“Pak kanan pak”, gerutu si penumpang becak.
“Bapak ini kalau lagi gak enak badan mending istirahat di rumah saja. Ditanjakan seperti ini saja sudah kelelahan,” omel eneng penumpang becak.
“Kalau saya istirahat di rumah dan gak jerja, nanti keluarga saya mau makan apa neng”. Saya ini satu-satunya tulang punggung di rumah saya.”
“Daripada mengecewakan pelanggan to, mending gak usah narik”.
Wanita itu terus memojokkan bapak-bapak setengah baya itu. Seakan-akan letak kesalahan itu hanya pada tukang becak. Wanita itu melepaskan emosinya kepada tukang becak, karena sebelumnya wanita itu diturunkan di jalan oleh pacarnya karena berbeda pendapat. Alhasil tukang becak yang sedang lewat pun menjadi pelampiasan.
“Neng, kalau sedang marahan dengan pacarnya jangan terus melampiaskan kekesalan eneng kepada orang disekitar eneng”, keluh si bapak tukang becak.
“Kok bapak tau”, dengan tampang malu dan merasa bersalah.
“Lha wong tadi saya di belakang eneng, waktu eneng diturunkan di jalan tadi. Bapak sempat mendengarkan percekcokan eneng dan pacar eneng.”
“Bapak gak maksud nguping, tapi memang kedengaran. Mungkin dari jarak 100 meter bisa kedengaran, kalian saja teriak-teriak”, tambah bapak itu sebelum eneng itu menimpali.
Wanita itu semakin tak bisa berkata-kata karena malu melihat tingkahnya sendiri.
Kasihan si eneng. Tapi panggilannya si eneng knp berubsh rubah ya, dari sebutan gadis, perempuan setengah baya, lalu wanita. Aku kok bayangin tokoh si eneng jadi bingung ya. Hehe.... siip mbk jannah
BalasHapusmakasih mbak juni atas masukannya. :)
HapusKasihan si eneng. Tapi panggilannya si eneng knp berubsh rubah ya, dari sebutan gadis, perempuan setengah baya, lalu wanita. Aku kok bayangin tokoh si eneng jadi bingung ya. Hehe.... siip mbk jannah
BalasHapuswahh... kasihan sama tukang becaknya :(
BalasHapussyukurlah nasihat sibapak bisa menyadarkan si eneng
trimasih mbk khofiya..
Hapuskasihan si bapk..diomelin .
BalasHapuskasihan si bapk..diomelin .
BalasHapusHaha..bagus.
BalasHapus