Hujan reda sebentar dan kembali turun deras.
“An, kamu mau gak kalau kita hujan-hujanan sekarang?” dengan perasaan merasa bersalah karena tidak bisa mengingat-ingat masa kecilnya. Mungkin dengan mengajak Ani hujan-hujanan, Jeni dapat menebus rasa bersalahnya.
“Kamu tidak bercanda kan Jen? Apa kamu tidak malu Jen, kita kan udah besar?” Ani memastikan kalau kalau tawarannya itu tidak main-main.
“Iya Ani ku sayang, kamu mau kan???
“Pasti mau dong!!!” Ani antusias langsung menarik tangan Jeni.
Mereka lari-lari di tengah hujan yang semakin deras. Jeni dan Ani tidak memperdulikan orang-orang yang heran melihat dua gadis ABG itu hujan-hujanan. Beberapa saat kemudian Jeni terdiam menunduk seperti sedang merasakan sesuatu. Lalu Ani mendekati Jeni.
“Kamu tidak apa-apa kan Jen?” Dengan perasaan khawatir Ani mendekati Jeni. Kemudian Ani merangkul Jeni untuk di bawa pulang ke rumah Ani.
“Kalian dari mana saja kok basah begitu? Sebentar mama ambilkan handuk.”
“Kalian langsung mandi saja nanti mama antarkan baju dan handuknya ke kamar mandi. Nanti Jeni pakai bajunya Ani dulu yaa.”
“Iya tante.” Jawab Jeni.
Sambil menunggu Ani dan Jeni selesai mandi. Mama Utami membuatkan susu putih hangat dan sup ayam kampung. Mama Utami suka sekali masak. Ia adalah seorang ibu yang penuh kasih sayang. Jeni sudah dianggapnya sebagai anak sendiri. Setelah menyiapkan sup ayam dan susu putih hangat Mama Utami memanggil Ani dan Jeni untuk segera makan.
“Aniiiii….”
“Jeniiii…. Kalian mandi kok lama sekali, kalian ngapain di kamar?” Ani dan Jeni mala keasyikan ngobrol di kamar setelah mandi. Meskipun rumah mereka hanya berjarak 300 meter, tapi mereka jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Ani dan Jeni berbeda sekolah. Moment itu mereka manfaatkan untuk sharing-sharing menceritakan hal-hal konyol yang mereka alami.
“Tok.. Tok.. Tokk” Mama Utami mengetok kamar Ani.
“Iya Maa masuk aja gak dikunci kok Ma.”
“Mama udah buatin kalian susu putih hangat dan sup ayam kampung. Mumpung masih hangat cepat kalian habiskan. Udah Mama tunggu di meja makan kalian mala gak turun-turun.”
“Maaf mamaku sayang, kita mala keasikan curhat tadi. Maklum kita kan jarang ketemu beberapa bulan terakhir ini.” Ani sedikit merayu mamanya.
“Yaudah cepat turun, keburu dingin gak enak nanti.”
“Iya tante.”
Ani, Jeni dan Mama Utami kemudian turun untuk segera makan bersama.
Ditunggu part 3 yah hehe
BalasHapuskayaknya udah mau berhenti aja deh bang gilang :D
HapusIni karya sendiri apa ngerangkum punya orang sih
BalasHapusinsaallah karya sendiri hehe
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapushmm... cari part 1-nya ah...
BalasHapushaha iya mbak ditunggu krisannya, makasih udah mampir
Hapus