Bagi orang seperti saya yang belum mempunyai kebiasaan menulis setiap hari memang sulit. Sulit untuk membiasakan menulis. Paling juga menulis sms, whatsapp, bbm dan sejenisnya. Atau mungkin hanya beberapa kalimat saja di tumblr atau twitter. Menulis panjang lebar kali tinggi sangat sulit sekali. Apalagi kalau ada temanya. Harus menulis ini itu, dan ditentukan jumlah halamannya. Mungkin kesalahannya ada pada amunisi yang akan ditulis. “Mau nulis apa?” batinku. “Udah menthok, mau gimana lagi”. Nulis ngawur aja juga bingung. Sebenarnya lagi bingung, kepikiran antara dadakan ganti judul + bikin proposal skripsi sama bikin naskah 10 halaman di KMO, oh ada lagi sama bikin laporan individu KKN. Omegott. Mala bingung gimana caranya ngerjain.
Oh yaa jadi inget sebelum KKN 1 bulan kemarin, aku punya target setelah kkn mau bikin aquascape buat nambah-nambah hiasan di kamar. Kan seneng tuh kalau ada warna ijo-ijo di kamar. Seger gitu rasanya. Aku mau berbagi cerita tentang aquascape yang aku bikin, sederhana saja tanpa CO2. Jadi, tanamannya pun yang rendah membutuhkan CO2. Bahannya yaitu:
1. Akuarium ukuran 60x40x30 cm
2. Pasir malang 2 wadah
3. Pasir putih 2 wadah kecil
4. Batu 4 buah
5. Pupuk dasar 2 bungkus
6. Kayu bakau 1 batang
7. Carpet seeds 1 wadah kecil
Langkah-langkahnya
1. Letakkan kayu bakau pada akuarium
2. Taburkan pupuk dasar, diratakan
3. Kemudian di atas pupuk dasar ratakan pasir malang
4. Lalu diatasnya lagi taburkan benih carpet seeds secara merata
5. Semprot-semprot air setiap sehari dua kali
6. Setelah semua benih tumbuh daun (sekitar 4 hari), masukkan air perlahan agar tidak merusak tanaman yang udah tumbuh
7. Jadilah
8. Tinggal dikasih ikan untuk mempercantik aquascape.
Jadinya seperti ini. Taraaaaaa…….
Sabtu, 17 September 2016
Sabtu, 10 September 2016
Ayo Sulap Sampahmu
Bismillah ...
Sampah mudah ditemui sehari-hari di sekitar lingkungan. Sampah sangat dekat dengan kehidupan manusia. Setiap harinya manusia pasti menghasilkan sampah. Setiap hari sampah yang dihasilkan manusia semakin bertambah, yang akhirnya akan berdampak menimbulkan masalah pada lingkungan. Diantaranya, pencemaran udara, air, tanah, sumber penyakit, penyumbatan aliran air, hingga mengganggu ekosistem air. Apalagi sekarang masalah sampah tidak hanya timbul di kota-kota besar, namun sampai pelosok desa pun sampah sudah menjadi permasalahan. Kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah masih kurang. Membuang sampah pada tempatnya saja masih sulit.
Sebenarnya apa sih sampah itu? Barang dagangan, makanan atau apa? Menurut KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia, sampah ialah barang atau benda atau limbah yang dibuang karena sudah tidak terpakai lagi.
Sampah apabila dikelola dengan baik akan bermanfaat bagi kita. Namun jika dibiarkan, apalagi dibuang sembarangan akan menyebabkan kerugian bagi pemiliknya bahkan orang lain. Dampak buruk dari sampah jika tidak dikelola dengan baik salah satunya sebagai sumber penyakit. Sampah bisa berupa dedaunan yang jatuh berguguran, hati yang terbuang (eebusyeett alay dah gue). Mending untuk mengetahui lebih jelasnya, sampah ini dapat dikategorikan 2 macam, yaitu sampah organik dan sampah anorganik.
A. Sampah Organik
Sampah organik ialah limbah yang dihasilkan dari sisa makhluk hidup (alam) misalna hewan, manusia, tumbuhan. Sampah organik termasuk sampah yang ramah lingkungan karena dapat diurai oleh bakteri secara alami dan berlangsung cepat. Misalnya sampah daun, kayu, cangkang telur, bangkai hewan, bangkai tumbuhan, sisa makanan, dll.
B. Sampah Anorganik
Sampah anorganik ialah limbah yang berasal dari sisa manusia yang sulit untuk diurai oleh bakteri, yang membutuhkan waktu lama agar dapat terurai. Misalnya limbah rumah tangga, plastik, botol kaleng, botol plastik, besi, kaca, kain dll.
Setelah dipaparkan sedikit tentang sampah, terus bagaimana sih cara mengatasinya? Yaa pasti harus mengurangi sampah. Sampah yang sekiranya dapat dimanfaatkan kembali harus dimanfaatkan. Cara efektifnya ialah dengan 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Replace).
A. Reduce (Mengurangi)
B. Reuse (Menggunakan Kembali)
C. Recycle (Mendaur Ulang)
D. Replace (Mengganti)
Sampah mudah ditemui sehari-hari di sekitar lingkungan. Sampah sangat dekat dengan kehidupan manusia. Setiap harinya manusia pasti menghasilkan sampah. Setiap hari sampah yang dihasilkan manusia semakin bertambah, yang akhirnya akan berdampak menimbulkan masalah pada lingkungan. Diantaranya, pencemaran udara, air, tanah, sumber penyakit, penyumbatan aliran air, hingga mengganggu ekosistem air. Apalagi sekarang masalah sampah tidak hanya timbul di kota-kota besar, namun sampai pelosok desa pun sampah sudah menjadi permasalahan. Kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah masih kurang. Membuang sampah pada tempatnya saja masih sulit.
Sebenarnya apa sih sampah itu? Barang dagangan, makanan atau apa? Menurut KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia, sampah ialah barang atau benda atau limbah yang dibuang karena sudah tidak terpakai lagi.
Sampah apabila dikelola dengan baik akan bermanfaat bagi kita. Namun jika dibiarkan, apalagi dibuang sembarangan akan menyebabkan kerugian bagi pemiliknya bahkan orang lain. Dampak buruk dari sampah jika tidak dikelola dengan baik salah satunya sebagai sumber penyakit. Sampah bisa berupa dedaunan yang jatuh berguguran, hati yang terbuang (eebusyeett alay dah gue). Mending untuk mengetahui lebih jelasnya, sampah ini dapat dikategorikan 2 macam, yaitu sampah organik dan sampah anorganik.
A. Sampah Organik
Sampah organik ialah limbah yang dihasilkan dari sisa makhluk hidup (alam) misalna hewan, manusia, tumbuhan. Sampah organik termasuk sampah yang ramah lingkungan karena dapat diurai oleh bakteri secara alami dan berlangsung cepat. Misalnya sampah daun, kayu, cangkang telur, bangkai hewan, bangkai tumbuhan, sisa makanan, dll.
B. Sampah Anorganik
Sampah anorganik ialah limbah yang berasal dari sisa manusia yang sulit untuk diurai oleh bakteri, yang membutuhkan waktu lama agar dapat terurai. Misalnya limbah rumah tangga, plastik, botol kaleng, botol plastik, besi, kaca, kain dll.
Setelah dipaparkan sedikit tentang sampah, terus bagaimana sih cara mengatasinya? Yaa pasti harus mengurangi sampah. Sampah yang sekiranya dapat dimanfaatkan kembali harus dimanfaatkan. Cara efektifnya ialah dengan 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Replace).
A. Reduce (Mengurangi)
B. Reuse (Menggunakan Kembali)
C. Recycle (Mendaur Ulang)
D. Replace (Mengganti)
Rabu, 07 September 2016
Strawberry Nyess
Pagi tadi aku melihat-lihat tanaman di depan rumah. Mencabuti rumput di sekitar tanaman stoberi. Tak sengaja ada merah-merah setelah ku lihat ternyata stoberinya berbuah. Kemudian ku pilah-pilah didedaunan ternyata berbunga sekitar 6 buah, yang belum matang 2 buah, dan satu buah sudah merah (tapi belum aku petik). Senang sekali melihat stoberinya berbuah. Sudah lama stoberi tidak berbuah setelah keseringan hujan. Benar kata temanku kalau saat musim hujan, stoberinya tidak akan berbunga.
Awalnya dulu aku dan teman-teman kelasku main ke Banjarnegara ke rumah salah satu teman kami, namanya Mukodah. Sering dipanggil oksom. Entah dari mana bisa keluar nama itu. Banjarnegara merupakan kawasan dataran tinggi. Suhunya lumayan dingin. Sejuk sekali rasanya main ke rumah Oksom. Di belakang rumah terhampar ladang-ladang sayuran yang tertata rapi. Ada sayuran wortel, kentang, dll. Sedap dipandang sambil menikmati sruputan kopi sedikit manis plus gorengan hangat. Mantap. Saking dinginnya membuat perutku mules. Seperti butuh adaptasi dengan suhu udara yang cukup dingin.
Di belakang halaman rumah Oksom ada sedikit luas tanah yang ditanami stoberi. Aku lihat-lihat dan menemukan stoberi yang masih setengah matang, tapi rasanya sudah manis. Bikin nagih. Dari situ aku berkeinginan untuk membawa pulang pohonnya untuk mencoba menanamnya di rumah.
Paginya aku dan teman-teman beranjak pulang. Aku bilang sama Oksom dan ibunya untuk minta ijin membawa pulang pohon stoberi. Aku membawa 3 batang stoberi tanpa tanah. Lalu dikasih ibunya Oksom 1 polibek yang berisi 2 batang stoberi. Senang sekali rasanya.
Sampai di rumah aku menanamnya di baskom yang sudah tidak terpakai. Lima batang stoberi aku jadikan satu tempat, tapi yang 1 polibek tetap aku biarkan bersama tanah aslinya. Setelah itu aku berikan di belakang rumah yang tidak terpampang matahari langsung. Aku berpikir, “di Banjarnegara kan udaranya sejuk, jadi kutaruh sini saja yang udaranya sejuk”. Setelah kurang lebih 2 pekan, pohon stroberinya mati yang ku bawa tanpa tanah. Dan masih tersisa 2 batang (yang ada tanah aslinya) tapi sudah kritis. Akhirnya 2 batang terakhir yang sudah kritis itu aku pindah ke depan rumah yang banyak mataharinya. Setelah itu justru pohon stroberynya kembali segar dan malah berkembang biak menjadi banyak sekali.
Sejak nikahan mbak Isti dibulan Mei sampai ditinggal KKN 1 bulan Agustus kemarin pohon stoberinya sebagian banyak yang mati. Dan tersisa sebagian lagi mala berbuah. Syukur Alhamdulillah.
Papringan Mergan, 6 September 2016
Awalnya dulu aku dan teman-teman kelasku main ke Banjarnegara ke rumah salah satu teman kami, namanya Mukodah. Sering dipanggil oksom. Entah dari mana bisa keluar nama itu. Banjarnegara merupakan kawasan dataran tinggi. Suhunya lumayan dingin. Sejuk sekali rasanya main ke rumah Oksom. Di belakang rumah terhampar ladang-ladang sayuran yang tertata rapi. Ada sayuran wortel, kentang, dll. Sedap dipandang sambil menikmati sruputan kopi sedikit manis plus gorengan hangat. Mantap. Saking dinginnya membuat perutku mules. Seperti butuh adaptasi dengan suhu udara yang cukup dingin.
Di belakang halaman rumah Oksom ada sedikit luas tanah yang ditanami stoberi. Aku lihat-lihat dan menemukan stoberi yang masih setengah matang, tapi rasanya sudah manis. Bikin nagih. Dari situ aku berkeinginan untuk membawa pulang pohonnya untuk mencoba menanamnya di rumah.
Paginya aku dan teman-teman beranjak pulang. Aku bilang sama Oksom dan ibunya untuk minta ijin membawa pulang pohon stoberi. Aku membawa 3 batang stoberi tanpa tanah. Lalu dikasih ibunya Oksom 1 polibek yang berisi 2 batang stoberi. Senang sekali rasanya.
Sampai di rumah aku menanamnya di baskom yang sudah tidak terpakai. Lima batang stoberi aku jadikan satu tempat, tapi yang 1 polibek tetap aku biarkan bersama tanah aslinya. Setelah itu aku berikan di belakang rumah yang tidak terpampang matahari langsung. Aku berpikir, “di Banjarnegara kan udaranya sejuk, jadi kutaruh sini saja yang udaranya sejuk”. Setelah kurang lebih 2 pekan, pohon stroberinya mati yang ku bawa tanpa tanah. Dan masih tersisa 2 batang (yang ada tanah aslinya) tapi sudah kritis. Akhirnya 2 batang terakhir yang sudah kritis itu aku pindah ke depan rumah yang banyak mataharinya. Setelah itu justru pohon stroberynya kembali segar dan malah berkembang biak menjadi banyak sekali.
Sejak nikahan mbak Isti dibulan Mei sampai ditinggal KKN 1 bulan Agustus kemarin pohon stoberinya sebagian banyak yang mati. Dan tersisa sebagian lagi mala berbuah. Syukur Alhamdulillah.
Papringan Mergan, 6 September 2016
Jumat, 02 September 2016
Daftar Isi
Bismillah...
Daftar Isi
Yang lalu ......................................
Mengejar-ngejar Senja ..........................
Setelah Beranjak Dewasa ........................
Pergi ke Kota ..................................
Main ke Taman Kota .............................
Puncak .........................................
Daftar Isi
Yang lalu ......................................
Mengejar-ngejar Senja ..........................
Setelah Beranjak Dewasa ........................
Pergi ke Kota ..................................
Main ke Taman Kota .............................
Puncak .........................................
Kenapa Aku Pingin Menulis?
Saat aku ditanya “kenapa aku ingin menulis?” aku bingung untuk menjawabnya. Tapi, aku ingat ketika aku kecil dulu, aku pernah bercita-cita sebagai seorang jurnalis. Berawal dari ketika sering menonton tv banyak berita-berita yang menceritakan suatu peristiwa. Dari situ menarik saat seorang wartawan bisa pergi ke tempat-tempat baru. Pikirku dulu. Seiring bertambahnya umur aku bergonta-ganti cita-cita sebagai polwan, guru, dll. Dan kini aku sudah bisa dibilang besar. Setelah aku kuliah, keinginan untuk menulis kembali muncul. Aku menulis untuk mengukir sejarah, meninggal jejak cerita disetiap aku berpijak. Karena, akan ada cerita disetiap pijakan kaki.
Saat aku ingin menulis, godaan banyak sekali. Entah HP, ngantuk atau apapun. Tapi yang paling berat ialah handphone. Niatnya hanya ingin buka hp sebentar, cuma buka bbm, tutup bbm, buka IG, tutup IG buka line, gitu aja terus sampai keinginan menulis pun hilang. Endingnya gak jadi nulis.
“Terus sebenarnya kamu itu nulis buat apa? “, dalam batinku. Sebenarnya aku masih bingung aku itu nulis buat apa, entah bujukan dari mana seperti ada bisikan kalau aku pingin menulis. Menulis untuk mengalahkan rasa malu ku. Aku masih malu ketika apa yang aku buat, apa yang aku tulis, apa yang aku lakukan itu dilihat orang lain. Aku takut kalau aku salah. Aku takut dikritik. Terlalu banyak alasan memang. Perlahan kuharap pasti, aku berusaha mengalahkan rasa malu yang ku miliki.
Aku pingin tulisanku dapat menginspirasi orang-orang, dapat bermanfaat pastinya. Maka, aku harus terus belajar memperbaiki. Aku ingin meninggalkan jejak dalam setiap langkah. Dengan cara menulis setiap perjalanan yang ku lalui, setiap waktu yang kurasakan. Menulislah selama kamu bisa. Kalahkan rasa malasmu untuk menjadi lebih baik.
Saat aku ingin menulis, godaan banyak sekali. Entah HP, ngantuk atau apapun. Tapi yang paling berat ialah handphone. Niatnya hanya ingin buka hp sebentar, cuma buka bbm, tutup bbm, buka IG, tutup IG buka line, gitu aja terus sampai keinginan menulis pun hilang. Endingnya gak jadi nulis.
“Terus sebenarnya kamu itu nulis buat apa? “, dalam batinku. Sebenarnya aku masih bingung aku itu nulis buat apa, entah bujukan dari mana seperti ada bisikan kalau aku pingin menulis. Menulis untuk mengalahkan rasa malu ku. Aku masih malu ketika apa yang aku buat, apa yang aku tulis, apa yang aku lakukan itu dilihat orang lain. Aku takut kalau aku salah. Aku takut dikritik. Terlalu banyak alasan memang. Perlahan kuharap pasti, aku berusaha mengalahkan rasa malu yang ku miliki.
Aku pingin tulisanku dapat menginspirasi orang-orang, dapat bermanfaat pastinya. Maka, aku harus terus belajar memperbaiki. Aku ingin meninggalkan jejak dalam setiap langkah. Dengan cara menulis setiap perjalanan yang ku lalui, setiap waktu yang kurasakan. Menulislah selama kamu bisa. Kalahkan rasa malasmu untuk menjadi lebih baik.
Langganan:
Komentar (Atom)


