Rabu, 02 Maret 2016

Kuseduh Secangkir Kopi Lereng Merapi

Siapa yang tidak mengenal bubuk coklat kehitaman yang pas diseduh dengan air panas? Siapapun sudah mengenalnya. Minuman berwarna coklat kehitaman dengan aroma yang khas ini membawa saya untuk menikmati kopi di lereng Merapi. Tidak heran jika saya menyempatkan pergi setelah kuliah untuk menikmati secangkir kopi lereng Merapi ditemani semilir angin dan senja. Secangkir kopi ditambah dengan pisang goreng menambah kenikmatan. Suasana yang sia-sia apabila dilewatkan begitu saja tanpa bercumbu dengan angin malam.

Sore itu setelah selesai kuliah saya dan teman pergi ke lereng Merapi. Tujuan utamanya adalah mendatangi kedai kopi yang berada di Desa Wisata Petung Desa Kepuharjo Cangkringan (dibawah rumah Alm Mbah Maridjan). Apabila akan menuju museum sisa hartaku akan melewati kedai kopi ini. Kedai kopi ini bernama “Kedai Kopi Merapi” satu-satunya di daerah tersebut. Kedai ini dikelola oleh Ibu Sukirah (41 tahun). Kedai yang buka dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam ini menyediakan kopi arabika dan robusta. Akan tetapi untuk mencapai kedai kopi ini harus melewati jalan yang belum beraspal sekitar hampir 2 km. Jalan ini cocok sekali dilewati para pengguna motor trail dan mobil jeep. Setelah sampai tempat tujuan, pengunjung akan disuguhi warung sederhana yang dipadu padankan dengan pemandangan khas lereng Merapi.

Kedai kopi ini dibangun setelah erupsi Merapi tepatnya pada tahun 2013. Di kedai ini selain mendapatkan pemandangan Gunung Merapi di sebelah utara, pengunjung juga mendapatkan pemandangan kota Jogja. Tidak hanya itu pengunjung juga disuguhi kedai khas ndeso yang dihiasi batu-batuan besar bekas erupsi Merapi. Ketika malam hari yang cerah bintang bertaburan disertai suara hewan malam seperti jangkrik. Kedai ini cocok bagi pengunjung yang bosan dengan rutinitas di kota. Ketika langit cerah kegagahan Merapi akan terlihat jelas. Letak yang strategis untuk menikmati kopi hingga malam hari.

Kopi yang disuguhkan disini asli berasal dari lereng Merapi dan ditanam oleh para petani sendiri. Para petani kopi mendirikan koperasi yang diketuai oleh suami Ibu Sukirah. Koperasinya sendiri berada di Jalan Kaliurang km. 20. Awalnya ibu Sukirah mengolah sendiri biji-biji kopinya. Setelah adanya koperasi Ibu Sukirah mengolahnya di koperasi bersama anggota kelompok. Anggota koperasi ini sering mengikuti pameran dikota untuk mempromosikan kopi Merapi. Selain itu hasil kopi-kopi olahan tersebut dipasarkan di café-café hingga ke luar daerah. Meskipun kopi-kopinya diolah oleh kelompok koperasi, kedai kopi ini dikelola sendiri oleh Ibu Sukirah (milik pribadi). Akan tetapi Ibu Sukirah tinggal dirumah muntab tempat relokasi korban erupsi Merapi.

Hal yang membedakan kopi Merapi dengan kopi lainnya adalah asli dari lereng Merapi yang ditanam menggunakan pupuk organik bekas erupsi abu Merapi. Cara menghaluskannya pun masih dengan cara sederhana dengan ditumbuk menggunakan lumpang dan kemudian disangrai. Tak heran jika kopi Merapi memiliki kenikmatan tersendiri bagi para pecinta kopi.

Kebanyakan pengunjung yang datang kesini adalah mahasiswa, keluarga dan rombongan wisatawan. Kalau pas hari biasa pengunjung kebanyakan mahasiswa. Tempat ini cocok untuk melepas penat ketika wisatawan sudah menikmati area wisata Kaliurang. Setiap pengunjung akan memiliki cerita tersendiri di sudut utara kota Jogja. Banyak pengunjung yang memang menyempatkan datang kesini. Romantisme pemandangan serta kegagahan Merapi akan meninggalkan kesan tersendiri bagi pengunjung. Menikmati setiap srutupan kopi Merapi langsung oleh penanamnya dengan semilir angin lereng Merapi meninggalkan kenikmatan tersendiri bagi para pecintanya. Siapapun pengunjung akan ketagihan untuk datang kembali.

__________________________________

Dulu pernah di posting di Kopikeliling dan yang tak posting di blog sendiri tak edit sedikit.

8 komentar:

  1. Jadi pingin ngopi kesana ...
    Keren kak bahasa tulisanya.

    BalasHapus
  2. Nitip kopinya satu mba nurjannah. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih enak kalau menikmati langsung lho mbak hehe.

      Hapus
  3. Kapan-kapan aku di ajak ke Merapi mba Jannah, sekalian naik-naik ke puncak gunung :D

    Rapi dan runtut tulisannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa boleh-boleh. Asyik banget lho bakalan ketagihan hehe. Terimakasih mbak inet udah mampir.

      Hapus
  4. Aku ajak jga donk kak.. Ngopi di Merapi.. Hihi

    BalasHapus