Takut, malu, pesimis, merupakan bayangan yang aku rasakan ketika ingin menuangkan ideku dalam bentuk tulisan. Takut apabila orang mengkritik pedas, dicemooh, di jugde hingga aku sendiri takut keluar dari zona nyaman. Mungkin saja aku terlalu keenakan dengan zonaku, rasanya seperti tidak ada yang bisa aku banggakan. Aku merasa hidupku hanya monoton saja. Kalau diibaratkan kertas, tidak ada coretannya, dan tidak mau untuk dicorat-coret. Tetap dibiarkan bersih.
Pada suatu ketika aku berkeinginan untuk keluar dari zona itu. Aku ingin belajar menulis. Aku ingin memerdekakan diriku sendiri. Mengungkapkan apa yang ingin aku ungkapkan. Percuma saja punya ide brilian tapi hanya disimpan sendiri.
Awalnya aku ikut latihan kepenulisan di awal-awal semester. Yang aku dapatkan dari latihan kepenulisan hanyalah sertifikat. Menurutku hal itu percuma saja karena tidak membangkitkan semangat untuk menulis. Terlalu banyak teori, tapi prakteknya tidak ada. Akhirnya aku diajak temenku main ke warung kopi diajak wawancara sekalian nanti belajar buat nulis. Ternyata menulis itu enak kalau langsung praktek, jadi kalau ada kesulitan bisa ditanyakan atau mungkin dengan mengikuti workshop.
Ketika menulis kemudian diupload di media sosial banyak tanggapan positif yang memacu semangatku. Mendapat kritik dan saran rasanya senang sekali, berarti mereka peduli denganku, tidak seperti yang aku takutkan sebelum aku mencobanya. Dari itu aku belajar untuk tidak takut sebelum mencoba, apalagi menyerah sebelum berperang.
The same case with me,,,
BalasHapusAlhamdulillah, akhirnya kita bisa menulis y...
Iya mbak, ternyata menulis itu asyik. Terima kasih mbk sudah mampir :)
HapusNulis aja mba, menulis dengan merdeka.
BalasHapus