Selasa, 15 Maret 2016

Resensi: Di Balik Novel Tiga Sandera Terakhir

Novel yang terinspirasi dari peristiwa-peristiwa nyata menjadi hal yang menarik bagi saya. Hal ini membuat saya mudah untuk memahaminya. Apalagi novel yang berkaitan dengan konflik berdarah akan sangat menarik lagi. Hal ini terdapat pada novel karya Brahmanto Anindito dalam karyanya yang berjudul “Tiga Sandera Terakhir”. Seperti yang diungkapkan oleh Salman Aristo seorang penulis skenario Ayat-ayat Cinta, Laskar Pelangi dan Garuda di Dadaku, novel yang berani. Saya sependapat dengannya karena novel ini terinspiasi dari konflik berdarah di Timur Indonesia yaitu di Papua.
Novel ini murni fiksi dan alurnya pun juga fiksi, namun yang menarik adalah bagaimana penulis membuat alur cerita yang membuat saya penasaran hingga akhir cerita.



Penyanderaan yang terjadi di sebuah desa di Papua. Berawal dari anggota Organisasi Papua Merdeka OPM yang datang Penginapan “Mama Kasih” dan membuat kekacuan di situ. Kedatangan anggota OPM ini berakhir dengan membawa penghuni penginapan Mama Kasih sebagai sandera. Korban sandera berjumlah lima orang dari warga Negara Indonesia, Australia, dan Perancis.

Banyak yang menuduh peristiwa ini terjadi akibat ulah OPM, namun OPM sendiri menyangkalnya. Mereka menegaskan bahwa pihaknya sudah lama tidak menggunakan cara-cara kekerasan untuk memperjuangkan Papua Barat.

Jadi siapa sebenarnya yang menjadi dalang dari peristiwa penyanderaan itu? Bagaimana strategi TNI dalam penyanderaan? Mendengar kejadian ini, TNI bergegas untuk segera melakukan pembebasan yang dipimpin oleh Kolonel Larung Nusa yang merupakan bagian dari Satuan Antiteror Kopassus. Banyak kendala yang dialami oleh para TNI, dari kondisi geografisnya yang berbeda jauh dari Jawa.

Dalam proses pembebasan sandera, terdapat korban sipil yang terkena peluru nyasar. Kemudian korban dari OPM sendiri, namun sayangnya korban jatuh juga dialami oleh anggota TNI yaitu Sertu Anam. Awalnya Sertu Anam dikira jatuh ke jurang dan sudah meninggal, jenazahnya tidak ditemukan.
Pagi harinya Mayor Abassia atasan Larung Nusa mendapatkan video penyiksaan Sertu Anam. Tambah satu lagi masalah yang harus diselesaikan TNI. Kemudian TNI membentuk satuan khusus yang bernama Pasukan Hantu. Pasukan Hantu ini dipimpin oleh Larung Nusa dan orang-orang eks-TNI, eks-Kopassus. Dinamakan Pasukan Hantu karena apabila operasi ini gagal orang-orang ini tidak mendapat pengangkatan jabatan, dan apabila orang-orang ini mati tidak dimakamkan secara milliter atau mendapat penghargaan. Orang-orang ini berasal dari bekas anggota TNI atau Kopassus yang di berhentikan secara tidak terhormat karena berbagai alasan.

2 komentar:

  1. Suka sama cerita yang berbau kayak gini. :D

    Moga-moga ntar bisa baca.

    BalasHapus
  2. pembaca bisa ikut deg-degan mbak :)

    BalasHapus