Selasa, 22 Maret 2016

Belajar dari Prof. Haikal

Berawal dari semester 1 di perkuliahan ketika di ajar oleh seorang dosen yang luar biasa. Aku sebut luar biasa karena dosen ini berbeda dengan dosen-dosenku yang lain. Beda style-nya, gaya ngajar, tugas, dan sebagainya. Beliau adalah Prof. Dr. Husain Haikal, MA. Gaya beliau dalam berpakaian sederhana sekali. Dalam mengajar beliau menyuruh mahasiswanya untuk membedah jurnal yang terkait dengan mata kuliah. Sering kali saya mengeluh karena revisi terus. Bagi teman-teman yang tidak tertarik dengan gaya mengajarnya menyerah sebelum nilai keluar. Namun saya ingin berjuang sampai akhir. Saya pun tidak mau terlambat mengumpulkannya, karena bisa-bisa mendapat denda disuruh bikin lagi dari awal.

Suatu ketika saya lupa membawa tugas dari Pak Haikal. Kemudian saya bela-belain pulang ke rumah. Jarak antara rumah dan kampus lumayan jauh ± 20 km. Untung saja mengumpulkan jurnalnya siang, jadi setelah jam pertama kuliah saya pulang untuk mengambilnya dan balik ke kampus lagi. Pikir saya waktu itu, saya gak boleh menyerah di tengah jalan yang sudah saya pilih sebelum mengetahui akhirnya bagaimana. Rugi kan kalau harus mengulang semester depan, membuang-buang waktu saja. Toh bisa buat mengambil mata kuliah lain dari pada harus mengulang. Pelajaran yang dapat saya ambil dari Pak Haikal adalah mengajarkan kerja keras. Meskipun di belakang saya nggerundel, tapi saya harus tetap mengerjakan sampai selesai.

Suatu saat saya ingin mengikuti workshop kepenulisan yang diadakan dekanat bekerja sama dengan Kompas. Padahal ada kelas Pak Haikal. Setiap ada kelas berarti waktunya juga mengumpulkan tugas jurnal. Karena saya ingin sekali mengikuti dua-duanya saya harus segera menyelesaikan jurnal. Tidak apa-apalah telat workshop dari Kompasnya. Tapi Allah tidak mengijinkan kalau saya terlambat. Kelas Pak Haikal selesai lebih cepat, jadi saya bisa langsung ke dekanat untuk mengikuti workshop. Alhamdulillah kalau ada kemauan pasti ada jalan.

Selama 2 hari saya mengikuti workshop ini. Dalam workshop ini saya diajari tentang lay out berita, wawancara, design, dan semua hal yang menyangkut tentang berita. Kemudian bagi kelompok untuk langsung terjun ke lapangan untuk membuat berita 2 lembar halaman. Saya dan teman-teman terjun langsung ke lapangan untuk membuat berita. Waktu itu kami dibekali uang Rp. 100. 000,00 untuk mencetaknya selebar koran.

Banyak pengalaman yang saya dapatkan dari workshop itu. Saya bisa belajar wawancara dengan orang yang baru saya kenal. Memberanikan diri untuk berkomunikasi dengan orang baru, yang mana pada dasarnya saya ini pemalu. Jadi saya sekalian belajar menguatkan mental. Hehehehee.

1 komentar:

  1. Janah aku baca tulisan mu,, heheh
    Jadi inget alm. Pak Haikal, jaman"nya dulu kita berburu jurnal sama belajar bikin berita dari kompas,,,,

    BalasHapus