Rabu, 09 Maret 2016
Sepucuk Kasih di Jembatan Kuning
“Ann.. handphone-nya bunyi”, teriak April kakak Ani.
“Yaa bentar”, sambung Ani dari kamar mandi.
Ternyata ada pesan dari Dita kalau Ani diajak mengerjakan tugas kelompok sekaligus berburu durian. Durian, leh uga nih. Gumam Ani. Ani tertarik untuk ikut karena iming-iming duriannya bukan untuk mengerjakan tugas.
“Oke, ntar gue nyusul Dit”, balas Ani.
Ani segera bersiap-siap mandi, ganti baju langseng berangkat. Ani memang jarang dandan, dia adalah orang yang gak PD kalau harus menggunakan make up kecuali kalau didandani pas ada acara tertentu.
Sekitar pukul 10 Ani berangkat.
Ani memilih menggunakan jalan yang pada waktu itu dia pernah bersepeda bareng Ian. Menelusuri jalan itu membuat Ani ingin kembali bersepeda sama Ian. Jalan itu mengingatkan canda tawa dan banyolan Ian. Ian memang orang yang humoris, suka bercanda. Terkadang candanya ini bikin baper. Hehe. Ani juga bukan seorang yang mudah baper, tapi kalau lagi sama Ian, hmmm baperannya parah. Tapi Ani tetap mencoba stay cool.
Setiap centi perjalanan, hanya membuat Ani semakin rindu untuk bertemu dengan Ian lagi. Ani sudah lama tidak bertemu dengan Ian karena kesibukan masing-masing. Setiap centi perjalanan hanya mengisahkan tawa yang terekam jelas dalam benak Ani.
Kalau jalanan sepi Ani pasti menambah kecepatan motornya. Tapi bukan untuk jalan satu ini. Sepanjang jalan ini Ani ingin menikmatinya, apalagi memang pemandangannya bagus. Sawah-sawah yang sedang hijau-hijaunya berlatar belakang pegunungan yang hijau pula.
Ani sadar kalau sekarang pertemanan dengan Ian sedang renggang karena sedang sibuk. Mungkin memang Ian sedang sibuk bekerja, atau ada perempuan lain yang sudah membuat Ian terpana, ahh semoga saja tidak.
Tiba-tiba pikiran itu muncul disela-sela bayangan indah pada Ian. Ani pun hanya menerka-nerka, karena memang Ani takut untuk menghubungi duluan.
Setiap seseorang yang hadir dalam hidup, aka nada porsi sendiri, cerita tersendiri, entah meninggalkan bahagia atau luka, atau akan hidup bersama kenangan itu.
Melewati Jembatan Kuning itu Ani dan Ian pernah menikmati senja dan fajar bersama. Setiap bersepeda pasti berhenti di Jembatan Kuning.
Senja membawa Ani tenggelam dalam pelukan mentari. Mentari seakan ikut menenggelamkan mimpi-mimpi bersama Ian. Tapi Ian juga memberi harapan bersama terbitnya mentari pagi. Lalu mentari terbangun bersama pesona dan wangi tubuhnya. Mentari memberi harapan memulai hari dengan doa dan harapan serta senyuman.
Teringat senyuman itu membuat Ani teringat lagi. Ahh aku ini apa, aku ini hanya seperti pungguk merindukan bulan. Aku ini apa. Rasa pesimis itu mulai menghinggapi pikiran Ani.
Tiba-tiba tersadar kalau rumah Indro sudah dekat.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar