Selasa, 22 Maret 2016

Kisah Jen dan Ani

Rintik hujan mulai turun. Sedap harum tanah membangkitkan gairah. Semakin lama semakin deras mengguyur tanah menenggelamkan bau sedap itu. Aku termenung di bawah pohon rindang. Menikmati hujan yang selalu membawa rindu. Aku termenung sendiri menikmati suasana hingga bajuku sedikit basah terkena cipratan hujan. Dingin semakin merasuki tubuh. Aku tetap menikmatinya.

“heii.. Kenapa kamu melamun An?”

Tiba-tiba Jeni datang mengagetkan Ani yang sedang melamun di bawah pohon. Membawa payung kesayangannya yang bergambar Masya and The Bear. Meskipun sudah besar, tapi Jeni suka sekali dengan gambar Masya and The Bear.

“Kamu Jen, merusak lamunanku saja”.

“Kamu sih aku cari di sana sini gak ada. Ternyata sedang bertapa di bawah pohon beringin. Sudah dapat wangsit apa kau”, celetuk Jeni dengan gaya ceplas-ceplosnya.

“Enak aja cari wangsit. Emangnya kamu yang sedang bingung cari pacar.” Hahahha Ani tertawa ganti mengejek Jeni.

Jeni hanya nyengir ketika Ani gantian mengejeknya. Jeni memang orangnya suka bercanda, tapi ketika gentian di ejek Jeni hanya nyengir. Persahabatan mereka memang sudah sejak kecil. Jadi mereka tau kelebihan dan kekurangan masing-masing meskipun terkadang ada pertengkaran kecil. Dalam persahabatan pertengkaran adalah bumbu dalam persahabatan.

“Kamu sedang melamunkan apa An, sepertinya sedang seru sekali sampai-sampai aku melihat kamu senyum-senyum sendiri. Hayooo kamu nglamunin apa?”
“Tau gak Jen, kalau hujan begini aku suka menikmatinya di bawah pohon rindang, terus suasananya ini lho bikin aku tenang. Jadi teringat waktu kecil kita dulu suka lari-larian bareng pas hujan. Kalau ada salah satu dari kita yang jatuh terpeleset mala kita tertawa semua. Kamu ingat kan Jen?” Ani terus melanjutkan ceritanya.


sumber: Google

“Kalau turun hujan mesti kita hujan-hujanan. Tapi gak boleh mama tau. Kalau sampai mama tau pasti kita dimarahin. Apa lagi mama kamu Jen yang galak banget. Hehehe”

Tanpa tersadar Ani meneteskan air matanya, mengenang masa kecilnya dulu yang terasa tanpa beban. Sambil memandang jauh hujan-hujan itu. Kemudian Ani menoleh pada Jeni.

“Kamu ingat kan Jen? Kamu ingat kan?” sambil menyentuh tangan Jeni, lalu Jeni menggeleng-geleng tak mengingatnya. Keadaan itu semakin membuat Ani menangis. Karena Ani tau kalau Jeni beberapa bulan yang lalu mengalami kecelakaan hebat hingga menyebabkan ayahnya meninggal dan Jeni terkena Amnesia.

Ani semakin erat memeluk Jeni sahabat kecilnya. Kemudian mereka menangis bersama.

Tanpa di sadari seiring air mata lelah membasahi pipi, hujan pun turun seiring takdir yang menghentikannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar