati. Dia lebih sering dipanggil “Etak”. Etak adalah sosok yang mudah tertawa, suka jerit-jerit histeris dan mudah menangis. Etak adalah salah satu teman karibku di perkuliahan. Gadis itu kurus tinggi.

Sebelum Hari-H aku dan teman-teman Etak sewaktu SMA dulu menyusun rencana untuk memberikan surprise. Kemudian aku mengajak teman-teman kelas untuk mengadakan ritual di kolam Ganesha. Kolam Ganesha biasa digunakan untuk menceburkan teman-teman yang ulang tahun pas hari efektif perkuliahan. Letaknya hanya di depan kelas, jadi tidak jauh dan terlalu berat jika harus membopong salah satu teman yang sedang bertambah umur. Di kolam Ganesha itu banyak ikan-ikan dan lumut. Jadi kalau diceburin di Kolam Ganesha jadi agak amis.

Sayang seribu sayang… Pas tepat hari H, Kolam Ganesha tidak ada airnya, mungkin sedang dikuras, atau ikan-ikannya pada mati. Ah entahlah. Tapi aku gak kehabisan akal. Aku menyuruh temanku untuk mencari tali raffia di Himpunan Mahasiswa (HIMA). Lalu aku mencari telur dan tepung untuk ritual.
Etak kemudian dibopong lalu ditali tangan dan pinggangnya di pohon. Pohon itu strategis karena dekat dengan keran air. Jadi Etak disiram air, tepung dan telur.



Etak menjerit-jerit entah apa yang dirasakan. Dia meronta-ronta, dan akhirnya ikatan talinya bisa dilepaskan. Teman-teman pada kabur semua karena tidak mau kalau sampai di peluk. Karena memang baunya amis gak jelas.

Kemudian aku mengajak Hana, Amal, dan Tie (teman SMA) ke Taman Ganesha. Mereka membawakan kado dan kue. Surpriseeee.... Eta menjerit-jerit gak karuan karena melihat teman-teman SMA-nya. Mungkin Eta kaget, malu, dan bahagia sampai-sampai dia menangis haru. Eta terkejut melihat teman-teman SMAnya bisa sampai di sana. Kemudian lilin pun ditiup dan sepotong kue siap dilahap.

Awalnya rencana itu hampir gagal karena tenyata di jam terakhir tidak ada dosen. Biasanya diskusi lebih dipercepat selesainya. Padahal aku janjian sama Hana, Amal dan Tie jam setengah 5. Pada pukul setengah 4 Hana tak kasih kabar kalau tidak ada dosen, jadi kemungkinan pulang lebih awal. Ternyata Hana belum mandi dan masih di rumah belum lagi njemput Amal dan ambil kue. Padahal perjalanan dari rumah Hana ke kampus lumayan jauh. Kemudian Hana mengubah rencana kalau surprisenya di rumah Etak saja. Tapi aku tetap kekeuh di kampus saja, karena memang momentnya biar dapet. Alhamdulillah diskusi lumayan bisa diajak bekerja sama meskipun tidak ada dosen. Jadi sambil nunggu Hana dan teman-teman datang.
Sip… daaannn berhasil. Misi selesai, meskipun ada sedikit hambatan.

Doa ku untukmu Ariesta Widiyawati, semoga Allah selalu melindungi mu dalam setiap hal, dijauhkan dari segala gangguan, semoga apa yang kamu inginkan dan kamu cita-citakan terkabul. Aamiin...

Jumat, 11 Maret 2016

Perkenankan untuk Perkenalan

Tantangan ODOP untuk minggu ke dua adalah menceritakan tentang diri sendiri. Kalau menceritakan diri sendiri jujur saja aku bingung, karena menurutku aku itu tidak konsisten dan moody banget.

Gadis imut (PD banget gakpapa deh) yang dilahirkan pada tanggal 11 Juli 1994 ini merupakan anak ke dua dari 3 bersaudara. Oleh orang tuanya diberi nama Nurjannah Yuliani Adimurni. Memang benar nama adalah doa, mungkin harapan kedua orang tuaku agar aku bisa menjadi cahaya surga, aamiin.

Temen-temen memanggilku jannah, jun, jan, jen, kadang juga nah gitu. Kalau kata orang aku ini galak, judes, cuek, duh semua keburukan kok ada di aku. Terkadang juga aku ini imut jadi tidak cocok kalau galak. Hehee. Aku adalah gadis yang suka bercanda soalnya kalau spaneng kadang susah buat mikir. Suara ku emang agak berbeda dari yang lain nyaring banget kayak tempolong bocor. Lhoh nyaring kok kayak tempolong, iya suara ku nyempreng kalau kata temen-temen. kalau menurutku sih merdu banget. Hehee

Aku adalah orang yang gak sabaran kalau harus disuruh nunggu. Tapi dibalik hal-hal negative yang aku omongin aku juga orangnya tidak mau menyerah untuk hal yang memang aku inginkan, pokoknya harus dapet. Jannah adalah gadis yang suka memanfaatkan barang-barang bekas dan memamerkannya pada teman-temannya agar memberdayakan barang bekas yang masih dapat dimanfaatkan. Kalau sudah punya inspirasi Jannah bisa menghabiskan waktu liburannya untuk memanfaatkan barang bekas yang dikumpulkannya. Waktu liburan bisa habis hanya untuk menghias kamarnya. Jannah itu orangnya bosenan, jadi dia harus kreatif buat menghias kamarnya sesuai keinginannya. Karena menurutnya kamar adalah surge dunia. Jadi ketika suntuk, marah, bosen, atau apalah-apalah kamar adalah tempat menenangkan diri.

Sudah dulu yaa perkenalannya nanti mala buka aib. Hehee. Kalau penasaran boleh ditanyakan ke orangnya langsung. Hahahahaa

Inspirasi Datanglah


Waktu itu aku sedang suntuk di rumah. Bosan jika hanya makan , tidur, tapi misalkan mau nulis inspirasi lagi buntu. Teringat kata orang-orang kalau saat musim hujan, kemudian malamnya banyak bintang-bintang bertaburan dengan liarnya, esoknya bakalan cerah berawan. Kemudian aku buktikan, banyak benernya juga, tapi pernah meleset juga.

Kemudian aku putuskan untuk keluar rumah, setelah hujan reda untuk sejenak menghirup udara malam yang dinginnya merayapi tubuh. Ku buka pintu dan ku lihat rembulan yang sedang bergurau dengan para bintang. Lalu kutarik nafas panjang sambil melihat angkasa. Indah sekali bintang-bintang dan bulan itu seperti sedang menghiburku dengan gurauan mereka. Dan aku merasakan nikmat yang luar biasa. Masih dapat merasakan nikmat Allah yang tiada tara. Ku tarik nafas lagi, lalu ku lihat ke langit melihat angkasa yang dipenuhi bintang bersinar dengan lantangnya.

Inspirasi-inspirasi pun datang dan membawaku untuk mencurahkan dalam goresan tinta.

“Kau memang indah
Siapapun dapat menikmati senyuman itu
Kau hanya mampu ku pandang
Lalu ku nikmati dalam kerinduan
Kau hanya mampu ku gapai lewat mimpi
Mencuri senyummu
Sebagai obat rindu”


Rabu, 09 Maret 2016

Sepucuk Kasih di Jembatan Kuning



“Ann.. handphone-nya bunyi”, teriak April kakak Ani.
“Yaa bentar”, sambung Ani dari kamar mandi.
Ternyata ada pesan dari Dita kalau Ani diajak mengerjakan tugas kelompok sekaligus berburu durian. Durian, leh uga nih. Gumam Ani. Ani tertarik untuk ikut karena iming-iming duriannya bukan untuk mengerjakan tugas.

“Oke, ntar gue nyusul Dit”, balas Ani.
Ani segera bersiap-siap mandi, ganti baju langseng berangkat. Ani memang jarang dandan, dia adalah orang yang gak PD kalau harus menggunakan make up kecuali kalau didandani pas ada acara tertentu.
Sekitar pukul 10 Ani berangkat.

Ani memilih menggunakan jalan yang pada waktu itu dia pernah bersepeda bareng Ian. Menelusuri jalan itu membuat Ani ingin kembali bersepeda sama Ian. Jalan itu mengingatkan canda tawa dan banyolan Ian. Ian memang orang yang humoris, suka bercanda. Terkadang candanya ini bikin baper. Hehe. Ani juga bukan seorang yang mudah baper, tapi kalau lagi sama Ian, hmmm baperannya parah. Tapi Ani tetap mencoba stay cool.

Setiap centi perjalanan, hanya membuat Ani semakin rindu untuk bertemu dengan Ian lagi. Ani sudah lama tidak bertemu dengan Ian karena kesibukan masing-masing. Setiap centi perjalanan hanya mengisahkan tawa yang terekam jelas dalam benak Ani.

Kalau jalanan sepi Ani pasti menambah kecepatan motornya. Tapi bukan untuk jalan satu ini. Sepanjang jalan ini Ani ingin menikmatinya, apalagi memang pemandangannya bagus. Sawah-sawah yang sedang hijau-hijaunya berlatar belakang pegunungan yang hijau pula.

Ani sadar kalau sekarang pertemanan dengan Ian sedang renggang karena sedang sibuk. Mungkin memang Ian sedang sibuk bekerja, atau ada perempuan lain yang sudah membuat Ian terpana, ahh semoga saja tidak.

Tiba-tiba pikiran itu muncul disela-sela bayangan indah pada Ian. Ani pun hanya menerka-nerka, karena memang Ani takut untuk menghubungi duluan.
Setiap seseorang yang hadir dalam hidup, aka nada porsi sendiri, cerita tersendiri, entah meninggalkan bahagia atau luka, atau akan hidup bersama kenangan itu.

Melewati Jembatan Kuning itu Ani dan Ian pernah menikmati senja dan fajar bersama. Setiap bersepeda pasti berhenti di Jembatan Kuning.
Senja membawa Ani tenggelam dalam pelukan mentari. Mentari seakan ikut menenggelamkan mimpi-mimpi bersama Ian. Tapi Ian juga memberi harapan bersama terbitnya mentari pagi. Lalu mentari terbangun bersama pesona dan wangi tubuhnya. Mentari memberi harapan memulai hari dengan doa dan harapan serta senyuman.

Teringat senyuman itu membuat Ani teringat lagi. Ahh aku ini apa, aku ini hanya seperti pungguk merindukan bulan. Aku ini apa. Rasa pesimis itu mulai menghinggapi pikiran Ani.

Tiba-tiba tersadar kalau rumah Indro sudah dekat.

Selasa, 08 Maret 2016

Ku Putuskan Menulis Saja

Takut, malu, pesimis, merupakan bayangan yang aku rasakan ketika ingin menuangkan ideku dalam bentuk tulisan. Takut apabila orang mengkritik pedas, dicemooh, di jugde hingga aku sendiri takut keluar dari zona nyaman. Mungkin saja aku terlalu keenakan dengan zonaku, rasanya seperti tidak ada yang bisa aku banggakan. Aku merasa hidupku hanya monoton saja. Kalau diibaratkan kertas, tidak ada coretannya, dan tidak mau untuk dicorat-coret. Tetap dibiarkan bersih.

Pada suatu ketika aku berkeinginan untuk keluar dari zona itu. Aku ingin belajar menulis. Aku ingin memerdekakan diriku sendiri. Mengungkapkan apa yang ingin aku ungkapkan. Percuma saja punya ide brilian tapi hanya disimpan sendiri.

Awalnya aku ikut latihan kepenulisan di awal-awal semester. Yang aku dapatkan dari latihan kepenulisan hanyalah sertifikat. Menurutku hal itu percuma saja karena tidak membangkitkan semangat untuk menulis. Terlalu banyak teori, tapi prakteknya tidak ada. Akhirnya aku diajak temenku main ke warung kopi diajak wawancara sekalian nanti belajar buat nulis. Ternyata menulis itu enak kalau langsung praktek, jadi kalau ada kesulitan bisa ditanyakan atau mungkin dengan mengikuti workshop.

Ketika menulis kemudian diupload di media sosial banyak tanggapan positif yang memacu semangatku. Mendapat kritik dan saran rasanya senang sekali, berarti mereka peduli denganku, tidak seperti yang aku takutkan sebelum aku mencobanya. Dari itu aku belajar untuk tidak takut sebelum mencoba, apalagi menyerah sebelum berperang.

Senin, 07 Maret 2016

Sudut Kota Jogja

Kota Pelajar, Kota Pendidikan, Kota Budaya, Kota Angkringan, Jogja Istimewa. Banyak julukan untuk Yogyakarta. Anies Baswedan juga pernah mengatakan kalau setiap sudut Kota Jogja itu romantis. Hmmm romantis, emang iya ngobrol dengan pacar atau keluarga di angkringan pun sudah terasa romantis. Setiap orang yang pernah singgah ke Jogja pasti ingin kembali, entah karena keramahan orangnya, makanan khasnya, suasananya.

Mendengar teman ketika balik ke Jogja sekarang, pendapatnya adalah kalau Jogja tambah panas dan tambah macet. Memang benar saya saja yang tinggal di Jogja terus merasakan seperti itu. Sekarang julukan untuk Jogja bisa juga dijuluki “seribu satu hotel”. Karena semakin banyak hotel yang dibangun di Kota Budaya ini. Malahan ijin pendirian hotel sudah banyak yang masuk tinggal mendirikan. Ada lagi kalau mendirikan hotel terlebih dahulu kemudian ijinnya belakangan kalau hotelnya sudah jadi. Kalau hotelnya sudah jadi kan gak mungkin kalau dirobohkan. Sawah-sawah yang hijau menyegarkan mata berubah menjadi bangunan menjulang tinggi. Saya heran nantinya mau makan pakai apa kalau padi-padinya berubah menjadi adukan semen.

Hotel-hotel banyak yang dibangun tapi tidak diimbangi dengan ruang terbuka hijau. Taman-taman hijau di Jogja kurang. Mungkin harus pergi ke desa-desa untuk menikmati udara segar.

Jumat, 04 Maret 2016

Syair Rindu

Tuhan
Apakah kau sedang merindukanku
Merindukanku melantunkan syair-syair terindahmu
Apakah firasat hati ini seruanmu

Gundah
Khawatir
Takut
Sedih

Apa benar engkau merindukanku
Merindukanku berserah hanya kepadamu
Memanjatkan segala keinginan
Dan khawatir

Tuhan
Tenangkan hati ini
Yakinkan aku
Bahwa engkau
Selalu melindungiku …

Kamis, 03 Maret 2016

terserah ???

Baru hari keempat udah bingung mau posting apa di ODOP. Sedih. Udah kayak kehilangan makanan. Eh malah makanan yang dipikir. Tapi kok gak gemuk-gemuk. Mungkin memang udah dasarnya begitu. Hehehe.

Oh yaa. Ngomong-ngomong soal laki-laki bagaimana pendapatmu jika laki laki itu bilang terserah. Serasa pingin banting piring, gelas, buang makanan. Eh makanan lagi yang diomongin. Maapkeun, khilap. Hehehe. Terus- terus kembali ke pertanyaan “Apa yang anda pikirkan jika seorang calon pemimpin ditanya mau kemana? Mau apa? Jawabannya terserah.” Pasti bikin geram. Kalau sedang bertanya baik-baik jawabannya terserah. Bikin geregetan. Apa lagi kata terserah dilontarkan oleh seorang laki-laki yang mana merupakan bakal calon pemimpin. Apa lagi nanti menjadi pemimpin keluarga. Mendengar temanku saja ketika menjawab dengan “terserah” langsung males kalau mau melanjutkan percakapan.

Menurut pendapatku seorang pemimpin harus mempunyai pilihan dan alasan. Masalah nanti pilihannya itu akan diterima atau tidak yang penting udah punya alasan terlebih dahulu. Mungkin bisa dikata merdeka karena bisa mengutarakan pemikirannya. Perempuan manapun akan tetap menghargai apabila mempunyai alasan yang masuk akal.

Rabu, 02 Maret 2016

Kuseduh Secangkir Kopi Lereng Merapi

Siapa yang tidak mengenal bubuk coklat kehitaman yang pas diseduh dengan air panas? Siapapun sudah mengenalnya. Minuman berwarna coklat kehitaman dengan aroma yang khas ini membawa saya untuk menikmati kopi di lereng Merapi. Tidak heran jika saya menyempatkan pergi setelah kuliah untuk menikmati secangkir kopi lereng Merapi ditemani semilir angin dan senja. Secangkir kopi ditambah dengan pisang goreng menambah kenikmatan. Suasana yang sia-sia apabila dilewatkan begitu saja tanpa bercumbu dengan angin malam.

Sore itu setelah selesai kuliah saya dan teman pergi ke lereng Merapi. Tujuan utamanya adalah mendatangi kedai kopi yang berada di Desa Wisata Petung Desa Kepuharjo Cangkringan (dibawah rumah Alm Mbah Maridjan). Apabila akan menuju museum sisa hartaku akan melewati kedai kopi ini. Kedai kopi ini bernama “Kedai Kopi Merapi” satu-satunya di daerah tersebut. Kedai ini dikelola oleh Ibu Sukirah (41 tahun). Kedai yang buka dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam ini menyediakan kopi arabika dan robusta. Akan tetapi untuk mencapai kedai kopi ini harus melewati jalan yang belum beraspal sekitar hampir 2 km. Jalan ini cocok sekali dilewati para pengguna motor trail dan mobil jeep. Setelah sampai tempat tujuan, pengunjung akan disuguhi warung sederhana yang dipadu padankan dengan pemandangan khas lereng Merapi.

Kedai kopi ini dibangun setelah erupsi Merapi tepatnya pada tahun 2013. Di kedai ini selain mendapatkan pemandangan Gunung Merapi di sebelah utara, pengunjung juga mendapatkan pemandangan kota Jogja. Tidak hanya itu pengunjung juga disuguhi kedai khas ndeso yang dihiasi batu-batuan besar bekas erupsi Merapi. Ketika malam hari yang cerah bintang bertaburan disertai suara hewan malam seperti jangkrik. Kedai ini cocok bagi pengunjung yang bosan dengan rutinitas di kota. Ketika langit cerah kegagahan Merapi akan terlihat jelas. Letak yang strategis untuk menikmati kopi hingga malam hari.

Kopi yang disuguhkan disini asli berasal dari lereng Merapi dan ditanam oleh para petani sendiri. Para petani kopi mendirikan koperasi yang diketuai oleh suami Ibu Sukirah. Koperasinya sendiri berada di Jalan Kaliurang km. 20. Awalnya ibu Sukirah mengolah sendiri biji-biji kopinya. Setelah adanya koperasi Ibu Sukirah mengolahnya di koperasi bersama anggota kelompok. Anggota koperasi ini sering mengikuti pameran dikota untuk mempromosikan kopi Merapi. Selain itu hasil kopi-kopi olahan tersebut dipasarkan di café-café hingga ke luar daerah. Meskipun kopi-kopinya diolah oleh kelompok koperasi, kedai kopi ini dikelola sendiri oleh Ibu Sukirah (milik pribadi). Akan tetapi Ibu Sukirah tinggal dirumah muntab tempat relokasi korban erupsi Merapi.

Hal yang membedakan kopi Merapi dengan kopi lainnya adalah asli dari lereng Merapi yang ditanam menggunakan pupuk organik bekas erupsi abu Merapi. Cara menghaluskannya pun masih dengan cara sederhana dengan ditumbuk menggunakan lumpang dan kemudian disangrai. Tak heran jika kopi Merapi memiliki kenikmatan tersendiri bagi para pecinta kopi.

Kebanyakan pengunjung yang datang kesini adalah mahasiswa, keluarga dan rombongan wisatawan. Kalau pas hari biasa pengunjung kebanyakan mahasiswa. Tempat ini cocok untuk melepas penat ketika wisatawan sudah menikmati area wisata Kaliurang. Setiap pengunjung akan memiliki cerita tersendiri di sudut utara kota Jogja. Banyak pengunjung yang memang menyempatkan datang kesini. Romantisme pemandangan serta kegagahan Merapi akan meninggalkan kesan tersendiri bagi pengunjung. Menikmati setiap srutupan kopi Merapi langsung oleh penanamnya dengan semilir angin lereng Merapi meninggalkan kenikmatan tersendiri bagi para pecintanya. Siapapun pengunjung akan ketagihan untuk datang kembali.

__________________________________

Dulu pernah di posting di Kopikeliling dan yang tak posting di blog sendiri tak edit sedikit.

Selasa, 01 Maret 2016

Mengapa Bergabung di One Day One Post (ODOP)

Kali ini saya akan menulis tentang mengapa aku bergabung dengan One Day One Post (ODOP). Gerakan ini digagas oleh Bang Syaiha yang mana memperbolehkan siapa saja yang mau bergabung, asalkan mempunyai komitmen untuk menulis.

Setiap seminggu tantangannya berbeda-beda. Tantangan pada minggu pertama adalah menulis minimal 10 kalimat bebas. Dan dalam seminggu itu diwajibkan untuk memposting “Mengapa bergabung di ODOP” satu kali saja yang lainnnya bebas.

Awalnya saya menemukan ODOP gara-gara lihat di FB. Padahal jarang sekali membuka facebook. Tapi kalau sudah jodoh tidak akan kemana pasti akan bertemu. Hehehe iya berjodoh bertemu gerakan menulis setiap hari. Dengan begitu saya langsung memutuskan untuk bergabung. Apalagi semangat menulis saya masih males-malesan, kadang nulis kadang enggak. Mungkin dengan ikut bergabung dengan teman-teman yang sehobi dapat memacu semangatku untuk lebih giat dan mengembangkan keinginan menulis. Menulis kan juga butuh pembiasaan. Semoga aku bisa konsisten menulis terus.

#ODOP hari 2